With Ghost

With Ghost
Chapter 82 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 82 ***


"Ta, tunggu dong! aku mohon dengarkan aku dulu!" pinta Rania menyusul Setta masuk ke dalam.


"Kamu tahu gak kalau itu semua gara-gara..."


Ucapan Setta terhenti saat Tia menurunkan tangan Setta yang menunjuk ke arah Rania.


"Gara-gara papi aku kan?" ucap Rania membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh kepadanya.


"Aku tahu papi aku salah, papi aku jahat, aku tahu. Baiklah aku akan minta sama papi buat bebasin abang Nathan."


Rania pergi dari hadapan semuanya. Dia menancap gas mobilnya dengan kencang menuju kantor walikota.


"Setta gak boleh gitu sama Rania, biar bagaimanapun juga Rania gak salah, dia gak tahu apa-apa soal kejahatan papinya," ucap Tia.


Setta hanya terdiam menahan isak tangisnya lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Dah non ndak usah di kejar, biarkan non Setta sendiri dulu," ucap Mbok Inem.


"Saya tinggal di sini deh sementara buat nemenin mbok sama Setta, boleh kan?" tanya Tia.


"Pasti boleh, kan den Nathan tadi juga titip kami sama non," ucap Mbok Inem.


"Saya boleh gak, mbok?"


Tia langsung menatap Gibran yang kerahnya sudah berada di cengkeraman tangan Jin.


"Udah deh kalian jangan mulai!" Tia melerai keributan keduanya.


"Bran, ayo antar aku menemui Nathan di penjara!" ajak Tia menarik tangan Gibran menjauhi Jin.


"Jin, jagain Setta sama mbok Inem!" Tia menunjuk Jin seraya pergi menarik tangan Gibran pergi.


"Siap...!" sahut Jin sambil menyunggingkan senyum kemenangan ke arah Gibran.

__ADS_1


***


"PAPI...!!!" Rania masuk ke dalam kantor sang ayah yang sedang bertemu dengan pejabat daerah lainnya.


"Rania sayangnya papi, apa-apaan kamu nak masuk ke kantor papi sambil teriak-teriak gitu?" Papi Rania langsung membawa Rania pergi dari ruang kerjanya menuju koridor yang sepi di ikuti Wira sang ajudan.


"Papi kan yang udah jebak abang Nathan?" tanya Rania menunjuk dada papinya dengan telunjuknya.


"Nathan siapa, Nathan yang mana yang papi jebak?" Pak Sahrudin menepis tangan Rania.


"Rania udah dengar semua pembicaraan papi dengan Madam Laura saat ia ke rumah malam itu. Perempuan yang mami bilang pengusaha warteg itu si Madam Laura kan pi?"


"Siapa Madam Laura, papi gak kenal sama Madam Laura entah siapa itu," sahut Pak walikota berusaha mengelak.


"Perempuan tua yang terbunuh di foto-foto viral abang Nathan, itu Madam Laura. Rania yakin papi terlibat, papi yang menyuruh seseorang membunuh perempuan itu untuk menjebak abang Nathan, ya kan pi...?!" Rania membentak ayahnya sambil menangis.


"Papi gak ngerti kamu ngomong apa, Wira, Wira...!!!" Teriak Pak Sahrudin memanggil ajudannya.


"Ya, pak!"


"Baik, saya akan melaksanakannya, pak." ucap Wira lalu menarik Rania pergi dengan paksa.


"PAPI JAHAT...! PAPI JAHAT...!!!" Rania berteriak di koridor.


Wira membekap mulut Rania dan menariknya paksa masuk ke dalam mobilnya.


***


Sementara itu Kapten Ghani berbicara empat mata dengan Nathan di ruang interogasi. Nathan menceritakan semua pembicaraannya dengan Madam Laura dan keterlibatan pak walikota. Nathan juga bisa menghadirkan saksi yaitu Tia dalam perantara keterlibatan walikota di Blue House.


"Kenapa sekarang ini baru kamu ceritakan? ini kan namanya jamu bergerak tanpa ada wewenang dari saya?" ucap Kapten Ghani.


"Maafkan saya kapten, saya juga tak menyangka semuanya serba kebetulan. Gibran dan Tia hanya ingin menyelamatkan seorang anak bernama Yana dari Blue House, akan tetapi mereka terlibat lebih dalam pak," ucap Nathan menjelaskan.


Tak ada perkataan apa-apa lagi dari atasan Nathan tersebut. Ia melenggang keluar begitu saja meninggalkan Nathan.

__ADS_1


"Maaf kalau saya membuat bapak kecewa," gumam Nathan.


Nathan berada di sel bersama beberapa tahanan yang pernah ia tangkap terdahulu. Karena tak tega, akhirnya Bejo memindahkan Nathan di ruang khusus sementara menunggu pemindahan tahanan bagi Nathan.


Tia datang bersama Gibran menemui Nathan. Tia langsung menghamburkan tubuhnya memeluk Nathan dengan erat di ruang jenguk tahanan.


"Maafin aku ya pak, gara-gara aku bapak jadi berurusan dengan Madam Laura," ucap Tia sambil menangis.


"Udah ah, kamu gak pantes tau jadi cewek cengeng seperti ini, kamu harus kuat buat aku, buat jagain Setta, aku mohon ya," pinta Nathan seraya menyeka bulir bening yang jatuh di pipi Tia.


"Tapi pak..."


"Sudahlah mungkin memang ini takdir Allah, pasti ada hal yang baik yang nanti Allah kasih buat saya," ucap Nathan.


Gibran memeluk Nathan, memberi dukungan moral padanya dengan tulus. Sementara di sudut ruangan, Gibran melihat sosok hantu kakek dengan memakai baju tahanan itu menaruh jari telunjuknya di bibirnya.


"Aku akan menjaganya," ucap sosok hantu tersebut pada Gibran sambil tersenyum dengan wajah pucatnya.


"Nathan...kamu gak apa-apa kan?" Sarah masuk ke dalam ruangan tersebut langsung memeluk Nathan.


"Sebenarnya saya sedih Bran, tapi lihat Nathan di peluk dua cewek cakep kok saya jadi pengen gantiin si Nathan ya ckckck..." gumam Bejo yang langsung di sambut tinju pelan di bahunya oleh Gibran.


"Bercanda Bran..." ucap Bejo menahan tawanya.


"Tia mau di kipasin? aku takut kepanasan hehehe." Bejo meledek Tia kala melihat Sarah memeluk Nathan. Pandangannya langsung tajam menoleh ke arah Bejo. Tangan wanita itu mengepal meninju telapak tangan yang satunya sendiri.


******


To be continue alias bersambung...


Mampir juga ke novel ku lainnya.


- 9 Lives (END)


- Gue Bukan Player (END)

__ADS_1


- Kakakku Cinta Pertamaku


__ADS_2