
*** Chapter 96 ***
"Hahaha gadis ini lucu sekali ya, pantas saja pak walikota sangat menginginkan dia untuk menjadi wanita simpananya," ucap Wira dengan tawa yang menyeringai.
"Apa? si tua bangka Sahrudin itu menginginkannya?" Sarah menoleh pada Wira yang memeluknya dari belakang.
"Iya, si rubah kecil ini pernah berpura-pura bekerja di Blue House. Ia membuat si Sahrudin itu terpesona dan begitu menginginkannya. Tapi dia cukup pintar lho, dia tak pernah tidur dengan para pria hidung belang di sana, dia menyewa wanita lain untuk menggantikannya."
"Wah... kau memang hebat ya, Tia."
Sarah bertepuk tangan memuji Tia.
"Kau juga kan yang mengadu pada polisi tentang Blue House?" Tanya Wira.
"Dia itu kan polisi, wajar saja dia memberi informasi ke sesamanya." Sahut Tia.
"Tapi karena itu rencana ku gagal, aku jadi harus membunuh si Madam Laura."
"Tapi kan kau jadi mempertemukan Nathan dengan ayahku," ucap Sarah.
Ayah?
Iya aku ingat pria di dalam bingkai foto itu. Pria itu bertemu denganku di dalam penjara saat menjenguk Nathan.
Batin Tia teringat akan pertemuannya dengan Pak Budi.
"Oh iya betul aku jadi mempertemukan si bodoh itu dengan ayahmu."
"Hei sayangku jangan bilang pria itu bodoh di depan wanita yang begitu menggilai seorang Nathan, iya kan Tia? tapi sayangnya Nathan malah tergila-gila padaku, sosok misterius yang selalu memberinya paket cinta, hahahaha..." Sarah tertawa dengan puasnya di sambut dengan tawa juga oleh Wira.
"Jadi kau... jadi kau yang selama ini mengirim paket misterius itu?" Tia menunjuk Sarah.
"Dan satu hal lagi yang belum kau tahu, aku juga yang membunuh Bejo, ups... maafkan aku," ucap Sarah dengan tawa yang menyebalkan di hadapan Tia.
Ucapan Sarah barusan membuat darah di dalam tubuh Tia mendidih. Tia maju ke hadapan Sarah dan memukul wajahnya.
"Dasar wanita iblis...!!!" Pekik Tia.
Sarah langsung menarik rambut Tia dengan sangat kuat sampai membuat gadis itu berteriak.
"Apa kau bilang, aku wanita iblis? jaga ucapanmu!" Sarah berucap lantang di telinga milik Tia.
Jleb...
Wira menusukkan jarum kecil ke leher Tia membuat gadis itu langsung tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Jangan buang tenagamu sia-sia karena gadis ini, cepatlah ayahmu sudah menunggu di gudang tua sana. Sekarang dimana para gadis itu?" tanya Wira.
"Ada di kamar sana," sahut Sarah menunjuk ke arah kamar dekat dengan dapur.
Rania segera membangunkan Setta, ia menceritakan yang ia dengar dengan berbisik.
"Kau yakin, Rania?" tanya Setta mulai panik dan mencoba membantu Rania membuka jendela kamar tersebut.
"Ah kenapa sih harus ada teralisnya?" Rania mendorong teralis besi di hadapannya tersebut bahkan juga menendangnya sekuat tenaga.
Pintu kamar terbuka, masuklah Wira dan Sarah seraya memamerkan senyuman sinisnya pada dua gadis yang ketakutan tersebut.
"Kamu lari ya, Ran!" bisik Setta.
Rania menggeleng, "Aku tak mau meninggalkanmu."
"Nanti aku menyusul," ucap Setta meyakinkan Rania.
"Hai Setta hai Rania...," ucap Sarah dengan senyuman manisnya.
"Tak usah kau basa-basi lagi denganku!"
Setta menatap Sarah dengan tatapan tajam.
"Hmmm rupanya kalian sudah mendengar pembicaraan kami ya, baguslah kalau begitu, pekerjaanku jadi lebih mudah, ayo ikut kami!"
"RANIA LARI...!!!" Teriak Setta.
Rania sempat menoleh ke belakang namun ia harus berlari ke tempat aman untuk saat ini.
Wira yang terlanjur kesal menarik kepala Setta dan membenturkannya ke pintu kamar. Gadis itu langsung tak sadarkan diri.
"Aku bawa gadis ini, kamu bawa polisi itu!" Wira memberi Sarah perintah.
"Baik mas," ucap Sarah yang segera menarik tangan Tia dan memapahnya ke dalam mobil.
Tangan Tia dan tangan Setta sudah terikat kencang saat mereka melajukan mobilnya ke sebuah gudang tua tempat pak walikota dan Jin di sekap.
***
Rania berlari sampai ke sebuah pos kamling yang terdapat tiga orang bapak sedang bermain kartu di sana.
"To-tolong, tolong saya pak!" ucap Rania lirih sebelum ia jatuh ke tanah tak sadarkan diri.
Satu jam kemudian, Rania terbangun di sebuah rumah milik ketua RT di sana.
__ADS_1
"Ratu, ini temannya sudah sadar," seru seorang wanita paruh baya memanggil nama Ratu.
"Hai, Ran!" sapa Ratu.
"Kak Ratu, kamu? ini rumah kamu?" tanya Rania yang mencoba duduk di bantu oleh ibu tadi.
"Bukan, ini rumah mbok Yani, dia asisten rumah tangga di rumahku dulu. Aku kabur dari rumah, hehehe." ucap Ratu.
Ada perubahan sifat yang terlihat pada Ratu. Dia tak lagi angkuh, judes dan sombong.
"Kamu kenapa lari-lari sampai pingsan?" tanya Ratu.
"Oh iya aku harus ke kantor polisi, Setta di culik," ucap Rania dengan nada panik.
"Wah gawat dong! coba mbok Yani tolong hubungi polisi segera!" ucap Ratu.
Mbok Yani segera menuruti permintaan Ratu.
"Kamu mau kemana Ran, memangnya kalau kamu pergi kamu bisa cari Setta dan nolong dia? kita butuh bantuan polisi lho," ucap Ratu mencegah Rania pergi.
"Tapi kak...,"
"Udah tenang dulu, kamu minum dulu ya, nih." Ratu menyerahkan segelas air putih untuk Rania.
"Gimana kabar kak Santi?" tanya Rania.
"Santi udah meninggal, Ran. Semenjak itu aku udah kaya orang stress kalau inget kelakuan aku sama Rosi. Aku udah minta maaf sama keluarganya setelah kematian Bara dan Santi. Sekarang aku malah lebih nyaman tinggal di sini."
Sekarang Rania mengerti kenapa Ratu bisa berubah drastis sifatnya lebih baik seperti sekarang ini.
"Aku udah lama tau tak ks sekolah, aku tak ikut ujian juga, gimana ya kabar Jin sama Aryo?" tanya Ratu menoleh ke arah Rania.
"Oh iya kak Jin, dia kan sudah dua hari diculik juga, kak."
"APA?! JIN DICULIK?!" Pekik Ratu dengan paniknya.
*****
To be continue...
Mampir juga ke novel ku lainnya.
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
__ADS_1
- Kakakku Cinta Pertamaku