With Ghost

With Ghost
Chapter 90 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 90 ***


Gibran menarik seorang laki-laki berkumis ke sebuah ruangan gelap di tempat biasa Nathan bertemu Bejo secara rahasia.


Klik


Lampu penerangan yang minim cahaya itu berpendar ke seluruh ruangan tersebut.


"Ini orangnya, Tan! penglihatanku membawaku pada bayangan orang ini!"


Gibran mendorong pria itu sampai jatuh tersungkur ke hadapan kaki Nathan.


"Jadi, kamu mau cara halus atau cara kasar?" Nathan menarik kaus tahanan pria tersebut.


"Sa-saya gak tau pak, saya cuma di suruh antar kue itu ke kamar bapak," ucapnya ketakutan.


"Sama siapa?" tanya Nathan dengan suara lirih namun ada ancaman di sana.


Tak ada jawaban yang Nathan dapatkan membuatnya memilih cara kasar tanpa persetujuan lagi.


Pukulan demi pukulan menghantam perut pria tersebut yang bernama Beni di nametag pada kaus tahanan miliknya.


"Pak Budi yang suruh saya pak," ucap Beni akhirnya menyerah pada Nathan yang tak bisa lagi menahan amarahnya.


"Pak Budi? bukankah dia selalu membelaku di sini, kenapa dia mau membunuhku?" gumam Nathan lalu berteriak lalu meninju dengan keras ke arah samping wajah Beni yang takut dan menutup kedua matanya. Beni sempat mengira Nathan akan memukul wajahnya.


"Saya juga gak tahu pak, tapi setelah ini saya yakin dia akan memburu saya setelah saya bocorkan ulahnya pada anda," ucap Beni dengan nada ketakutan.


"Tan, tahan emosi kamu. Sebaiknya rahasiakan dulu soal pengakuan Beni ini. Kita selidiki lebih dalam apa motif pak Budi yang ingin membunuh kamu. Apakah ada hubungannya dengan walikota apa ada hal lain, ya kan?" Gibran menepuk bahu Nathan.


"Kamu kembali ke sel kamu, dan rahasiakan pertemuan ini atau saya yang habisi kamu sebelum Pak Budi yang menghabisi kamu!" ucap Nathan geram.


"Baik pak," ucap Beni lalu bergegas pergi dari hadapan Nathan dan Gibran.


"Kamu udah ketemu Bejo, Bran?" tanya Nathan.


"Belum, mungkin hari ini."

__ADS_1


"Kalau kamu bisa lihat apa yang dia lihat sebelum ia di tusuk, segera beritahukan ke padaku." ucap Nathan.


Ponsel Gibran berdering, ternyata Tia yang menghubunginya dengan nada panik. Tia menceritakan perihal Jin yang diculik oleh dua pria misterius yang mengincar mereka sedari pulang sekolah.


"Bawa Setta kemari Bran, aku mau bicara dengannya," ucap Nathan.


Ada kecemasan yang terpancar di wajahnya. Posisinya makin sulit ia tak bisa menjaga Setta karena terjebak di dalam kurungan tahanan ini.


***


Gibran berhasil membawa Setta menemui Nathan di dalam penjara. Pelukan hangat langsung di dapatkan gadis itu kala melihat sang kakak mengenakan pakaian tahanan.


"Kamu enggak apa-apa kan?" tanya Nathan.


"Aku sehat, aku gak apa-apa, tapi abang gimana, yang aku dengar ada yang mau membunuh abang, dan Kak Jo juga gimana keadaannya?" tanya Setta sambil menangis sesenggukan di dada Nathan.


"Abang gak apa-apa, nih buktinya abang masih sehat kan?"


Nathan makin erat memeluk Setta.


"Kamu doain aja abang sama Bejo biar cepet sembuh dia, dan bisa melewati kritis. Bejo masih di ruang ICU, Ta."


"Jadi sekarang gimana Tan? rasanya sudah tak aman lagi bagi mereka bersembunyi di kontrakan milik Aryo. Dan itu juga akan membahayakan Aryo dan keluarganya apalagi keberadaan Jin sampai sekarang masih belum di ketahui." Gibran menatap ke arah Nathan.


"Hmmm bagaimana ya, kamu enggak ada petunjuk gitu buat cari Jin, Bran?" tanya Nathan menepuk pundak Gibran.


Gibran menggelengkan kepalanya.


"Mami aku juga hilang," ucap Rania dengan suara lirih tapi khawatir dan sedih.


"Aku takut mami kamu di amankan sama papi kamu agar tak terlibat dengan kejahatannya.


"Maafin papi aku ya bang Nathan, maafin Rania telat bilang ke abang dan gak berani ungkap kebenaran karena papi hiks hiks..." Air mata deras mengalir dari kedua matanya.


Nathan memeluk Rania yang tangisannya semakin pecah.


"Maafin Rania ya bang huhuhu..." ucap Rania dari balik dekapan tubuh Nathan.

__ADS_1


"Kamu gak salah Ran, kamu gak salah, gak seharusnya kamu minta maaf sama aku," ucap Nathan seraya membelai rambut panjang Rania.


"Rania benci sama papi, Rania benci...!!!" pekik Rania masih dengan tangisannya.


"Sudah kamu tenang ya, setiap Tuhan kasih kesulitan, pasti akan ada kemudahan yang sebenarnya kita bisa lalui. Pasti ada hikmah di balik semua ini. Dengerin abang, kamu harus kuat, kamu harus selalu sama-sama dengan Setta, kalian harus tegar dab bertahan demi abang."


Nathan mengucapkannya di hadapan wajah Rania seraya memegangi kedua pundak gadis itu.


"Iya..." Rania mengangguk.


Nathan mengusap bulir bening dari pipi Rania.


"Sekarang kalian pulang, ke rumah Gibran dulu, sembunyi di sana!" pinta Nathan.


"Ke rumahku? kan rumahku cuma kamar kos, Tan." Gibran mencoba protes.


"Mereka di kamar kos kamu, terus kamu tidur di mobil, bisa kan?"


Gibran selalu menyerah untuk menuruti segala perintah Nathan.


"Ayo kita pulang!" ajak Gibran membawa dua gadis itu pamit.


Tia menoleh pada Nathan sebelum dia ikut keluar.


"Kenapa? mau di peluk juga?" tanya Nathan seraya merentangkan kedua tangannya pada Tia.


"Kamu tuh ya..." Tia langsung menghamburkan tubuhnya memeluk Nathan dengan erat.


"Aku percayakan mereka sama kamu ya, tolong jagain mereka," pinta Nathan.


*****


To be continue alias bersambung...


Mampir juga ke novel ku lainnya.


- 9 Lives (END)

__ADS_1


- Gue Bukan Player (END)


- Kakakku Cinta Pertamaku


__ADS_2