
*** Chapter 78 ***
"Terima kasih dokter," ucap Nathan seraya menjabat tangan Dokter Handoko saat selesai memeriksakan kondisi Tia.
"Tia tidur, ya?" tanya Nathan pada Sarah seraya melongok ke arah dalam.
"Iya, kita makan siang yuk!" ajak sarah.
"Oke," Nathan menggandeng tangan Sarah seraya membawanya pergi menuju kantin di rumah sakit.
"Kamu tahu gak, Tan, tadi Tia tuh mengigau, seru banget denger dia ngomong asal-asalan kaya tadi," ucap Sarah sambil melahap mie goreng pesanannya.
"Pasti ucapannya kacau ya?" tanya Nathan.
"Dia bilang dia naksir kamu, dia udah suka sama kamu sebelum aku hadir di kehidupan kamu, kata dia gitu, hahaha lucu ya?"
Nathan lantas terbatuk-batuk karena terkejut mendengar penuturan Sarah.
"Ih kamu kenapa? minum dulu nih!" ucap Sarah seraya menyerahkan air mineral dalam kemasan botol pada Nathan.
"Makasih."
"Kaget ya? masa sih kamu baru tau kalau Tia itu sebenarnya naksir kamu?" tanya Sarah dengan pandangan menggoda Nathan.
"Udah ah gak usah dibahas, habiskan saja makanan kamu!" ucap Nathan.
***
Setta sampai di rumahnya diantar oleh Gibran. Sementara itu di sisi lain, di halaman rumah Jin, ia sedang mencuci motor skutik kesayangannya. Jin yang melihat Gibran mengantar Setta pulang langsung naik pitam dan timbul keinginan isengnya menjahili Gibran.
"Hujan ya, Ta?" tanya Gibran.
"Enggak kok," sahut Setta.
"Ini air dari mana ya, kok aku basah gini?" Gibran mengamati sekelilingnya.
"Hmmm... keluar kamu!" bentak Gibran saat menyadari arah datangnya air itu dari halaman rumah Jin.
__ADS_1
"Jangan jadi pengecut deh!" ucap Gibran lagi dengan nada sangat kesal kali ini.
Jin muncul dari persembunyiannya, dia berdiri sambil mengarahkan selang airnya ke wajah Gibran. Tawa penuh kepuasan terpampang nyata di wajahnya.
Gibran langsung melompati dinding pembatas di hadapannya. Dia menyerang Jin dengan meraih selang airnya dan membalas semprotan air tadi pada Jin.
"Hadeh... pada kayak bocah," gumam Setta lalu meninggalkan dua orang pria dewasa yang bergumul layaknya anak kecil itu. Gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
"Masak apa, mbok?" sapa Setta pada mbok Inem di dapur.
"Masak ayam bacem non, eh iya non, pocong yang suka nongol di dapur ini kemarin ngamuk," ucap Mbok Inem mengadu pada Setta.
"Hah, ngamuk? kok bisa?" tanya Setta.
"Gak tau tuh non, dapur berantakan gara-gara dia, ih sebel mbok, di tanya geleng sama manggut doang," jawab Mbok Inem.
"Hmmm.. kenapa ya om pocong seperti itu, coba nanti aku minta kejelasannya," ucap Setta.
Gibran dan Jin yang basah kuyup berebut masuk ke dalam rumah Setta.
"Aku dulu!" bentak Gibran.
"Heh yang mudaan yang ngalah!" sahut Gibran menimpali.
"Ini pada ngapain sih, tuh lihat lantainya basah semua!" pekik Setta.
"Astagfirullah... ke luar, ke luar, ke luar...!!!" ucap Mbok Inem yang sangat kesal melihat kelakuan Gibran dan Jin.
***
"Mami itu siapa?" tanya Rania yang duduk di meja makan bersama sang ibundanya. Rania menunjuk ke arah perempuan paruh baya yang di ajak masuk ke rumah dan menuju ruang kerja papinya.
"Tau tuh, kata papi sih pemilik rumah makan warung tegal, papi bilang besok dia ada liputan mengenai pengembangan para pengusaha kecil, nah ibu itu salah satu nara sumber yang mau di ajak papi kerjasama," ucap sang mami.
"Oh... gitu, hmmm masih pencitraan aja si papi, jelas-jelas ambisinya menjadi penguasa kota berhasil, ini masih saja sok-sokan merangkul pengusaha kecil, biasanya juga main bareng sama pengusaha besar," gumam Rania sambil menyantap kue brownis cokelat di hadapannya.
Sementara itu di dalam ruang kerja Pak walikota, terjadi pembicaraan sengit antara dirinya dan perempuan paruh baya itu yang ternyata Madam Laura. Wanita itu berhasil meloloskan diri dan kini meminta perlindungan pada bapak Sahrudin, sang penguasa kota ini.
__ADS_1
"Hancur sudah, hancur martabat saya, harga diri saya saat si setan itu datang ke kantor saya dan mengancam saya," pekik Pak walikota.
"Maafkan saya pak, saya juga tak mengerti siapa yang berani beraninya membongkar Blue House pada pihak polisi," ucap Madam Laura.
"Jadi bagaimana ini, apa sebaiknya saya tutup Blue House untuk membungkam si mulut setan itu?"
"Ya sebaiknya seperti itu pak, nanti kita bangun kembali Blue House, yang saya harapkan bapak harus selalu mendukung saya," ucap wanita tua itu.
"Tapi kamu masuk daftar pencarian orang, kamu buronan kepolisan, bagaimana saya bisa melindungi kamu?" ucap Pak Sahrudin yang masih sibuk mondar - mandir di hadapan Madam Laura.
"Hmmm... bapak kan punya kuasa, ingat lho pak jika saya tertangkap, nama baik bapak taruhannya, saya akan buka semua bukti kejahatan bapak," ucap Madam Laura sambil tersenyum sinis.
"Kamu mengancam saya?"
"Saya hanya memperingatkan pak, saya tidak akan mampu mengancam bapak, tenang saja..." ucap Madam Laura.
"Jadi sekarang bagaimana?" tanya pak walikota.
"Habisi polisi itu, pak."
"Saya harus menghabisi Nathan Pawira Yudha, ckckck harusnya itu yang jadi tanggung jawab kamu, saya tak akan bisa menyentuhnya, kecuali..."
"Kecuali apa, pak?"
"Membuatnya terjebak dalam urusan kejahatan," ucap Pak walikota dengan tersenyum senang.
Sementara itu di luar pintu ruang kerja pak walikota, Rania yang melintas sempat mendengar sekilas dan menutup mulutnya yang menganga. Ia terkejut mendengar rencana ayahnya dan ibu tua itu untuk menjebak Nathan.
******
Bersambung ya....
Jangan lupa mampir ke
Pocong Tampan (UP)
Kakakku Cinta Pertamaku (END)
__ADS_1
9 Lives (END)
Gue Bukan Player (END)