With Ghost

With Ghost
Chapter 100 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 100 ***


“Aku kembali ke dalam ya, Nathan dan Tia butuh bantuanku,”


ucap Gibran lalu turun dari mobil polisi tersebut.


“Hati-hati ya, kak,” ucap Setta.


“Kamu gak apa-apa kan kalau aku tinggal sama mereka?” Gibran


menunjuk para sosok hantu yang berada di sekitran gedung tua tersebut.


“Gak apa-apa, aku udah biasa.” Setta menunjukkan senyum


manisnya pada Gibran.


Pria itu menyentuh pipi Setta dan mengusapnya perlahan, lalu


pergi ke dalam.


“Kok, sentuhan tangan Kak Gibran dingin banget, sih?” gumam


Setta pada dirinya sendiri. Gadis itu mengangkat tangannya untuk berdoa. Ia


memohon keselamatan abang, Tia dan Gibran di dalam sana.


***


“Kita duel tanpa senjata!” seru Budi menantang Nathan.


“Baiklah…”


Nathan melempar pistolnya ke arah kaki Tia, di sampingnya.


Gemerutuk tangan kekarnya berbunyi saat melakukan pemanasan. Inilah yang sudah


Nathan tunggu, berkelahi dengan Budi si penguasa rumah tahanan tempat dia


di tahanan kemarin. Sementara, Tia masih menatap wajah Sarah yang menyebalkan


itu. Kedua mata gadis itu saling menatap waspada tanpa gerakan apapun.


Pertarungan tangan kosong Nathan dan Budi sangatlah sengit.


Wajah mereka penuh luka pukul sampai memar. Meskipun usia Budi lebih tua dari


Nathan, akan tetapi fisiknya boleh diacungi jempol.


“Sampai kapan kau akan bertahan?” Tanya Budi seraya memiting


leher Nathan.


“Arrkkhh… sampai… sampai kau mati!” sahut Nathan.


Dengan segenap kekuatan yang tersisa yang ia punya, Nathan mengangkat tubuh


pria paruh baya itu dengan punggungnya lalu membantingnya ke tanah.


“Arrgh… kau benar-benar…” gerutu Budi.


Sarah bersiap menghantam Nathan dengan sekop di tangannya


untuk menolong ayahnya.

__ADS_1


“Kupecahkan kepalamu dengan pistol ini meskipun bergerak satu senti saja!” ancam Tia


yang sudah sigap menodongkan senjata apinya ke arah Sarah.


“Sial,” gumam Sarah melirik tajam ke arah wanita di sampingnya


itu.


Nathan berhasil mematahkan kaki kanan milik Pak Budi dan kini


tubuh tegap Nathan sudah berada di atas perut lawan tarungnya itu. Polisi itu berusaha


mencekik leher pria yang mulai kalah itu. Namun, betapa liciknya saat Pak Budi


meraih pisau lipat di saku celananya lalu menusukkan pisau lipat itu ke perut


Nathan.


“Nathan…!!!” pekik Tia saat melihat tangan Nathan menutupi


luka tusuknya yang mengucurkan darah segar.


Bug…


Sarah menghantam kepala belakang Tia yang lengah karena perhatiannya


tertuju pada Nathan.  Tia jatuh tak sadarkan diri.


“Tia…aarrkkh…” Nathan berusaha meraih tangan Tia dengan


menyeret tubuhnya.


“Oh… manis sekali kalian, bagaimana jika kalian mati bersama?”


“Tia, bangun Tia, kumohon bangun!”


Nathan berusaha menepuk pipi gadis itu dipangkuannya. Cairan hangat keluar perlahan dari tempurung kepala


bagian belakang gadis itu.


“Hmmm… kau baru sadar kan kalau kau itu bodoh! Kau tak peka dengan ketulusan gadis ini yang sangat mencintaimu. Sayangnya, kau malah memberikan hatimu itu padaku, oh bodohnya hahahaha…”


Sarah makin mengejek dan menertawakan Nathan. Pria itu sudah tak perduli lagi, ia masih menangis seraya mendekatkan wajahnya ke pipi Tia.


“Sarah bantu ayah, nak!” lirih suara Pak Budi terdengar.


“Tunggu di sini, sebentar lagi aku akan menghabisimu,” ucap Sarah, ia langsung menoleh dan membantu ayahnya.


“Di mana Wira?” Tanya Pak Budi.


“Entahlah ayah, dia kan masih di dalam, aku akan membawa ayah padanya,” sahutnya sambil memapah tubuh ayahnya menuju ke dalam gudang meninggalkan Nathan dan Tia sementara waktu.


Betapa terkejutnya gadis itu saat mendapati tangan Wira telah terborgol oleh Ridwan.


“Jangan bergerak! Diam di tempat!”


Suara Ridwan lantang menggema seraya menodongkan senapannya.


Para polisi lain yang sudah mengepung gedung tersebut juga menodongkan senjata apinya ke arah Sarah dan Budi.


“Kau pergilah, Nak!” bisik Budi pada anaknya itu.


“Tak akan, aku tak akan meninggalkan ayah,” ucap Sarah balas berbisik.

__ADS_1


“Ku bilang pergi! larilah, dan pastikan kau akan membuat kericuhan lagi nanti di penjara untuk membebaskanku dan Wira,” bisiknya.


“Tapi, yah…”


“Pergilah!”


Budi melepas tangan Sarah dari bahunya. Wanita itu bergerak perlahan berlindung di belakang tubuh ayahnya lalu segera berlari.


“Berhenti….!!!” Teriak Ridwan.


Dor… Dor… Dor…


Pak Budi langsung menghalangi tembakan yang mengarah kepada Sarah. Tubuhnya penuh luka terjangan peluru. Dia mengorbankan dirinya dan tewas seketika.


“Ayah…”


Sarah menyeka air matanya sambil tetap berlari menuju sebuah sepeda motor sport yang sudah terparkir di halaman belakang gudang. Ia melarikan diri dengan membawa dendam. Sorot lampu sepeda motornya mantap


menembus kegelapan malam pekat di jalan sepi itu. Wanita itu menghilang tanpa jejak.


“Kamu gak apa-apa kan, Tan?” Tanya Gibran mencoba menyadarkan sahabatnya itu.


“Tolong bantu Tia dulu…” pinta Nathan sambil menahan rasa sakit di bagian perutnya.


“Oke, aku akan bawa pertolongan untuk kalian.”


Tak lama kemudian, Ridwan dan pasukannya membopong tubuh Nathan dan Tia menuju mobil ambulance yang sudah disiapkan. Setta mengikuti mobil ambulance tersebut dengan mengendarai mobil polisi yang dikendarai


Ridwan. Gadis itu menatap lekat ke wajah Gibran yang terus menggenggam tangannya saat duduk di sampingnya.


***


Setibanya di rumah sakit, Nathan dan Tia langsung di tangani oleh tim medis. Untungnya kondisi Setta sudah stabil setelah dokter melakukan pengecekan kepadanya.


“Gimana kondisi kamu?” tegur Gibran yang duduk di samping Setta saat sedang menunggu di depan ruang operasi kakaknya itu.


“Alhamdulilah , aku gak apa-apa kata dokter. Terima kasih ya, kakak selalu ada buatku dan kak Nathan.” Setta menunjukkan senyum manis nan hangatnya.


“Sama-sama, tapi maaf mungkin ke depannya aku gak bisa bantu kamu lagi sama Nathan,” ucap Gibran yang menatap lekat ke wajah Setta.


“Maksud kakak?” Tanya Setta tak mengerti.


“Senyum, Ta. Kumohon berikan aku senyum semanis tadi, senyum yang akan aku ingat selalu.”


“Aku makin gak ngerti deh kakak ngomong apa?”


“Tak perlu dimengerti jika sulit dimengerti nantinya, yang jelas aku hanya ingin kamu tahu, kalau aku sayang banget sama kamu.” Gibran menggenggam kedua tangan Setta seraya berlutut di hadapan gadis itu.


“Kakak…”


“Aku akan selalu mendoakan kamu supaya Tuhan kasih kamu pasangan yang terbaik, yang bisa jagain kamu lebih baik dari aku bahkan lebih baik dari Nathan. Ya kalau kamu tiba-tiba suka sama Jin, bolehlah aku merestui. Dia itu laki-laki yang baik dan aku yakin dia juga rela berkorban untukmu,” ucap Gibran lalu mengecup punggung tangan Setta.


“Kak Gibran pasti bercanda, feeling aku pasti salah… aku mohon jangan bercanda!” pekik Setta. Bulir bening itu tiba-tiba menetes dari pinggir kelopak mata lentiknya.


******


Dua episode terakhir.


Cukup menguras emosiku untuk membuat ini.


Mohon maaf kalau Vie nulisnya sambil mengiris bawang agak pedih jadinya.


Terima kasih untuk para pembaca setia With Ghost dari episode awal sampai episode ini.

__ADS_1


Vie love you all…


__ADS_2