
*** Chapter 83 ***
"MAMI... PLEASE BUKAIN PINTU MAMIIIII...." Rania terus berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamarnya.
"Itu kenapa si Rania di kunci kamarnya seperti itu?" tanya maminya Rania.
"Maaf bu, saya hanya melakukan perintah bapak," ucap Wira lalu pergi membawa kunci kamar Rania.
"Mami buka pintunya, mi!" Rania masih berteriak dari dalam kamarnya memohon pertolongan sang mami.
"Maafin mami nak, mami gak bisa bukain pintu buat kamu," ucap sang mami dari sisi luar pintu.
"Hape, mana tadi hape aku ya..." gumam Rania seraya mencari ponselnya di sekeliling kamarnya, namun tak jua ia temukan.
"Ah... brengsek pasti di bawa tuh hape aku sama si ajudan gila papi aargghh...!!!" Rania menampar semua skin care di atas meja riasnya jatuh ke lantai. Membanting dan melempar semua yang bisa ia raih sampai memuaskan kekesalannya.
***
Seminggu sudah Nathan mendekam di penjara. Dia sudah dipindahkan ke rumah tahanan kota. Nathan bertemu dengan seorang pria paruh baya yang di hormati di dalam sel tersebut. Dia bernama Budi Rahardjo.
"Kenapa kau sampai ke sini?" tanya Budi dengan suara datar dan dingin.
"Aku di duga membunuh Madam Laura, wanita pemilik Blue House," ucap Nathan menjawab pertanyaan pria tersebut dengan menundukkan kepala.
Tubuhnya lelah setelah selama seminggu ini sibuk mengurusi para tahanan yang balas dendam padanya. Dia mencoba bertahan bahkan meladeni permainan pukul, memukul, di tendang dan menendang sampai babak belur. Banyak juga tahanan yang masuk ke dalam penjara tersebut karena Nathan.
"Benar bukan kamu yang membunuhnya?" tanya Budi.
"Aku hanya dijebak, aku kesana untuk mencari informasi keterlibatan walikota Sahrudin dengan Blue House, tapi sudahlah mungkin memang ini jalanku,"
"Akhirnya kau berurusan juga dengan walikota sialan itu," gumam Budi.
"Anda mengenalnya?" tanya Nathan.
"Hmmm... para preman yang masuk sini, pasti tau ulah kotor walikota busuk itu," sahutnya.
__ADS_1
"Ulah kotor?" Nathan menyimak dengan seksama kali ini.
"Korupsi, perdagangan gadis bahkan di gadis di bawah umur, dan pastinya pembunuhan, karena seorang sepertinya dapat menghalalkan segala cara untuk meraih ambisinya," ucap Pak Budi.
"Anda mengenalnya sangat baik sepertinya, bukan begitu pak?"
"Sangat baik, sangat baik..." ucap Pak Budi seraya pergi meninggalkan Nathan.
"Heh polisi sial...!" seorang tahanan bertato naga di bahunya itu menghentikan langkah Nathan menyusul Pak Budi.
"Ada apa lagi...?" sahut Nathan menoleh ke arah suara yang memanggilnya tadi.
"Nanti malam jam tujuh di belakang gudang, kalau kamu tak datang..."
"Apa?" tantang Nathan.
"Temanmu itu kakinya akan dipatahkan!" ucap pria bertato itu lalu pergi setelah mengancam.
Nathan menoleh ke arah teman satu selnya. Namanya Anto yang di penjara hanya karena ia berhutang satu juta rupiah demi membiayai anaknya yang sakit. Sudah nyawa anaknya tak tertolong ia malah di laporkan ke polisi terkait utang satu juta rupiah oleh kakaknya sendiri, sungguh miris.
"Oke Nto, kamu tenang aja aku akan lindungi kamu, aku akan datang ke pertarungan itu," ucap Nathan seraya menepuk bahu Anto.
"Terima kasih, terima kasih pak," ucap Anto penuh haru.
***
Siang itu, ponsel di tangan Setta berbunyi saat dia berada di teras memandang fotonya bersama Nathan. Ternyata ibunya Rania menghubungi kediaman Setta. Wanita itu menceritakan perihal penyekapan Rania semenjak seminggu yang lalu. Hanya Wira yang bisa membuka kamar tersebut saat memberikan Rania makan. Namun, Rania selalu melempar makanan tersebut ke wajah Wira dengan amarah dan kesal. Rania bertahan dengan minum air putih. Meski terkadang ia juga harus mengakui kalau ia lapar, jadi dia bertahan dengan susu rasa pisang kesukaannya yang masih dia stok satu kardus.
Saat menghubungi Setta, pak walikota tahu yang dilakukan isitrinya. Dia marah karena tak ingin ada teman sekolah Rania yang tau keadaan sebenarnya. Dia segera membawa istrinya untuk pergi dari rumah.
"Sebenarnya apa sih mas yang terjadi?"
"Ibu gak usah tau, gak perlu tau urusan saya, ayo ikut saya sekarang!" ucap Pak walikota.
"Tapi mas, itu Rania gimana?"
__ADS_1
"Rania urusan saya, ibu tenang aja," ucapnya membawa istrinya pergi dengan paksa.
Setta masih mendengar pembicaraan antara pak walikota dan istrinya karena sambungan teleponnya belum terhenti kala itu.
"Kenapa, Ta?" tanya Tia yang melihat wajah cemas pada Setta.
"Rania, kak..."
"Kenapa Rania?" tanya Tia lagi.
"Rania di sekap di rumahnya dan dia menolak untuk makan," jawab Setta menjelaskan perihal yang ia dengar tadi dari ibunya Rania.
"Wah gawat, terus gimana nih, kita tolongin Rania ke rumahnya gimana?" Tia mencoba memberi ide.
"Gak semudah itu kak, Rania pasti ada yang jaga, dan kita gak akan gampang buat bebasin Rania," ucap Setta.
"Kita susun rencana," sahut Jin yang tak sengaja mendengar pembicaraan Setta dan Tia.
"Rencana yang seperti apa nih, Jin?" tanya Tia.
"Aku panggil Aryo dulu ya, butuh pemain tambahan untuk menjalankan rencana ini," ucap Jin.
******
To be continue alias bersambung...
Jangan lupa siapkan amunisi poin untuk Vote terutama ke Pocong Tampan hehehe...
Mampir juga ke novel ku lainnya.
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
- Kakakku Cinta Pertamaku
__ADS_1