With Ghost

With Ghost
Chapter 88 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 88 ***


Ketukan pintu yang kencang dan terburu-buru terdengar oleh Rania yang sedang memasak mie rebus di dapur.


"Ta, bukain tuh kali aja kak Tia," ucap Rania.


"Ya bentar." Setta bergegas menuju pintu depan dan mengintip dari balik tirai.


"Kak Aryo tau Ran, tapi kok dia sendirian ya gak sama kak Jin?"


Setta membuka pintu rumah kontrakan milik Aryo yang ia tumpangi sementara itu.


"Duh... gawat nih!" Aryo terengah-engah saat menjawab karena lelah sehabis berlari kencang.


"Minum dulu, kak," ucap Setta lalu mengambil segelas air dari dapur.


"Apanya yang gawat?" tanya Rania seraya membawa semangkuk mie rebus di tangannya dan bersiap memakan mie tersebut.


"Jin, Jin tadi di culik," ucap Aryo masih dengan nada panik.


"Diculik gimana?" Tanya Setta mulai ikut panik.


Rania meletakkan mangkuknya dan segera menghampiri Aryo.


"Diculik gimana?"


Pertanyaan yang sama dengan Setta datang dari bibir Rania, namun kali ini dengan pukulan di lengan Aryo.


"Aww, sakit Ran, panas tau tangan aku!" sahut Aryo.


"Makanya kalau ngomong yang bener, siapa yang berani nyulik anak sekolahan udah gede kayak kak Jin?" tanya Rania memukul lengan Aryo lagi.


"Mana aku tahu, tadi itu ada dua orang yang ikutin aku sama Jin. Lalu kita coba lewat jalan belakang naik angkutan umum, tapi tetep ketauan."


Aryo menyeka peluh di dahi.


"Terus mereka bawa kak Jin?" tanya Setta.


"Sepertinya gitu."


"Kenapa temen kamu ditinggalin sih, katanya setia kawan gimana sih, kak Aryo?!" Rania mencubit lengan Aryo kali ini dengan kesal.

__ADS_1


"Aww... sakit Ran! Tadi itu Jin yang nyuruh aku buat lari kencang sampai sini, dia mau aku bilang ke kalian tau, aku gak ada niat mau ninggalin dia, bener deh sungguh."


"Terus gimana nih, Ta?" Tanya Rania menoleh pada Setta.


"Kita cari kak Tia, cari kak Jo, kita minta tolong mereka buat bawa kita ke Bang Nathan, cuma Abang aku yang bisa kasih solusi saat seperti ini," sahut Setta.


"Ide bagus! aku coba hubungi kak Tia dulu ya," ucap Rania seraya mencari ponsel yang di tinggalkan Bejo untuk dirinya dan Setta.


***


"Masuk!"


Pria berambut gondrong itu mendorong tubuh Jin masuk ke dalam sebuah gudang tua yang sudah lama tak terpakai.


"Ijinkan saya ganti baju dulu kek tadi pulang ke rumah sebentar," gerutu Jin.


"Ah banyak omong, sudah masuk sana!"


Jin melihat sepasang suami istri yang tampak ia kenal terkurung dalam sebuah sel tahanan di dalam sana.


"Kok kayak pernah lihat tapi dimana ya?" gumam Jin.


Pria satu lagi yang bertubuh besar dan berkumis itu memaksa Jin untuk duduk di sebuah kursi kayu. Dia mengikat tubuh Jin dengan kuat. Tangan dan kaki Jin juga di ikat dengan kuat.


"Berisik nih bocah!"


"Laper bang, makanya saya berisik, paling enggak kalau mau culik saya ya tolonglah kasih makan dulu hump hump...!!!"


Mulut Jin sudah terisolasi oleh lakban hitam dengan kuat oleh pria berambut gondrong tadi.


"Bagus jadi gak bisa bawel kan kamu, sukurin!" ucao si pria gondrong tersebut.


"Kita tunggu bos apa gimana nih?" tanya si pria berkumis tersebut pada rekannya.


"Kita ke warung kopi dulu lah, baru nanti tunggu bos di sini, yuk!"


Si pria rambut gondrong itu menepuk bahu rekannya dan mereka lalu pergi meninggalkan Jin dan sepasang suami istri tersebut.


***


Tia menemui Setta dan Rania segera setelah berhasil di hubungi.

__ADS_1


"Aku gak bisa gitu aja bawa kalian ke tempat Nathan," ucap Tia dengan wajah cemas.


"Kenapa kak? ini gawat banget lho, kak Jin itu di culik," ucap Setta dengan nada panik.


"Duh, gimana ya masalahnya si Bejo itu kritis di rumah sakit kota, dia di tusuk dirumah kosong saat menyelidiki pelaku yang selalu mengirimkan paket misterius sama Nathan, Ta."


Tia mengusap wajahnya dengan penuh kecemasan bercampur kesal.


"Kak Gibran, dia pasti bisa bantu kita," ucap Setta.


"Gibran mendampingi Nathan dia sedang melakukan penyelidikan di sana, semalam rekan satu kamar Nathan mati di racun, dan ada kemungkinan makanan beracun itu di tujukan pada Nathan," ucap Tia menjelaskan.


"Astagfirullah... tapi abang gak kenapa-kenapa kan kak Tia?" tanya Setta dan Rania berbarengan.


"Gak, alhamdulillah Nathan gak apa-apa, kalian tenang aja, hmmm aku jadi bingung ya, coba aku hubungi Gibran dulu ya, siapa tau bisa bicara dengan Nathan baiknya gimana sama kalian ini, dan gimana juga cara cari Jin."


Tia mengeluarkan ponselnya menghubungi Gibran.


***


Sementara itu seorang pria yang mengenakan jaket hitam dan topi baseball itu masuk ke dalam sebuah gudang tua tempat Jin di sekap. Sementara dua orang pria besar berkumis dan berambut gondrong itu berjaga di luar.


"Hmmm... kita langsung saja ya gak usah basa - basi, coba kamu katakan sama saya, dimana Rania?" tanyanya.


"Hmpp...hmmpp..." Jin berusaha berbicara dengan mulut di lakban.


"Oh iya saya lupa, kamu kan tak bisa berbicara jika seperti itu hahahaha... maaf ya," ucapnya lalu menarik lakban di mulut Jin dengan keras.


"Aawww...!!!" Jin berteriak dengan kencangnya karena kesakitan.


*****


To be continue alias bersambung...


Jangan lupa siapkan amunisi poin untuk Vote terutama ke Pocong Tampan hehehe...


Mampir juga ke novel ku lainnya.


- 9 Lives (END)


- Gue Bukan Player (END)

__ADS_1


- Kakakku Cinta Pertamaku


__ADS_2