
*** Chapter 97***
"Oh iya kak Jin, dia kan sudah dua hari diculik juga, kak."
"APA?! JIN DICULIK?!" Pekik Ratu dengan paniknya.
"Tenang kak, tenang. Tadi kan barusan kamu bilang tenang jangan panik, kenapa sekarang gantian kakak yang panik sih?"
Rania menarik lengan Ratu agar kembali duduk.
"Ini menyangkut Jin, gimana bisa tenang, duh aku harus segera ketemu sama pak polisi nih."
"Tapi kak..."
Ucapan Rania tertahan karena Ratu pergi begitu saja meninggalkan gadis itu di kamarnya.
***
Wira tiba di sebuah gudang tua yang menjadi tempat penyekapan para sanderanya. Lelaki itu memerintahkan kedua penjaga berbadan kejar itu untuk membopong tubuh Tia dan Setta ke dalam.
"Sayang, kamu harus mereka ya, aku jemput ayahmu dulu," ucap Wira.
"Lho kirain ayah udah sampai sini, oke tenang aja kalau gitu biar aku urus mereka," sahutnya.
"Pih, bangun pih!"
Nyonya Lani mengguncang tubuh suaminya yang tertidur pulas.
Jin juga ikut terbangun, namun karena kondisinya yang lemah ia hanya bisa membuka kelopak matanya berusaha melihat apa yang sedang terjadi di luar selnya.
"Yang ini biar sampai sini saja!" Sarah menunjuk ke arah Setta.
Pria kekar berambut panjang itu menurunkan Setta dari gendongannya. Sementara tubuh Tia di letakkan oleh temannya yang satu lagi di sebuah kursi dan mengikatnya kuat.
Sarah menyentuh wajah Setta dengan ujung sandal selopnya.
"Hmmm... Masih pulas ya?"
Kemudian Sarah mengikat kaki Setta dan menggantungnya dengan posisi terbalik.
"Keren... kau akan menjadi mahakarya pertamaku kali ini," lirih Sarah sambil mengamati tubuh Setta.
"Set-Setta..." Jin berusaha untuk bangkit. Tujuannya hanya ingin menolong gadis itu, akan tetapi tubuhnya begitu lemah untuk dia gerakan.
"Itu Setta pih, sahabatnya Rania," ucap Nyonya Lani dengan nada berbisik pada suaminya.
"Lalu dimana Rania?" tanya pak Sahrudin.
__ADS_1
"Enggak ada pih, cuma ada mereka."
"Itu kan..."
Tenggorokan pak walikota langsung terasa tercekat saat melihat Tia duduk terikat di sebuah kursi kayu itu. Matanya terbelalak saat melihat gadis yang sangat ingin ia jadikan wanita simpanannya kini hadir di hadapannya.
"Kenapa pih?" Nyonya Lani menepuk pelan bahu suaminya itu.
"Bukan apa-apa mih."
***
Nathan pergi ke kantor polisi tempat ia bekerja tapi tak juga ia temukan Gibran. Kapten Ghani memberi perintah pada Gibran untuk memimpin operasi tangkap tangan para geng narkoba di sebuah apartemen mewah di ibukota.
"Malam pak, ada laporan penculikan di Jalan Kenanga. Barusan ketua RT melapor ke sini. Dan kenapa saya langsung beritahukan ini ke bapak karena..."
"Kenapa Wan?" Nathan menepuk bahu Ridwan.
"Gadis yang di culik ini bernama Setta."
"APA...?! Kamu yakin, Wan?"
"Saya yakin pak, dan seorang gadis bernama Rania yang melaporkan penculikan ini. Sekarang Rania di rumah pak RT."
"Kita segera kesana!"
***
"Kurang ajar! jadi selama ini Sarah memanfaatkanku," ucap Nathan dengan geram seraya mengepalkan tangannya.
"Kita geledah rumah Sarah!" Nathan memberi perintah pada Ridwan.
Sambil terisak Rania menghentikan langkah Nathan, "Bang... tolong bawa Setta pulang."
Nathan menoleh ke arah Rania dan mengangguk. Mobil polisi itu melaju ke arah rumah Rania. Dalam perjalanan Nathan berusaha menghubungi Gibran, namun tak ada jawaban di sana.
"Masa ponsel Gibran mati sih," gumam Nathan mengetuk ujung ponsel itu di dagunya.
Sampai di kediaman Sarah, para polisi muda itu menggeledah rumah tersebut. Nathan sampai pada bingkai foto keluarga milik Sarah.
"Astagfirullah... ini kan Pak Budi," ucap Nathan dengan lirih seraya melihat tulisan di belakang bingkai foto tersebut.
"My Lovely Fam."
Sarah berada di samping Pak Budi, dia masih tampak muda berusia sepuluh tahunan. Di sampingnya berdiri seorang wanita yang menggendong bayi tersenyum bahagia.
"Apa motif Sarah memanfaatkanku ya?" Nathan mengamati foto tersebut dengan seksama.
__ADS_1
"Tempat apa ini? mungkinkah..."
"Kita gak nemu petunjuk apa-apa pak," ucap Ridwan menghadap Nathan.
"Kamu tahu bangunan gedung ini?" tanya Nathan pada Ridwan seraya menunjukkan foto keluarga Sarah di bingkai tersebut.
"Coba kita cari di mesin pencari via internet pak, kali aja kita temukan bangunan yang mirip seperti ini," sahut Ridwan yang melepaskan lembaran foto dalam bingkai tersebut lalu membawanya untuk di telaah lebih lanjut.
***
Wira datang bersama Pak Budi ke dalam gudang tua tempat penyekapan.
"Kau tak ucapkan selamat datang kepadaku, Sahrudin...?" tanya pria paruh baya yang mengenakan blazer panjang bermotif kotak-kotak tersebut pada Pak walikota.
"Budi? bagaimana kau?"
"Bagaimana kau, bagaimana kau? tak adakah kata lain yang bisa kau lontarkan dari mulut busukmu itu? setelah membuatku mendapat hukuman seumur hidup dalam penjara, hah?" bentaknya penuh amarah.
"Tapi kau memang seharusnya dalam penjara," tukas Sahrudin dengan mata terbelalak. Tubuhnya mulai gemetar seiring ketakutan menghinggapinya.
"Kau yang membunuh walikota Husein, tapi kau buat aku tertuduhnya. Sandiwara yang hebat, kau berhasil membuat orang kecil sepertiku tak dapat membela diri."
Sang Walikota bergerak mundur ke sudut sel, ia tak mau berada di dekat pria yang bernama Budi itu.
"Halo, Lani apa kabar?" Sapa pria tua itu menoleh pada Lani.
"Ba-baik mas," sahut Lani dengan bibir gemetar.
"Bahagia kau dengannya, pria yang tak bisa memberimu keturunan itu?"
Pak Budi menunjuk ke arah Sahrudin lalu tertawa dengan puasnya.
Lani menoleh pada suaminya, kini Sahrudin memandang Lani dengan perasaan penuh tanya. Ia tak mengerti dengan apa yang diucapkan pria di luar sel itu.
"Aku tak bisa memberimu keturunan? apa maksudnya itu mih?"
*****
To be continue...
Mampir juga ke novel ku lainnya.
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
- Kakakku Cinta Pertamaku
__ADS_1
- Pocong Tampan