With Ghost

With Ghost
Chapter 45 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 45 ***


"Kak Ridwan jangan pulang dulu, aku mau minta tolong," Setta segera menghentikan Ridwan yang hendak melajukan mobilnya.


"Kenapa Ta, memangnya?"


"Aku takut paket itu isinya ancaman lagi buat abang Nathan," ucap Setta mulai cemas.


Ridwan mematikan mesin mobilnya lalu turun menghampiri paket tersebut. Jin Aryo ikut mengikuti dari belakang.


"Tapi ini buat Nathan, masa gue buka?" ucap Ridwan.


"Aku telpon abang dulu ya jelasin ke dia," ucap Setta lalu menghubungi Nathan dari ponselnya.


Setelah Setta menghubungi Nathan dan menyambungkannya pada Ridwan, Setta mengambil sebuah cutter dari dalam rumah. Dia serahkan benda tajam tersebut pada Ridwan.


"Kalian semua mundur ya!" perintah Ridwan.


"Aryo, disuruh mundur malah maju," Jin menahan tangan Aryo.


"Habisnya aku kepo hehehe," sahut Aryo yang kemudian melangkah mundur.


"Boneka bayi perempuan isinya," ucap Ridwan menunjukkan pada semuanya.


Namun, Setta dan lainnya langsung mundur kala melihat Ridwan mengangkat boneka tersebut.


"Waaaaaaaaaa..." Teriakan Rania membawanya dan Setta menuju luar pagar. Begitu juga dengan Jin dan Aryo yang ikut menghindari paket tersebut.


Dari lubang di perut dan rongga mata boneka itu keluar belatung, ulat pakan burung, serta kelabang yang berjatuhan. Sadar ada yang merayap di tangannya, Ridwan lalu menoleh.


"Shit...!" Ridwan melempar boneka tersebut lalu berjingkrak-jingkrak agar para binatang menjijikkan itu terlepas dari tangannya.


"Eh kalian yang cowok-cowok bersihin dong!" ucap Rania.


"Eh dimana-mana kalau bagian bersih-bersih itu cewek tau!" balas Aryo.


"Idih ogah ah jijik," tukas Rania.


Setta masih terdiam dan mengamati sebuah bayangan yang berdiri di dekat kotak tersebut. Sekilas bayangan itu nampak seperti hantu Ana hanya saja tubuhnya lebih kecil. Gadis kecil tak kasat mata itu memakai piyama biru bermotif garis. Tubuhnya basah, pucat, kedinginan, dan menggembung seperti mati tenggelam.


Jin, Aryo, dan Ridwan menyemprotkan disenfektan dan semprotan obat anti serangga ke area halaman Setta.


"Nah kebetulan ada tukang sampah, Pak kesini pak!" Ridwan memanggil tukang sampah itu lalu memerintahkan bapak itu untuk membersihkan halaman rumah Setta dari binatang-binatang menjijikkan itu. Tak lupa juga Ridwan menyiapkan selembar uang lima puluh ribuan untuk di berikan pada bapak tukang sapu itu.


"Pak, boneka nya jangan di buang," pinta Setta.


"Buat apaan sih Ta, horor banget kayak gitu mau di simpen boneka gak jelas itu?" tanya Rania.


"Tau ih, nanti aku beliin aja boneka nya yang gede sekalian!" tukas Jin.

__ADS_1


"Enggak usah, ini biar aku bersihin aja, nanti kalau dibuang adeknya marah," ucap Setta mencuci boneka itu di keran air di halamannya.


"ADEKNYA...???"


Semua yang berada di sekitar Setta kompak menyahut bersamaan.


"Kompak bener, hehehe," ucap Setta seraya tersenyum.


"Adek siapa, Ta?" tanya Ridwan.


"Adek yang punya boneka ini."


"Udah biarin aja, mending kita gak usah tau nanti kepikiran, biar aja Setta kayak gitu, yang jelas dia gak gila kok, iya kan, Ta?" Rania menoleh pada Setta.


"Sial...!!!" Setta menyemprotkan selang airnya pada Rania, lalu menyerang Jin dan Aryo juga.


Ridwan sudah bergegas ke mobilnya lalu pamit dan melapor pada Nathan mengenai paket menyeramkan untuknya.


***


"Jadi saya harap ibu jangan pergi dulu ya kemanapun," ucap Tia yang sedang berada di rumah Mirna teman kerja korban pembunuhan di pabrik roti tadi.


"Ba-baik bu, ta-tapi kalau ibu saya di kampung sakit gimana dan minta saya pulang?" ucapnya.


"Emmm ibu tetep harus bilang sama saya, nanti biar saya temani saat pulang kampung, atau teman saya yang menjaga ibu."


"Apa ibu polisi menuduh saya?" tanya Mirna dengan wajah takut dan cemas.


"Baiklah."


"Kalau begitu saya pamit ya bu, ayo Rus!" ucap Tia mengajak Rusman, rekan kerjanya, pamit dari rumah kontrakan ibu Mirna.


Mobil polisi yang di kendarai Rusman dan Tia itu melaju meninggalkan area rumah kontrakan tempat tinggal Mirna.


Satu jam kemudian, Mirna masih tampak cemas. Ponselnya berdering, dan setelah menerima panggilan telepon tersebut, Mirna keluar rumah tepat pukul sembilan malam.


"Apa yang kamu katakan pada polisi wanita tadi?" tanya seseorang yang misterius di hadapan Mirna.


"Sa-saya hanya menjawab sesuai yang saya bisa," ucapnya ketakutan.


"Tapi kamu tidak menceritakan yang terjadi antara kita semua kan?"


"Ti-tidak, saya tidak berani," ucap Mirna masih merasa ketakutan.


"Bagus, ini ada uang untuk mu, pergilah kemana pun kau mau."


"Tapi, saya di larang pergi kemanapun."


"Halah, seperti itu saja kau takut dan percaya, mereka tak akan mungkin repot mencari mu."

__ADS_1


Mirna terdiam sejenak lalu akhirnya mengangguk.


Seseorang yang menggunakan jaket dengan tudung kepala itu menyentuh kedua bahu Mirna dan membalikkan tubuhnya.


"Sekarang kau pergilah segera, tanpa meninggalkan jejak," ucapnya lirih.


Si misterius itu membekap hidung Mirna dengan obat bius yang membuatnya tak sadarkan diri. Lalu kepala Mirna di masukkkan ke dalam lubang tali yang tiba-tiba jatuh menggantung di hadapannya. Tali itu menjerat leher Mirna yang kemudian di tarik oleh seorang berbadan besar yang sedari tadi menunggu di balik pohon untuk menarik tali tersebut dengan kuat.


"Kau pikir aku akan percaya padamu, dasar bodoh!" ucapnya lalu menepuk bahu seseorang berbadan besar yang sudah selesai menggantung tubuh Mirna.


"Ayo kita pergi dan ambil uang tadi dari kantongnya!"


***


Malam itu Setta memandangi boneka di tangannya itu.


"Ta, taro lah serem tau," pinta Rania.


"Aku penasaran tau, tadi kan aku lihat anak kecil ya sekitar usia tiga tahunan lah sekarang dia hilang, udah gitu aku gak bisa dapet penglihatan apa-apa tentang boneka ini," ucap Setta masih penasaran mengamati boneka bayi perempuan di tangannya.


"Mungkin karena udah kamu cuci, bisa jadi kan, ya luntur gitu hehehe," ucap Rania yang mengunyah snack jagung rasa keju di tangannya.


"Dapet tuh makanan dari mana Ran?" tanya Setta.


"Di situ, rak di dapur yang di atas keran cuci piring, gue embat ya laper sih," sahut Rania.


"Hah, yang di situ? hahahhaha..." Setta tertawa terbahak-bahak menertawakan Rania.


"Kenapa sih, kok ketawa gitu?" tanya Rania heran melihat Setta.


"Itu mah makanannya si Otan, lagian udah lama tau lupa aku buang hahahaha," Setta menunjuk Rania sambil tertawa girang.


"AH SIAL...!!!"


Rania melempar isi toples snack jagung itu ke arah Setta yang berlari tapi tak sengaja terkena Nathan yang baru saja tiba.


***********


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya


- Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives


- Gue Bukan Player

__ADS_1


Vie Love You All...😘😘


__ADS_2