
*** Chapter 85 ***
"Pak Ujang tolongin aku, please..." Rania memohon dengan memelas pada tukang kebunnya.
Pak Ujang bersiap menyentuh golok di pinggangnya membuat mereka yang ada di hadapannya bergidik ngeri.
"Ini non kuncinya, lekas pergi dari sini!" pinta Pak Ujang.
"Alhamdulillah... kirain saya mau di tebas pak," gumam Jin.
"Ayo tunggu apa lagi, lekas pergi dari sini!" ucap Pak Ujang sekali lagi.
"Makasih ya pak," ucap Rania seraya mencium punggung tangan tukang kebunnya itu. Setta dan lainnya juga berlaku sama terhadap Pak Ujang.
"Aku tahu kalian pasti anak-anak yang baik," gumam Pak Ujang seraya menyeka air matanya yang tak sengaja menetes.
"Buruan...!!!" ucap Tia dari dalam mobil kijang hijau tersebut.
Setelah semuanya masuk ke dalam, mereka bergegas pergi meninggalkan rumah Rania.
***
Malam itu di gudang belakang dalam penjara, Nathan bersiap meladeni pertarungan antar penghuni narapidana. Kedua mata Budi memandang tajam dengan seksama memperhatikan pertarungan Nathan dan Yoga. Lagi-lagi Nathan berhasil memenangkan peetarungan tersebut.
Dor...
Letusan senjata api di arahkan ke udara oleh Bejo yang datang ke rumah tahanan malam itu.
"Apa-apaan ini, kamu juga Tan, kok bisa-bisanya ikut dalam pertarungan ilegal macam ini?" tanya Bejo.
"Merasakan kerasnya hidup di dalam penjara, sekali-kali kamu cobain hehehe," ucap Nathan menepuk bahu Bejo.
"Ayo ikut aku!" Bejo melirik Nathan agar mengikutinya.
"Ada apa? ada kasus baru yang gak bisa kamu pecahkan ya?" tanya Nathan.
Bejo membawa Nathan menuju sebuah ruangan yang sepi.
"Gibran udah kesini?" tanya Bejo.
"Belum, kenapa memangnya?"
"Kemarin ada paket misterius buat kamu, tapi sudah ku amankan, si pengirim bilang orang misterius itu ketemu di jalan Batu Biru. Menurut penelusuran Gibran dengan mata batinnya tuh paket berasal dari sebuah rumah tua di daerah itu," ucap Bejo.
__ADS_1
"Lalu tuh paket isi apa?" Nathan menaruh bokongnya di atas kursi kayu.
"Kamu tahu boneka voodoo?"
"Tahu." sahut Nathan.
"Nah kayak gitu, penuh jarum dan darah, di wajahnya ada foto kamu. Gak ada rasa sakit kan di tubuh kamu?"
"Enggak tuh, biasa aja. Terus kamu tahu siapa pengirimnya?"
"Ya belum tau makanya besok aku menuju ke sana."
"Makasih banyak ya, Jo. Aku penasaran banget siapa sih yang selalu iseng sama aku," ucap Nathan.
"Oke, Tan. Aku cabut dulu ya, kamu hati-hati di sini, jangan malah jadi berandalan macam mereka, sok banget adaptasi jadi preman segala," Bejo menyerahkan sekotak coklat pada Nathan.
"Dari siapa, cari cokelat model jaman dulu gini kan susah?" tanya Nathan menerima sekotak coklat berbentuk robot di dalam kemasan kaleng.
"Dari Tia, tadinya sih mau ke sini, tapi dia lagi punya rencana mau tolong Rania. Parah tuh walikota masa anak sendiri di sekap ckckck."
"Terus Setta ikut juga?"
"Iyalah," sahut Bejo.
"Jangan suruh pulang dulu Jo, jangan ada siapapun di rumah ku. Aku yakin walikota bakal cari Rania ke rumahku. Ku percayakan mereka padamu dan Tia." Nathan meremas bahu Bejo.
"Pak, cobain nih kue lapis," ucap Anto menawarkan sekotak kue lapis pada Nathan.
"Dari mana, Nto?"
"Gak tau, dari tadi ada di sini, enak banget pak, nih ada merek kuenya, dan ini merek mahal lho pak." Anto sibuk mengunyah kue lapis di tangannya dengan lahap.
"APA?! kamu gak tau itu dari siapa terus kamu makan gitu aja?"
"Kenapa sih pak, nakutin aja nih!"
"Muntahin makanannya Anto! muntahin sekarang!" pekik Nathan.
"Ah bapak, jangan terlalu parno, orang enak kok kuenya." sahut Anto.
Mungkin memang hanya ketakutan ku saja, semoga saja tak terjadi apapun pada Anto.
Batin Nathan seraya merebahkan dirinya di kasur dalam sel yang tipis itu.
__ADS_1
***
Sesuai arahan Nathan yang di sampaikan oleh Bejo, Tia membawa Setta dan Rania menuju sebuah rumah kontrakan milik ibunya Aryo yang masih kosong.
"Aku makasih banget nih, kamu udah mau ngerjain tempat sementara buat kita, sampai kita aman dari ayahnya Rania," ucap Tia menepuk bahu Aryo.
"Sama-sama kak, saya seneng kok bisa bantuin Rania, eh kalian."
"Hmmm... " Setta melirik ke arah Aryo.
"Aku cuma bisa ambil uang dua puluh juta, kira-kira cukup sampai seminggu gak ya kak?" tanya Rania menunjukkan uang yang dia ambil di atm miliknya tadi sebelum di blokir papinya.
"Itu cukup Ran, enam bulan juga cukup asal makan seadanya, lagi pula ada uang tabunganku juga nih," sahut Setta.
"Udah gak usah pikirin soal uang, yang jelas kalian sembunyi dulu di sini, jangan sekolah dulu sampai..."
"Sampai papi aku ditangkap dan bertanggung jawab sama semua kesalahannya." Rania menunduk.
Tak lama Bejo datang ke kontrakan tersebut.
"Ini baju-baju Setta sama semua perlengkapan yang sudah di siapkan mbok Inem," ucap Bejo seraya meletakkan satu koper besar milik Setta.
"Makasih kak Jo, lalu mbok Inem mana?" tanya Setta.
"Nathan tadi kasih uang suruh mbok Inem pulang kampung dulu, demi keamanannya. Tadi juga kata Jin ada orang yang ke rumah Setta mirip ciri-ciri si Wira," ucap Bejo.
"Lalu kak Jin mana?" tanya Setta.
"Cie nyariin..." Aryo menggoda Setta.
"Apaan sih, kan cuma nanya doang." Setta meninju bahu Aryo.
"Ada di rumahnya, tenang aja Ta, aku kirim orang buat jagain rumah kamu sama Jin. Moga-moga sih si Wira gak sampe kepikiran buat cari Jin."
Pembicaraan mereka berakhir dan Bejo pamit dari hadapan semuanya. Entah kenapa Setta melihat sebuah bayangan hitam mengikuti Bejo di sampingnya. Perasaan gadis itu mendadak tak karuan, ia malah merasa khawatir pada Bejo saat laki-laki itu pamit pergi.
******
To be continue alias bersambung...
Mampir juga ke novel ku lainnya.
- 9 Lives (END)
__ADS_1
- Gue Bukan Player (END)
- Kakakku Cinta Pertamaku