With Ghost

With Ghost
Chapter 49 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 49 ***


Gambaran Mirna yang terbunuh terpampang nyata di hadapan Setta. Dua orang misterius itu menjerat leher Mirna setelah membuatnya terpedaya. Setta tak bisa melihat pelaku yang mengenakan jaket hitam bertudung itu, tapi Setta masih ingat dengan wajah si pelaku satunya lagi yang mempunyai codet di dahi serta punggung tangannya memiliki tato ular kobra.


Setta melempar tali tersebut saat wajah hantu Mirna mendadak menghampiri wajah Setta dan berteriak,


"Dasar perempuan ular...!!!"


Bokong gadis itu mendarat di sofa dengan kencangnya karena tersentak dengan teriakan barusan.


"Non Setta kenapa?" tanya Mbok Inem dengan wajah panik.


"Enggak apa-apa mbok, aku kaget barusan," SAHUT Setta.


"Ada yang gangguin non?"


"Nih mbok yang gangguin Setta pake nyuruh-nyuruh menerawang!" Rania menunjuk ke arah Bejo yang tersenyum kecut.


"Memangnya non Setta ini dukun opo, kok iso toh di suruh menerawang," Mbok Inem mencibir Bejo sembari memukulnya.


"Sakit bulek, jangan dipukul lagi, sakit..." Bejo berusaha melindungi kepalanya dari pukulan Mbok Inem.


"Udah mbok aku gak papa kok, minta teh manis anget mbok," pinta Setta.


"Iya non, segera saya buatkan," Mbok Inem melangkah menuju dapur.


"Gimana Ta?" tanya Bejo antusias.


"Kamu tuh ya, dia aja belum minum, masih mencoba menenangkan diri, main di tanya aja!" Tia memukul kepala belakang Bejo pelan.


"Aku kan penasaran tau, jadi si Mirna mati bunuh diri apa di bunuh, kan aku kepo, paham?"


"Di bunuh," sahut Setta.


"Tuh kan bener dugaanku ada yang gak beres, si Mirna di bunuh kan," Bejo memukul bahu Tia yang langsung mengusap-usap bekas pukulan Bejo tadi.


"Siapa yang bunuh Ta?" tanya Bejo.


Setta menjelaskan penglihatannya tadi, sementara Tia merapihkan barang bukti tali yang ada di lantai ke dalam plastik segelnya tadi.


"Nah petunjuk baru nih, besok aku buat laporannya ke Nathan biar kita cari tau siapa si pria bertato ini dan pria satunya lagi," ucap Bejo.


"Tapi tadi Mirna teriak dasar perempuan ular, apa mungkin salah satu pembunuhnya seorang perempuan?" gumam Setta.

__ADS_1


"Hmmm bisa jadi sih, ya udah nih makasih banyak ya Ta," ucap Bejo.


"Udah gitu doang, payah banget sih masa gak ada imbalan apa gitu buat Setta?" celetuk Rania mengejek Bejo.


"Kan minta tolong, Setta juga tau kok, dia mah suka menolong tanpa pamrih sih, ya Ta?" Bejo memasang senyum paling manis yang ia punya ke hadapan Setta.


"Hahahaha... lucu banget sih kak Jo, udah sana pulang aku gak minta apa-apa kok," ucap Setta.


"Tuh kan dia mah gak bakalan nuntut, gadis baik dia mah, udah yuk aku antar kamu pulang Tia," ajak Bejo melirik ke arah Tia.


"Iya bentar..." sahut Tia.


Keduanya lalu pamit dari rumah Setta.


***


Di dalam mobil Bejo menuju rumah Siti pegawai roti satunya lagi.


"Ini, aku juga menemukan kancing baju ini di dalam oven, mungkin bisa kita cari tahu DNA dari pemilik kancing ini," ucap Tia pada Bejo.


"Wah bener juga tuh, besok aku bawa ke lab deh," sahut Bejo.


"Jo, itu ibu Emi kan?" Tia menunjuk sebuah sedan yang melaju berpapasan dengan mobil Bejo.


"Perasaan gue gak enak, buruan Jo!"


Keduanya sampai di rumah kontrakan Siti. Tak ada jawaban dari dalam membuat Bejo akhirnya mendobrak pintu rumahnya. Siti tergeletak dengan mulut penuh busa di lantai.


"Ah sial... cepet hubungi ambulance Jo!" perintah Tia.


"Bertahan mbak, please bertahan," Tia memangku tubuh Siti yang kejang-kejang sambil memegangi tangan kanannya. Sayangnya Siti tak tertolong, ia tewas saat itu juga.


Bejo menendang daun pintu dengan kesal, lalu dia hubungi Nathan untuk kabar ini. Nathan bergegas menuju rumah Siti bersama Sarah.


"Aku curiga sama ibu Emi deh Jo," ucap Tia.


"Iya sama aku juga, meskipun di samping Siti ada racun serangga, tapi aku yakin Siti juga di bunuh sama seperti Mirna," ucap Bejo menimpali.


Nathan datang bersamaan dengan mobil ambulance dan mobil polisi lainnya untuk memerika tempat kejadian perkara. Setelah Bejo menjelaskan penglihatan Setta dan sempat berpapasan dengan Ibu Emi, akhirnya Nathan memutuskan pengejaran ke rumah ibu Emi bersama Tia dan Bejo.


Ponsel Nathan berbunyi, ternyata kawan polisinya yang berada di kota yang sama dengan Pak Richard tidak menemukan keberadaan beliau di sana sesuai yang di tuturkan ibu Emi siang tadi.


"Wah makin curiga ini mah sama Ibu Emi, bisa-bisanya dia bohongi saya," gumam Nathan.

__ADS_1


Bejo makin kencang melajukan mobilnya ke rumah ibu Emi.


Sesampainya di sana, ibu Emi terlihat panik dan tak mau di bawa ke kantor polisi untuk di interogasi. Dia malah menyuruh dua orang penjaga rumah untuk menghadap Nathan dan yang lainnya. Ibu Emi kabur bersama sang supir dengan menaiki mobilnya. Nathan menembak ban mobil itu sampai kempis dan oleng. Sang supir yang berbadan besar menghadang Nathan sampai mereka berkelahi.


Bejo terpaksa memberi tembakan untuk melumpuhkan dua orang penjaga lalu dia membantu Nathan, sementara Tia mengejar ibu Emi yang kabur ke dalam kebun pisang. Saat berada di tengah kebun pisang, sekilas Tia seperti melihat bayangan tiga perempuan menghadang ibu Emi dan membuatnya jatuh tersungkur.


Tia menangkap Ibu Emi, namun ternyata wanita itu membawa pisau lipat di tangannya dan menusuk perut Tia.


"Aaarrgghh...!!!"


"Rasakan itu, kalian hanyalah perempuan-perempuan busuk yang bisanya cuma merebut suami orang, kalian semua pantas mati!" ucap Ibu Emi penuh amarah.


Tiga hantu perempuan itu menghampiri Ibu Emi yang lalu berteriak-teriak ketakutan sambil mengarahkan pisau lipatnya menebas udara.


"Mundur kalian mundur, dasar kalian perempuan ******!"


Tia mencoba bersusah payah untuk bangkit lalu meraih pistolnya dan menembak kaki ibu Emi agar tak bisa kabur jauh lagi. Ibu Emi malah makin marah dan mencoba menghampiri Tia untuk menusuknya lagi.


Dor...


Nathan menembak bahu Ibu Emi dan membuatnya terjatuh, menggagalkan aksinya untuk menusuk Tia kembali. Nathan segera memborgol tangan ibu Emi meski dia meraung kesakitan dan menyerahkannya pada Bejo.


"Urus nenek tua ini, aku urus Tia," ucap Nathan.


"Heh kurang ajar kamu! aku bukan nenek tua! aku masih cantik, sampai kapanpun tak ada yang bisa merebut suamiku!" Ibu Emi meracau dengan kacau.


"Kamu bisa bertahan kan Tia?" ucap Nathan membopong tubuh Tia ke mobilnya.


Tia menyentuh pipi Nathan sambil tersenyum lalu tangannya goyah seiring kesadarannya yang hilang dan matanya yang menutup.


*******


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya


- Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives


- Gue Bukan Player

__ADS_1


Vie Love You All...😘😘


__ADS_2