With Ghost

With Ghost
Chapter 102 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 102 ***


Setta berada di sebuah padang rumput hijau nan penuh dengan bunga matahari. Sinar mentari memantulkan cahayanya menyilaukan mata lentik


gadis itu. Tiba-tiba seorang pria menutupi cahaya mentari tersebut. Wajahnya makin jelas terlihat.


 “Kak Gibran…”


Setta memeluk pria di hadapannya itu.


“Kok nangis, sih? Jangan nangis dong!” sahut Gibran Seraya mengusap punggung Setta.


“Aku kangen sama Kakak…”


Gibran menyeka bulir bening di pipi gadisnya itu.


“Kalau kangen sama Kakak, kamu kirim doa ya buat aku,” ucapnya.


Setta mengangguk, tangisannya masih juga tak dapat ia hentikan.


Gibran memberi kecupan pada bibir mungil gadis itu. Cahaya menyilaukan berpendar di antara wajah keduanya. Saat gadis itu membuka matanya, ia hanya bisa menatap langit-langit kamarnya. Tersadar bertemu Gibran tadi hanyalah mimpi, gadis itu kembali menangis sambil memeluk bantal.


Nathan membuka pintu kamar Setta perlahan saat mendengar isak tangis adiknya itu. Ia tahu kesedihan yang adiknya rasakan. Ia juga merasa sangat kehilangan Gibran. Bahkan ia juga sangat sedih karena harus kehilangan sahabat lainnya yaitu, Bejo.


Nathan menyeka air matanya dengan punggung


tangannya. Ia tutup lagi pintu kamar Setta. Biarkanlah untuk kali ini, dia tinggalkan adiknya itu sejenak, larut dalam kesedihannya.


***


Dalam persidangan pembunuhan walikota Sahrudin dan istrinya, Wira duduk sebagai tersangka. Rania dan Jin datang menjadi saksi yang memberatkannya, ditambah lagi dengan kesaksian memberatkan dari Tia. Laki-laki itu dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.


“Tia, tunggu!” seru Wira memanggil anaknya sebelum ia kembali ke dalam mobil tahanan menuju rutan.


Tia menoleh pada Nathan meminta ijin untuk menemui ayahnya. Calon suaminya itu menjawab dengan anggukan.


“Datanglah ke tempat Pengacara Alinurdin di Jalan Melati nomor lima. Wasiat kakekmu ada padanya,” ucap Wira.


Tia hanya menjawab dengan anggukan.


“Sekali lagi, maafkan ayah…” lirihnya.


Tia berusaha tegar menahan air matanya jatuh meski sudah berkaca-kaca.


“Ayo, lekas masuk!” Seorang polisi menundukkan kepala Wira agar segera masuk ke dalam mobil tahanan.


“Tunggu…!” seru Tia membuat Wira menoleh padanya.


“Ayah, maukah kau menjadi wali nikahku bulan depan?” tanya Tia.


Wira tak bisa lagi menahan air mata harunya saat mendengar permintaan anaknya itu.


“Iya... iya tentu saja, ayah mau.”


Pintu mobil tahanan itu ditutup, lalu kendaraan itu melaju menuju rumah tahanan.


Nathan merangkul bahu Tia, lalu memberi kecupan di kepala wanitanya itu saat melihat mobil tahanan itu menjauh pergi.


 ***


Dua minggu berlalu, pengumuman hasil nilai ujian telah terpampang di majalah dinding sekolah. Setta berhasil mempertahankan juaranya. Namanya berada di paling atas daftar siswa berprestasi.


“Selamat ya…, bangga banget aku punya sahabat sepintar kamu,” ucap Rania seraya merangkul gadis itu dari samping.


“Makasih, Ran.” Setta membalas pelukan Rania.

__ADS_1


Di depan gerbang sekolah, Nathan dan Tia datang dengan seikat bunga mawar putih untuk adik tercintanya itu.


“Yakin banget kalau aku yang juara, pakai bawa bunga mawar segala?” ledek Setta.


Nathan dan Tia lalu saling bertatap.


“Nah lho, apa iya kamu turun peringkat?” tanya Nathan.


“Mau aja dikerjain nih orang, bohong, Kak! Setta peringkat satu, seperti biasa,” sahut Rania menimpali.


“Ah… Abang pikir turun peringkatnya, selamat ya…” Nathan memeluk adiknya dengan erat, begitu juga Tia yang langsung menghamburkan diri memeluk keduanya.


 “Woi, anak kecil!” seru Jin yang baru datang di sisi mereka dengan mengendarai sepeda motor


skutiknya.


“Nih.”


Jin menyerahkan sebatang cokelat dengan hiasan pita warna merah muda pada Setta.


“Cie… yang udah jadi anak kuliahan,” ledek Rania.


“Hmmm ya gitu tuh anak kuliahan mah, cuma bisa kasih cokelat,” celetuk Nathan sambil merangkul bahu Tia.


“Ah Abang ipar mah, tenang aja nih, kelak jika aku sudah bekerja nanti, kan kubawa sebatang emas untuk adik cantikmu ini,” ucap Jin dengan sombongnya.


“Halah… memangnya Setta mau sama kamu?” tanya Nathan melirik ke arah Setta yang menahan tawanya bersama Rania.


“Oh iya, ya, Setta kan belum terima aku jadi pacarnya, tapi mau kan, Ta?” Tanya Jin memamerkan wajah memelasnya.


Setta menoleh pada Nathan yang sudah mengepalkan tinjunya ke arah Jin. Tapi, Tia langsung menepis tangan Nathan sembari tertawa.


“Kalau kata Abang boleh, ya aku sih mau aja,” sahut Setta.


“Haduh… berat itu mah, tapi tenang aja, apapun akan


kulakukan demi gadis ini!” seru Jin menunjuk ke arah Setta.


“Bener, ya?” tanya Nathan menunjuk laki-laki di hadapan adiknya itu.


Jin menjawab dengan anggukan pasti penuh keyakinan.


“Udahlah, sana cepetan pergi katanya mau ke makam Gibran!” seru Nathan.


“Oh iya, yuk!” ajak Setta.


“Aku gak ikut ya, aku mau ke makam Papi sama Mami,” sahut Rania.


“Sama siapa, Ran?” tanya Setta.


 “Sama Aryo, tuh udah nungguin di sana,” ucap Rania seraya melambaikan tangannya pergi.


“Jangan lama-lama pulangnya, nanti abang kunciin, enggak boleh masuk lho,” Seru Nathan memperingati Rania. Gadis itu mengangkat ibu jari kanannya tanpa menoleh.


Rania kini tinggal bersama Setta, setelah kematian orang tuanya. Ia menjual rumah peninggalan ayahnya untuk biaya pendidikannya. Rania tak pernah tahu soal ayah kandungnya. Nathan dan Tia sepakat merahasiakan semua kebenaran itu dari Rania sampai ia benar-benar siap menerima kenyataan pahit tersebut.


***


Jin dan Setta sampai di pemakaman Gibran. Setelah kematian Kapten Ghani, mayat Gibran akhirnya di temukan dalam hutan. Sesuai arahan penglihatan Setta yang dituntun sosok hantu Gibran menuju ke tempat ia di kubur oleh kawanan gangster itu. Kemudian mayatnya di pindahkan ke area pemakaman bagi perwira polisi.


Bunga mawar yang diberikan Nathan tadi, ia letakkan di atas makam Gibran. Bersama dengan Jin keduanya membacakan doa ziarah kubur serta


surat Yaasin untuk almarhum. Masih teringat senyum manis Gibran di mimpinya kala itu. Cinta pertama yang gadis itu coba pendam selama ini, tak dapat ia


sampaikan. Ia harus merelakan kepergian Gibran dengan tetap mendoakannya.

__ADS_1


“Yuk pulang, Ta!” ajak Jin.


“Iya sebentar, Kak Gibran tau gak, aku mulai berusaha menerima keadaanku seperti Kakak dulu, aku berusaha untuk tak takut lagi sama penampakan, doakan aku bahagia ya, dan aku yakin Kakak sudah bahagia di sana,” ucap Setta seraya mengusap tepi makam Gibran.


“Ayo, nanti keburu sore,” Jin berusaha keras menarik tangan Setta.


“Oke.”


Gadis itu menurut lalu berucap lirih, “Jumat depan aku datang lagi ya, Kak.”


Kemudian, Setta mengikuti langkah Jin menuju pulang.


***


Pernikahan Nathan dan Tia berlangsung sederhana dan penuh haru. Hanya beberapa kerabat dan rekan sejawat yang diundang ke pesta kebun ala Nathan dan Tia. Kebaya brokat dengan warna putih dipadu padankan dengan kain batik yang membalut tubuh Tia, membuat Nathan dan yang menyaksikan uparanya pernikahan mereka sangat takjub.


“Kak Tia, cantik banget…” Setta menatap dengan gemas.


“Iyalah cantik, makanya aku mundur perlahan, tak mau lagi berjuang buat jadi kakak ipar kamu,” sahut Rania.


“Idih, ogah juga aku punya kakak ipar kayak kamu,” celetuk Setta menimpali sambil menatap Rania sinis. Namun, setelahnya mereka berpelukan sambil tertawa.


“Lihat tuh para gadis kita, cantik banget ya pakai kebaya hijau,” ucap Aryo dengan bangga menunjuk ke arah Rania.


“Cantik Setta, lah!” seru Jin tak mau kalah.


“Cantik aku, dong!”


Ratu datang seraya melingkarkan tangan kanannya di lengan Ridwan.


Akhirnya perjodohan Ridwan dan Ratu yang direncanakan Tia berhasil juga.


“Wuidih ada yang jadian, nih,” ucap Aryo.


“Pastinya, tuh pakai baju aja samaan batiknya, cie…” ledek Jin.


“Yoi…,” sahut Ridwan dengan bangganya.


Sementara itu di samping Nathan, Wira yang diberi ijin keluar tahanan untuk menjadi wali nikah, terus saja menangis melihat putri cantiknya yang tak pernah ia rawat sewaktu kecil. Selalu kata maaf yang pria itu lontarkan kala memeluk Tia dan Nathan. Setelah acara pernikahan itu selesai, Wira kembali ke rumah tahanan.


Langit biru cerah ditambah dengan hembusan angin semilir, menambah kehangatan dan keakraban para tamu di pesta pernikahan Nathan dan Tia.


Bayangan Gibran sedang tersenyum seolah terpoles di ukiran awan tersebut kala Setta melihatnya.


Telapak tangan seorang pria menutupi wajah Setta yang mulai menyipit matanya kala silau mentari menerpa wajahnya.


“Eh, kak Jin, kirain siapa,” ucap Setta.


“Aku cemburu tau, sama awan aja kamu bisa tersenyum manis seperti itu, masa sama aku yang bentar lagi jadi calon imam kamu ini, gak pernah dapat senyum seperti itu,” keluh Jin.


Tawa renyah Setta tersungging di bibir tipisnya seraya memandang Jin.


Musik dangdut yang Aryo putar terdengar, sontak mengundang keriuhan para tamu yang menghamburkan diri ke area tengah pesta sambil berjoget.


“Ikut abang dangdutan, yuk Neng!”


Jin tersenyum seraya mengulurkan tangannya pada Setta yang langsung menyambutnya.


*** END ***


Terima kasih untuk kalian para pembaca setia With Ghost dari episode awal sampai akhir.


Tungguin pengumuman di chapter berikutnya.


Sekali lagi Vie Love You All…😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2