
*** Chapter 40 ***
"Mandi berdua masa sama Aryo hahahaha," sahut Rania terbahak-bahak.
"Ran, kamu tuh ya kalau punya mulut tuh di kunci!" Jin menatap Rania dengan tajam.
Aryo hanya meringis dan menahan malunya dengan menutup wajahnya.
"Lagian si Aryo masa cerita tidurnya di temenin Kunti," Jin menunjuk Aryo.
"Ah kamu juga sama, katanya pas kamu pipis di ketawain Kunti, ya kan?" Aryo gantian menunjuk Jin.
"Udah-udah sih, sama-sama seneng mandi berdua aja pada ribut," Nathan melerai keduanya.
"Wah parah ngomongnya, macem-macem dia, untung aja abangnya Setta," ucap Jin pura-pura mengancam Nathan.
"Kenapa emangnya?" tantang Nathan.
"Gak kenapa-napa sih bang, hehehe ganteng banget dah abang ini," Jin menepuk bahu Nathan dan merapikan kerutan kausnya yang padahal tidak berkerut.
"Ayo kita pulang, Aryo masukin tuh barang-barang ke mobil nak Nathan!" Pak Idris memberi perintah.
"Siap pak, ayo Jin bantuin gue," Aryo menepuk punggung Jin.
"Kan yang di suruh kamu tau!"
"Pak, masa nih si Jin..."
Jin langsung membekap mulut Aryo yang hendak mengadu pada Pak Idris.
"Aku balik dulu ya Bran, kamu udah simpen nomer aku yang baru kan?" Nathan menjabat tangan Gibran sambil membenturkan kedua bahu mereka.
"Iya udah aku save, kabarin kalau udah sampe rumah, oh iya hati-hati nanti di km 13 jangan sampe berhenti di rest area nya ya," ucap Gibran.
"Ada bus hantu kan?"
"Kok kamu tau sih?" Gibran menatap Nathan lekat.
"Itu si Rania temen adikku, pas mau kesini dia cerita kalau dia di culik sama bus hantu, terus nebus sama dukun setempat bayar sepuluh juta," sahut Nathan.
"Waduh... gila bener itu dukun, siapa tuh namanya nanti biar aku usut sekalian tuh dukun," ucap Gibran menggebu-gebu.
"Nanti aku kabarin namanya, udah ya aku balik dulu, lanjutkan pekerjaan anda bro!" Nathan menepuk bahu gibran.
"Oke sip, hati-hati ya," sahut Gibran.
__ADS_1
***
"Duh laper nih kak, tuh ada rest area kita mampir dulu situ," ucap Aryo.
"Heh kamu lupa ya kak? itu kan tempat aku naik bis hantu waktu kemaren, kamu mau aku di culik lagi, bahkan bisa juga malah kamu yang di culik, mau?" Rania menoleh pada Aryo yang duduk di kursi bagian belakang bersama Jin.
"Iya Rania bener, tahan dulu aja sampai kita ketemu tempat pemberhentian dan istirahat selanjutnya," ucap Pak Idris.
Akhirnya satu jam kemudian Nathan memberhentikan laju mobilnya di pemberhentian oleh-oleh dan rumah makan yang penuh dengan bis dan kendaran lainnya terparkir.
"Yok, yang mau turun buang air, apa makan dulu karena laper, sekalian ashar-nya, turun dulu yuk!" ajak Nathan.
Rania menarik tangan Setta dan membawanya menuju ke toilet umum.
"Temenin aku sampai dalam pokoknya," ucap Rania.
"Ih gak mau ah, aku tunggu depan pintu aja," sahut Setta.
"Gak, pokoknya sampai dalam, aku takut Ta..." rengek Rania yang dengan terpaksa di turuti juga keinginannya Rania.
Sepuluh menit kemudian...
"Kita makan dulu yuk," ajak Nathan setelah selesai menjalankan solat ashar berjamaah di dalam mushola bersama lainnya.
"Boleh tuh, apalagi kalau ada yang bayarin," Aryo melirik ke arah Rania.
"Weits tenang aja sih," sahut Rania.
"Abang aja Ran yang bayar," ucap Nathan.
"Gak bisa bang, kan Rania yang ajak, kenapa sih? abang gengsi ya di bayarin cewek? Pak Idris aja enggak gengsi di bayarin muridnya ya pak?"
Rania menoleh pada Pak Idris yang sudah menatap Rania tajam.
"Saya bayar sendiri aja Ran," ucap Pak Idris.
"Ya elah bapak gitu aja marah," Rania menggoda Pak Idris yang langsung tersipu menuju restoran masakan padang di hadapannya.
Setta menoleh pada sebelah kirinya ke arah ujung jalan. Ia melihat seorang anak laki-laki mendekat kepadanya dari kejauhan. Begitu semakin dekat, Setta baru menyadari kalau anak itu membawa sesuatu di kedua tangannya. Anak kecil itu makin dekat dan makin jelas di mata Setta kalau anak kecil itu tak mempunyai kepala. Di kedua tangannya yang sedari tadi Setta pikir adalah sebuah bola ternyata bukan. Di tangannya malah terdapat kepala anak kecil itu sendiri yang tersenyum menyeringai pada Setta.
"SETTA...!!!"
Jin dan Nathan berhasil menarik Setta sampai terjatuh menimpa tubuh Jin demi menolongnya terhindar dari bis yang melintas. Nathan berdiri sambil menepuk tubuhnya membersihkan pakaiannya dari debu.
"Duh... bang tolongin angkat Setta," pinta Jin dengan suara mengerang tertindih tubuh Setta.
__ADS_1
Rania langsung menghampiri dan membantu Nathan menarik Setta dari atas tubuh Jin.
"Kamu tuh kenapa sih dek, bengong di tengah jalan?" ucap Nathan cemas sambil memeluk adik tercintanya yang masih gemetar itu.
"Tadi aku... Aku..." ucap Setta ketakutan.
"Kamu pasti liat setan kan Ta? kamu tuh hampir celaka tau gak?" ucap Rania.
"Maafin aku ya," ucap Setta mulai terisak memeluk Rania.
"Duh pasti tekanan batin banget ya Ta jadi kamu?" Pak Idris mulai paham dengan kemampuan Setta.
"Udah yuk kita makan dulu, abang pesen teh manis anget ya buat kamu," Nathan melangkah masuk duluan ke dalam restoran.
"Biar saya aja yang pesen bang," pinta Jin.
"Oke deh, oh iya Jin, thank you banget ya kamu udah jagain Setta," ucap Nathan menepuk punggung Jin lalu melangkah meninggalkan Jin menyusul yang lain duduk di meja yang sudah Rania pesan.
"Waduh, kode nih kalau aku dapet restu dari abangnya Setta hihihi," gumam Jin tersipu malu.
"Eh semua makanan harus habis ya, karena setau gue kalau elu udah ambil nih ayam satu tetep di itung semua ayam yang ada di piring ini kan ada... tiga tuh masing-masing ayamnya," ucap Rania.
"Ini banyak banget loh Ran, apa kita habis makan ini semua?" tanya Pak Idris.
"Ya habis enggak habis emang gitu pak, semua yang ada di meja makan ini, sudah di hitung semua, ya kayak menjebak pelanggan lah, jadi sayang kalau gak habis," ucap Rania.
"Udah sih tenang aja ada Aryo sama aku yang bisa nampung, ya gak yo?" Jin menepuk punggung Aryo yang tersedak tiba-tiba.
"Sorry Yo, aku pikir kamu belum mulai makan hehehe," ucap Jin yang langsung mendapat tatapan tajam dari Aryo.
*************
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘
__ADS_1