With Ghost

With Ghost
Chapter 59 - With Ghost


__ADS_3

Vie mohon sebelum membaca, jangan lupa untuk selalu like dan vote cerita ini ya. Rate bintang lima juga harus lho apalagi kasih koin biar Vie semangat buat nulis 😊


*** Chapter 59 ***


Karena waktu menunjukkan pukul delapan malam, Nathan mengusir Jin agar segera pulang karena besok ia sekolah.


"Terus kenapa Gibran gak di usir?" tanya Jin merasa kesal.


"Dia mau aku suruh anterin Tia pulang," sahut Nathan.


"Hmmm curang, ya udah lah, besok aku ke sini lagi ya Ta," ucap Jin.


"Mau ngapain? gak usah lah gak perlu, gak penting juga!" ucap Nathan meledek Jin.


"Deh parah... Aku kan mau jelasin pelajaran dia yang ketinggalan," ucap Jin mencoba bertahan dengan keinginannya.


"Besok juga Setta udah pulang, ketemu di rumah aja!" ucap Nathan.


"Hmmm... ya udah lah, aku pamit ya jangan pada kangen," ucap Jin tersenyum lucu pada semuanya tetapi tersenyum sinis pada Gibran.


Gibran membalas Jin dengan senyuman sinis pula. Jin berlalu pergi keluar dari ruang perawatan Tia sambil melambaikan tangannya, sekali lagi ia melongok ke dalam kamar hanya untuk melihat Setta tersenyum.


"Hahaha bucin akut tuh sama Setta," ucap Tia yang sudah selesai memasukkan pakaiannya ke dalam tas ranselnya.


"Biar aku yang bawa Tia," pinta Nathan.


"Gak usah aku aja pak," sahut Tia.


Namun, Tia kalah cepat meraih tasnya dari Nathan. Pria itu sudah menggendong tas Tia di punggungnya.


"Kak Tia tinggal di kamarku dulu ya kak, masa dia pulang malam-malam gini," ucap Setta.


"Tapi kan ada abang yang nungguin kamu," ucap Nathan.


"Iya Ta, udah sih kak Tia pulang sama Gibran aja," ucap Tia.

__ADS_1


"Kakak di tempat kos sama siapa?" tanya Tia.


"Sendiri."


"Tuh kan bang, Kak Tia cuma sendirian di tempat kos, kasian lho belum sembuh banget," ucap Setta.


"Ya tapi kalau dia nungguin kamu terus ngurusin kamu ya kasian juga lho," ucap Nathan.


"Kak Tia tetap sama aku ya udah gak usah ngapa-ngapain, diem-diem aja, kan tetep ada abang yang aku mintain tolong," pinta Setta.


"Terserah kamu lah," sahut Nathan yang membawa tas Tia berpindah tempat ke ruangan Setta.


"Astagfirullah..." Setta terkejut saat melihat hantu nenek bungkuk itu sudah berada di hadapan wajahnya. Bau nafas yang sangat busuk aromanya tercium dari hembusan nafas si hantu. Gibran menghalangi pandangan Setta dari hantu tersebut. Pria itu meletakkan telapak tangannya di hadapan wajah Setta.


"Jalan Ta, gak usah di liatin!" ucap Gibran dengan suara pelan.


Nathan dan Tia menoleh ke belakang saat mendengar perkataan Gibran.


"Tuh kalau pada bisa lihat makhluk gaib gitu tuh, nanti malam mingguannya bukannya pergi ke bioskop tapi ke kuburan apa tempat wisata yang horor buat uji nyala hahahaha," ucap Tia di samping Nathan menuju kamar Setta.


"Bagus dong pak ada kriuk-kriuknya hehehe," ucap Tia tersenyum manis dan manja pada Nathan.


"Gak usah pasang senyum kayak gitu deh," ucap Nathan lalu merebahkan diri di sofa ruang perawatan Setta.


Tia membantu Setta naik ke ranjangnya sambil memegangi alat infus di tangannya.


"Kalau gitu saya pulang dulu ya," ucap Gibran.


"Oke Bran, makasih banyak ya," balas Nathan.


Gibran bersalaman dengan Nathan, lalu Tia dan mencoba menjabat tangan Setta. Akan tetapi Setta sempat tak ingin menjabat tangan Gibran karena malu. Namun saat gadis itu melihat tatapan Nathan yang marah padanya, akhirnya Setta pasrah menjabat tangan Gibran dengan terpaksa.


"Bran...udahan kali lepas tuh tangan!" ucap Nathan menegur Gibran.


"Oh iya maaf hehehe, saya pamit dulu ya." Gibran pamit pulang menuju rumah kos yang ia sewa.

__ADS_1


***


Jam dinding yang berdetak terasa berbunyi kencang di malam yang sunyi itu di dalam rumah sakit. Hantu nenek bungkuk itu menghampiri Setta membangunkannya di tengah tidurnya.


"Ne-nek ma-u ap-apa..." tanya Setta mulai ketakutan.


Nenek itu menyentuh kedua pipi Setta dengan tangan keriputnya yang terasa kasar. Membuat Setta masuk ke dalam dunia sebelum nenek itu meninggal.


Suster Fira yang memang sudah terlihat ketus sedang memarahi si nenek di depan halaman rumah yang usang.


"Pokoknya aku gak mau tahu, kalau aku bilang bersihkan ya bersihkan, kalau halaman ini sudah bersih semua, baru nenek Ida boleh makan!" Suster Fira memberikan gagang sapu lidi pada nenek Ida lalu pergi.


Nenek Ida menyeka air matanya. Tangan kanannya memegangi sapu lidi dan membersihkan halaman sementara tangan kirinya memegangi perutnya yang lapar.


"Nek, ini makan dulu," ucap seorang perempuan kecil berusia 5 tahun dan bertubuh kurus itu menyerahkan setengah piring nasi yang sudah di basahi dengan sayur sop dan tempe goreng.


"Kamu saja yang habiskan," ucap nenek Ida lirih.


"Tapi kan nenek juga belum makan siang, udah nek makan! mama gak akan tau kok," ucap gadis kecil itu.


"Yana... Kamu ngapain di situ? sini masuk! biarin aja nenek kamu mengerjakan tugasnya dulu, enak aja udah numpang hidup, mau makan tidur gratis, huh!" Suster Fira menarik lengan anaknya Yana membawanya masuk ke dalam.


Peluh keringat dan bulir air mata bercampur jadi satu jatuh di pipi sampai leher wanita tua itu.


******


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives


- Gue Bukan Player

__ADS_1


Vie Love You All...😘😘


__ADS_2