With Ghost

With Ghost
Chapter 89 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 89 ***


"Sakit bodoh!!" teriak Jin di hadapan pria berjaket hitam tersebut.


Plak...!!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Jin.


"Tak ada yang pernah mengatakan aku bodoh, siapapun bahkan ayahku sekalipun ku bunuh karena membentak ku dan mengatakan aku bodoh, mengerti?!" Pria itu berteriak pada Jin yang pipinya terasa panas akibat tamparan pria tersebut.


Jin menunduk, tak berani menatap lagi. Mendengar perkataan gertakan pria tersebut yang mengaku membunuh ayahnya sendiri saja cukup membuatnya bergidik ngeri.


"Sekarang katakan padaku, dimana Rania?" pria itu menyentuh dagu milik Jin dengan paksa, membawanya untuk menatap wajahnya.


"Mana saya tau kak, mungkin di rumahnya, atau kalau gak ada bisa aja kan dia di keluar negeri, maklum orang tajir," sahut Jin.


"Hahahaha kamu lucu sekali, sangat lucu, kau pikir aku akan percaya padamu begitu saja, hah?!"


"Kau lihat di dalam ruang tahanan itu, kau tahu siapa mereka?" pria itu menunjuk ke arah sepasang suami istri paruh baya yang wajahnya ketakutan sedang memperhatikan ke arah Jin dan pria misterius bagi Jin ini.


"Kau tau tidak...?!" bentaknya.


"Enggak pak, saya gak tahu," sahut Jin sembari menggelengkan kepalanya.


"Ah kalau begitu kau yang bodoh, perhatikan dong wajah pria tua itu baik-baik. Beliau tuh sering kali masuk tv tau menghiasi layar kacamu. Apalagi setiap ada kekacauan di kota pasti beliau hadir sebagai pahlawan kota yang menyelamatkan kota dari kekacauan. Padahal asal kau tahu saja, aku lah yang menyebabkan kekacauan kota atas perintahnya dan aku juga yang membereskan kekacauan tersebut. Tapi, dia yang tampil bak pahlawan, sungguh hebat kan."


Panjang lebar pria tersebut menjelaskan mengenai pria tua yang berada dalam sel tersebut seraya berjalan mondar-mandir di hadapan Jin.


"Aku tau, aku tau dia itu siapa, aku ingat sekarang, dia pak walikota kan?" ucap Jin menebak.


"Bingo!"


"Tapi, bukankah dia ayahnya Rania?" tanya Jin lagi.


"Bingo! kau semakin pintar, well done...!"


Pria itu bertepuk tangan dengan senangnya.

__ADS_1


"Wira, apa-apaan kamu, lepaskan aku!" Pak walikota berteriak memanggil nama Wira sang ajudan yang ternyata menghianatinya dan menyekapnya sekarang.


"Hmmm bapak walikota yang terhormat, yang akhirnya semua kebusukanmu sudah berada di tanganku hahaha..." ucap Wira.


"Kau... terkutuk kau!"


"Aku terkutuk? benar-benar tak tahu diri. Lihat istrimu itu!"


Walikota itu menoleh pada sang istri yang menangis sesenggukan di sudut ruangan sempit tersebut.


"Lihat kan? pernah kau tanyakan bagaimana perasaannya yang selalu kau khianati, kau selingkuhi dengan para wanita malam di Blue House?"


"Kau itu ya..."


"Dia tahu pak, dia tahu semua kebusukanmu, tapi perempuan hebat di belakangmu itu hanya terdiam menahan semua rasa sakitnya. Dia bertahan hanya demi Rania, betul begitu kan bu?"


Wira menoleh ke arah istri sang walikota begitu juga dengan si pak walikota tersebut.


"Betul itu mi? betul kau tau semua tentang perbuatanku?" tanya pak walikota Sahrudin pada sang istri.


"Lani, Aku..."


"Sudahlah pi, aku sudah tak peduli dengan apa yang kau lakukan, aku hanya bertahan demi Rania."


"Tapi aku tak pernah membunuh siapapun mi..." ucap Pak walikota meyakinkan.


"Walikota sebelumnya, Pak Husein, beliau meninggal karena ulahmu kan pi?" tanya ibu Lani.


"Aku... Aku... Aku hanya memberinya peringatan, memberinya ancaman agar dia mundur dari jabatannya, tapi... akhhhh aku tak sengaja membunuhnya."


Raut wajah frustasi memang terlihat di wajah sang walikota yang tampak kalut itu di hadapan istrinya.


"Hahahaha... Lihat kan bu Lani, betapa busuknya suami anda," ucap Wira menertawakan pak walikota dari balik sel.


"Ku mohon Wira, kau berurusan denganku, bukan dengan anakku, jadi mau apa kau cari Rania?" tanya pak walikota.


"Hmmm... bagaimana ya pak, dia dan sahabatnya itu sudah terlanjur tau semuanya."

__ADS_1


"Sahabatnya?"


"Setta pak, Rania hanya punya teman Setta dan Dahlia, tapi Dahlia sudah berada di kampung. Aku memang tak pernah tau bahkan tak mau tau kabar anakmu kan?" sahut ibu Lani.


"Yup betul sekali, begitulah bapak walikota hanya mementingkan diri sendiri. Begini ya, jika aku mendapatkan Rania, maka aku akan mendapatkan Setta, adik dari polisi hebat yang menyerangmu di kantor." ucap Wira.


"Polisi?"


"Wah kau kenapa mendadak bodoh seperti ini sih pak? polisi itu Nathan Prawira, dia itu kakaknya gadis yang bernama Setta, jika adiknya ku dapatkan maka..."


"Awas kalau kamu sampai sentuh Setta, langkahi dulu mayatku..!!!" Jin menggertak dari tempatnya terikat membuat Wira menoleh padanya.


"Jika gadis itu ku dapatkan maka apa yang kau akan lakukan ke padaku, hah...?!"


Wira menarik rambut belakang Jin.


Cuih...


Air liur Jin sampai di wajah Wira.


"Kurang ajar!"


Wira makin menarik rambut Jin sampai kursi itu jatuh. Kepala belakang Jin menghantam lantai dengan keras. Wira menginjak pipi kanan Jin dengan sepatu kulitnya.


"Aaargghhh...!!!" Jin berteriak kesakitan.


*****


To be continue alias bersambung...


Mampir juga ke novel ku lainnya.


- 9 Lives (END)


- Gue Bukan Player (END)


- Kakakku Cinta Pertamaku

__ADS_1


__ADS_2