
*** Chapter 70 ***
Perempuan paruh baya itu termenung, di kegelapan malam. Rok lusuh yang ia pilin sedari tadi sudah basah dengan tangisannya yang tak mau berhenti.
Klik.
Lampu neon itu menyala menerangi ruangan gelap tersebut.
"Bu... sudahlah ikhlaskan kepergian Rosi," ucap seorang pria yang rambut dan jenggotnya sudah di tumbuhi uban.
Hari itu berita kematian Rosi sampai ke telinga orang tuanya. Lebih sakitnya lagi kala ayah dan ibunya mengetahui penyebab kematian Rosi karena bunuh diri dan sedang mengandung. Sungguh pukulan yang sangat berat bagi kedua orang tuanya.
Gunjingan para tetangga sangat membuat muak untuk di dengar. Gosip tentang Rosi anak semata wayang yang selalu mereka bela segala keperluannya di tengah keterbatasan kondisi ekonomi itu makin menyebar. Hamil di luar nikah dan tewas bunuh diri sangat mencoreng nama baik sang ayah yang di juluki ustad di kampungnya, kampung Nanas yang terletak di pinggiran ibukota.
Mungkin sang ayah sudah mengucap kata ikhlas, tapi tidak dengan sang ibunda. Wanita itu tidak yakin lagi dengan iman yang dia punya sehingga ia nekat mendatangi seorang dukun di suatu kampung yang konon kabarnya bisa berkomunikasi dengan arwah Rosi. Niat ibunya Rosi sudah bulat, dia ingin balas dendam. Tujuannya kini hanya ingin membuat orang yang menodai kesucian buah hatinya itu mati, begitu juga dengan orang-orang yang menyakiti Rosi juga terkena balasannya.
***
Malam itu Gibran dan Tia bersiap menuju Blue House.
"Kamu ijin apa ke Nathan?" tanya Gibran saat melajukan kendaraannya menuju Blue House dari rumah Setta.
"Aku ijin mau lihat rumah kos, lagian Nathan juga belum pulang, dia tuh semenjak mau ada acara pelantikan walikota baru sibuk banget, dan kayak ada masalah yang dia pikir gitu, tapi kalau aku mau tanya aku gak berani," ucap Tia.
Sebenarnya aku tahu masalah apa yang menimpa Nathan, tapi sebaiknya Tia gak perlu tahu ini, biarkan Nathan saja nanti yang menceritakan.
Batin Gibran sambil fokus menyetir.
"Kalau Setta, dia tahu enggak?" tanya Gibran.
"Aku tahu," sahut Setta dari jok belakang di dalam mobil Gibran.
__ADS_1
"Astagfirullah... sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Gibran menghentikan laju kendaraannya dan menepi. Tia menoleh ke arah Setta dengan tatapan tajam dan tak suka melihat Setta mengikuti mereka diam-diam.
"Hehehe pada biasa aja dong pandangannya, aku kan bukan penjahat yang di pandang seperti itu," ucap Setta menunjukkan senyum manisnya kepada dua orang sahabat abangnya itu.
"Heh..! masuk mobil orang dengan cara sembunyi-sembunyi itu, sama aja seperti penjahat, Ta," Tia menoyor dahi Setta pelan dengan wajah kesalnya.
"Habis kalau aku bilang dan minta ikut, pasti gak akan di setujui sama kalian, ya kan?" ucap Setta mencoba membela diri.
"Tapi kalau kamu ikut kita, kamu sama aja membahayakan diri kamu, Ta," pekik Gibran membuat Setta tersentak dan mengelus dadanya sendiri. Ia terkejut dengan ucapan Gibran yang meninggi barusan.
"Maafin aku kak, tapi kepalang tanggung kan Blue House dikit lagi sampai tuh!" tunjuk Setta.
"Astaga anak ini, terus nanti bilang apa coba ke Nathan, gagal deh aku jadi calon istri yang baik buat dia, aku gak bisa menjaga adiknya dengan baik hadeh..." keluh Tia.
"Huh percaya diri sekali anda, siapa juga yang mau jadi adik ipar kak Tia, wleeekkk!" Setta menjulurkan lidahnya sekilas.
"Huh Setta benar-benar ya bikin sewot aja, bukannya kasih dukungan kek ke aku, gak ada lho kakak ipar terbaik dan sesempurna saya, ya kan Bran?" Tia menoleh pada Gibran.
"Kalian ini ya..."
"Sudah cukup, gini aja Setta kamu boleh ikut..."
"Yesss...!!"
"Tapi... kamu gak boleh jauh-jauh dari aku!" pinta Gibran.
"Peran dia apa Bran jadinya? masa kamu mau bawa pacar dua sekaligus ke sana?" tanya Tia.
"Setta jadi pacar aku, terus kamu pura-pura deketin om senang lah, cari tau mengenai perdagangan anak buat di jadiin psk di sana," ucap Gibran.
"Setta jadi pacar kamu? ih... emang itu mau kamu," ucap Tia.
__ADS_1
Gibran tersenyum dan melajukan kendaraannya menuju Blue House.
Sesampainya di sana, mereka sukses masuk dengan kartu anggota Club House yang Gibran punya. Tambahan uang pun melayang dari kantong Gibran kala penjaga meminta kartu identitas Setta. Gibran menutup mulut dua penjaga itu untuk meloloskan Setta yang belum punya kartu identitas.
"Haduh sesek banyak banget asap rokok," gumam Setta menahan batuknya keluar.
"Aku bilang apa, jangan ikut, aku takut asma kamu kambuh," ucap Gibran berbisik pada Setta.
"Anterin ke kamar mandi yuk, aku mau semprot obat asma dulu," ucap Setta.
"Kamu antar dia Bran, tuh lihat Madam Laura aku mau coba deketin dia," ucap Tia.
"Tia... kamu hati-hati ya," ucap Gibran.
"Oke, tenang aja!"
Gibran mengantarkan Setta menuju kamar mandi dan berjaga di koridor menunggu Setta keluar dari kamar mandi. Pemandangan yang miris terlihat, kala banyak diantara pekerja se*s komersil itu adalah gadis belia yang memakai pakaian minim sedang berpesta minuman dengan para pria hidung belang.
******
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘
__ADS_1