
*** Chapter 72 ***
"Nih tiketnya ada empat," ucap Rania seraya menyerahkan tiket nonton bioskop itu ke tangan masing-masing.
"Berapa, Ran?" tanya Setta.
"Halah kayak sama siapa aja, udah sih!"
"Paket popcorn sama cola gak sekalian Ran?" tanya Aryo dengan pandangan iseng ke arah Rania.
"Modus aja nih!" Jin menoyor kepala Aryo.
"Ya kali Jin sekalian hehehe," Aryo tertawa garing sendirian. Sementara itu, Jin pergi membeli paket popcorn dan cola yang di minta Aryo.
Pintu bioskop theater satu telah di buka, semua pengunjung yang sudah memegang tiket masuk ke dalamnya.
"Siap-siap mual lho, soalnya aku liat cuplikan iklan filmnya jijik banget makan memakan manusia hiiyyy," ucap Aryo mencoba menakuti Rania dan Setta.
"Halah.. banyak omong kau! udah fokus aja lihat sana!" ujar Rania dengan nada kesal. Ia duduk paling pinggir lalu Setta, Jin dan Aryo di bagian sudut.
Setengah jam film itu berlalu, Setta yang duduk di kursi bagian row A alias paling atas sebelah kanan layar itu terhenyak akan sesuatu yang menyentuhnya.
Setta menoleh ke arah belakangnya.
"Kenapa, Ta?" bisik Jin.
"Enggak apa-apa," sahut Setta kembali fokus ke arah layar.
"Aku mau ke kamar mandi dulu ya," ucap Aryo.
"Halah...bilang aja mual huuuu...!" Rania mencibir Aryo yang melewatinya.
Sepasang kuku yang tajam menyentuh wajah Setta. Pipinya terasa perih teriris kuku tajam tersebut. Setta mencoba meraih tangan si empunya kuku tersebut. Tangan yang kasar penuh dengan keriput dan luka berongga membuat Setta merasa jijik dan ingin berteriak, tapi ia tak bisa melakukannya. Bau gosong tercium dari tangan misterius itu.
Wajah Setta kini tertutup dengan kedua tangan sosok tersebut. Membekap dan membuatnya sulit bernafas. Sampai akhirnya ia berhasil membuka mata dan lepas dari tangan misterius tadi. Gadis itu mulai bernafas lega. Setta menoleh ke belakangnya tak ada apapun lagi di sana. Tapi, suasana dalam studio bioskop itu berubah. Kursi yang tadinya berwarna biru itu kini berubah jadi merah. Film yang terpampang di layar besar itu juga berbeda.
__ADS_1
"Dimana yang lain, apa kau berada di bioskop yang salah?" gumam Setta.
"Masuk... semuanya masuk...!!!" perintah seorang pria bersuara berat dengan nada kencang mendorong empat orang di hadapannya.
Setta segera bersembunyi di balik kursi bioskop, sesekali ia mengintip dari celah di antara dua kursi tersebut.
"Kalian semua duduk!" ucap pria itu seraya mengacungkan pistol ke hadapan empat orang itu. Perempuan muda masuk dengan membawa tali. Ia mengikat empat orang yang duduk di kursi itu dengan kuat.
"Marni, apa yang kau lakukan?" tanya seorang pria yang memakai seragam petugas satuan kemanan di dalam bioskop ini.
"Hai Romi... perkenalkan ini pacarku willy," ucapnya sembari mengecup bibir Willy di hadapan semuanya.
"Marni, kau itu kan pacarku? kurang ajar kau!" pekik Romi.
"Ckckckckck... kau pikir aku mau begitu saja menjadi pacarmu, aku hanya memanfaatkanmu agar bisa bekerja dalam bioskop ini hahaha," Marni tertawa dengan puas.
"Lalu apa yang kau inginkan dengan kami!" pekik seorang wanita paruh baya yang duduk di samping Romi.
"Ibu Handayani yang terhormat, tujuan ku masuk dan bekerja di sini adalah bertemu dengan ibu lho," ucap Marni berjalan mondar - mandir di hadapan mereka dengan senjata api revolver di tangannya.
"Hmmm... masih ingat Silvia? petugas tiketing di sini?" tanya Marni.
Ibu Handayani menoleh pada Rio anak laki-laki semata wayang yang duduk di sampingnya.
"Nah kalian masih ingat kan?" Marni mengetuk ujung revolvernya di dahinya sendiri.
"Silvia itu kakakku, perempuan yang kau hamili itu kakakku, DIA KAKAKKU...!!!"
Marni berteriak di hadapan Rio sambil mengacungkan pistolnya. Celana Rio basah, ia sangat ketakutan sampai terkencing-kencing di celananya.
"Kini kau takutkan? kenapa kau janjikan kebahagiaan padanya, kalau nyatanya ibumu menjodohkan mu dengan perempuan ini!!!" pekik Marni yang kini mengacungkan pistolnya di hadapan istri Rio yang duduk di sampingnya.
"Aku mencintai Silvia, tapi ibuku melarang," ucap Rio yang menangis dan menoleh pada ibunya.
"Dasar pengecut...! dasar anak mama! kau itu hanya bisa bersembunyi di balik ketiak ibumu, tapi kenapa kau hamili kakakku? kakakku keluargaku satu-satu, dia bunuh diri karena mu."
__ADS_1
"DAN ITU SANGAT MENYAKITKAN UNTUKKU...!!!"
Marni terus berteriak tak terkendali sampai ia meletuskan senapan tersebut dua kali ke hadapan istrinya Rio. Perutnya yang sedang hamil itu tertembak. Darah bersimbah di kursi samping Rio. Istrinya tewas seketika di sampingnya.
Rio makin menangis kala melihat jasad istrinya di sampingnya.
"TAPI DIA TAK BERSALAH KENAPA KAU BUNUH DIA...!" pekik Rio.
"Ups... Aku tak sengaja hihihi," ucap Marni dengan santainya tanpa rasa bersalah.
"Kau gila Marni... kau sudah gila!" Romi meneriaki Marni.
Dor...!!!
Peluru itu menembus dahi milik Romi yang langsung menewaskannya. Rio dan ibunya makin ketakutan dan menangis.
"Maafkan kamu Marni, maafkan kami, aku akan berikan uang sebanyak yang kamu mau," ucap Ibu Handayani.
"Ummm baiklah... sayang di mana laptopnya?" Marni menoleh pada pria yang membantunya itu dan meletakkan laptop di hadapan Ibu Handayani.
"Di laptop ini, aku sudah tau beberapa akun mobile banking milik ibu, ada lima bank kan? nah kirimkan semua saldo ibu ke lima yayasan ini, dan lima nama ini, sekarang...!" bentak Marni.
"Ta-tapi..."
*****
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All...😘😘