
*** Chapter 42 ***
"Ada apa ini?" seorang pria berwajah oriental yang berusia kurang lebih lima puluh tahunan dengan perut buncit datang ke area pabrik.
"Ini mas, adeknya kesurupan," ucap Ibu Emi menghampiri pria tersebut. Ibu Emi ternyata istri dari pria tersebut.
"Lho kenapa pabrik saya jadi ada warga luar begini memangnya anak-anak ini anggota polisi?" tanya pria itu.
"Anda Bapak Richard?" tanya Bejo.
"Iya saya Richard, kenapa?" tanya nya.
"Mari ikut saya biar saya jelaskan pak, kenapa mereka ada di sini," ucap Bejo membawa bapak Richard menjauh dari kerumunan.
Nathan masih memeluk Setta dengan erat karena tubuh adiknya itu masih kejang.
"KAMU...KAMU PEMBUNUH... KAMU PEMBUNUH... PEMBUNUH... AAARRGGHHH..."
Teriakan dan erangan Setta yang makin tak jelas tak karuan terus terdengar.
Seorang pria memakai baju koko dan sarung serta peci hitam datang ke hadapan Nathan. Di tangannya terdapat tasbih yang terbuat dari kayu berukuran lafadz takbir, tahmid, dan tasbih di permukaan tasbih miliknya.
"Bisa minta air?" ucap Ustad Naufal.
Jin langsung berlari mencari air mineral kemasan botol di warung kelontong samping pabrik dan buru-buru membelinya lalu berlari lagi untuk segera menyerahkan pada Pak Ustad Naufal.
"Ini ustad, airnya," ucap Jin.
"Terima kasih," ucap Ustad Naufal lalu membuka tutup botol air mineral tersebut dan membacakan ayat-ayat suci Al quran. Ustad Naufal kemudian meniupkan ke botol tersebut. Air tersebut di percikkan ke wajah Setta. Atas ijin Allah Yang Maha Kuasa, Setta berhenti kejang-kejang dan tersadar.
"Berikan air ini pada anak ini, minta dia minum!" ucap Ustad Naufal.
Nathan segera memberikan air minum tersebut pada Setta.
"Bagaimana Nak, sudah enakan badannya?" tanya Pak Ustad.
"Su-sudah, pak ustad," jawab Setta.
"Alhamdulillah... Tidak baik anak seperti dia berlama-lama di sini, lebih baik cepat bawa pergi!" pinta Pak Ustad Naufal.
"Baik pak, terima kasih," sahut Nathan.
Setta menatap ke arah hantu perempuan yang gosong tadi yang berdiri di tengah pintu pabrik.
"Sudah jangan kamu lihat terus nak, dia tidak akan bisa mengganggu kamu dan menggunakan tubuh kamu sekarang ini," ucap Pak Ustad lirih di samping Setta.
Setta menunduk tak mau melihat ke arah hantu tersebut. Nathan membawa Setta masuk ke mobil Ridwan.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pamit dulu ya," pinta Ustad Naufal.
"Pak Ustad tunggu bentar, ini ada sedikit buat bapak," Nathan mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celananya.
"Enggak dek, enggak usah saya ikhlas membantu adik tadi," Pak Ustad mendorong kembali sodoran uang dari Nathan.
"Saya makasih banyak ini lho pak jadinya, kalau begitu apa saya boleh mampir ke rumah bapak, kapan-kapan?" tanya Nathan.
"Tentu saja boleh, rumah saya selalu terbuka untuk siapapun tapi tidak untuk maling lho hehehe, silahkan main ke rumah saya, main ke majlis ta'lim saya, ikut pengajian juga boleh banget," ucap Ustad Naufal.
"Baik Pak Ustad, kalau begitu insha Allah pasti saya main," Nathan mencium punggung tangan Pak Ustad Naufal sebelum beliau pamit untuk pulang.
Nathan menghampiri mobil Ridwan dan memberi pesan padanya.
"Bawa adik aku pergi dari sini Wan, hati-hati ya di jalan," ucap Nathan pada anak buahnya itu yang bertanggung jawab untuk menjadi supir bagi rombongan Setta pulang.
"Dek, nanti kalau udah sampai rumah kamu hubungi abang ya," pinta Nathan.
"Iya bang," sahut Setta.
"Tunggu...!!!" Tia berteriak dari kejauhan sambil membawa kotak p3k.
"Kenapa Tia?" tanya Nathan.
"Ini tolong obati luka Setta," ucap Tia.
"Makasih ya kak," ucap Setta.
Tia mengangguk dan tersenyum lalu ia tutup pintu mobil avanza milik Ridwan itu perlahan.
"Saya pamit ya pak," ucap Ridwan melambai pada Nathan dan Tia.
"Hati-hati ya...!"
Nathan dan Tia mengucap bersamaan. Karena terkejut mengucap bersamaan, keduanya saling tatap lalu tersenyum canggung.
"Makasih Tia, tadi kamu udah baik sama adik saya," ucap Nathan.
"No big deal kok Pak, Setta udah saya anggap sebagai adik saya sendiri kok, tinggal abangnya aja nganggep saya jadi calon kakak iparnya Setta apa enggak, ihiiiyyy..." Iya tertawa menggoda Nathan.
"Kamu tuh ya, di tempat kejadian perkara kayak gini aja masih gombalin saya," ucap Nathan.
Tia hanya tersenyum lalu pergi menuju ke dalam pabrik roti untuk menyelidiki kembali bersama yang lain. Nathan tersenyum-senyum sendiri mengingat ucapan Tia.
"Hai Nath!" Sapa Sarah yang baru saja turun dari mobilnya lalu menghampiri Nathan dan menepuk bahunya.
"Eh kamu...?" tanya Nathan yang tiba-tiba terkejut dengan kedatangan Sarah.
__ADS_1
"Hayo mikirin apa? kamu mikirin aku ya sampai kaget kayak gitu?" tanya Sarah dengan menunjukkan senyum manisnya.
"Eng-enggak kok emang kaget aja, aku mikirin Setta soalnya dia habis kesurupan tadi."
"APA?! SETTA KESURUPAN...?!" pekik Sarah membuat rekan kerjanya menoleh karena terkejut.
"Iya dia kesurupan, tapi udah gak apa-apa, ada Pak Ustad tadi yang nolong," ucap Nathan membawa Sarah menuju kantung jenazah korban.
"Lagian kok bisa Setta sampai sini?"
"Aku tadi jemput dia habis ikut camping, soalnya bis rombongan yang lain udah pulang duluan, sisa dia sama satu guru dan dua orang temannya yang harus aku jemput, karena Rania bilang ke aku kalau Setta mau cari kawannya yang hilang, dan taunya kawannya mati di bunuh."
"Astaga serem banget sih, pasti Setta ya yang lihat penampakan atau pembunuhannya?" tanya Sarah.
"Ya begitulah... Tapi untungnya di sana ada Gibran kawan SMA ku yang sudah menjadi polisi seperti ku, dan Gibran juga punya kemampuan seperti Setta."
"Wah hebat, kalau semua polisi seperti itu pasti semua kasus terselesaikan ya hehehe."
"Sayangnya aku gak bisa kayak gitu," sahut Nathan.
"Eh bukan maksud aku Nath, aku cuma bercanda tadi," Sarah mencoba menghibur Nathan.
"Ya aku tahu kok, tenang aja," Nathan membuka resleting kantong jenazah itu dan menunjukkannya pada Sarah.
Di ujung sana Tia dan Bejo memperhatikan Nathan dan Sarah.
"Haduh udaranya panas banget sih," gumam Tia sambil mengibas-mengibaskan map yang berisi laporan TKP ke arah wajahnya.
"Bukan cuaca yang panas, hati kamu yang panas hahaha," sahut Bejo.
"Sialan kamu!" umpat Tia.
************
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘
__ADS_1