
*** Chapter 29 ***
Setta berada di dalam toilet saat jam istirahat. Namun, dia urungkan niatnya saat hendak keluar karena mendengar suara Ratu dan Santi yang sedang berdebat.
"Gimana itu, Tu? si Rosi sampai bunuh diri coba?" ucap Santi pada Ratu saat berada di kamar mandi.
"Kok tanya sama aku sih?" ucap Ratu saat merapihkan ikatan rambutnya di depan cermin.
"Ya kan gara-gara abang sepupu kamu, tuh dia sampai bunuh diri," ucap Santi dengan nada cemas.
"Eh kok jadi abang sepupu aku sih?"
"Ya kan dia hamil gara-gara Baron, Tu..." ucap Santi.
"Eh emangnya udah pasti Baron yang hamilin dia?" ucap Ratu dengan nada ketus pada Santi.
Tak...Tak...Tak...
Kaca cermin di toilet tiba-tiba retak.
"Kok retak sih?" Santi menoleh ke arah cermin bersamaan dengan Ratu.
"Jangan-jangan gempa," ucap Ratu.
Tiba-tiba terdengar suara gadis menangis di bilik toilet yang terletak di pojok. Setta berada si seberang bilik toilet tersebut ikut mendengar dengan seksama.
Santi dan Ratu langsung bertatapan saat mendengarnya.
"Siapa San yang nangis?" bisik Ratu.
"Jangan-jangan Rosi, kabur Tu, kabur Tu," Santi langsung menarik tangan Ratu dan keluar dari sana.
Setta perlahan membuka bilik toiletnya dan langsung terkejut kala melihat pintu toilet di hadapannya langsung terbuka. Sosok Rosi sudah berdiri di hadapan Setta, kedua tangannya menggenggam sesuatu dan menjulurkan kedua tangannya pada Setta. Seonggok daging merah penuh darah di sodorkan kepada Setta.
"Astagfirullah, saya gak mau buat kamu aja, udah kenyang," ucap Setta.
Sosok hantu Rosi makin mendekat dan ternyata apa yang di pegang sosok menyeramkan itu adalah bayi yang janinnya belum utuh.
"Aaaaaaaaaaaaa."
Setta berteriak sekuat tenaga karena sangat ketakutannya menuju keluar kamar mandi putri sampai menabrak Jin.
"Astagfirullah... heh anak kecil elu tuh ya demen banget nabrak gue!" bentak Jin.
"Maaf kak, maaf banget," Setta buru-buru melangkah pergi namun Jin menahan tangannya.
"Jangan bilang kalau elo habis liat setan, karena tampang lo sama banget sama persis kayak waktu ketakutan lihat hantu mbak Ayu, hayo ngaku?"
Jin mencoba menerka.
__ADS_1
"Duh maaf kak, maaf banget, saya harus segera ke kelas."
Setta bergegas menuju kelasnya meninggalkan Jin.
"Ditanyain bukannya jawab, kok bulu kuduk gue merinding ya?" ucap Jin pada dirinya sendiri lalu bergegas menuju kelasnya.
***
Pagi itu Setta menyiapkan tas ransel berisi pakaian dan obat-obatan serta beberapa susu kotak untuk persiapannya mengikuti camping di Bumi Perkemahan Desa Sukahati.
"Udah semua di bawa?" tanya Nathan.
"Udah, tadi udah cek semuanya udah adek masukin semua ke ransel," sahut Setta.
"Ya udah yuk abang anterin," ucap Nathan.
"Bang, ko kak Tia gak pulang semalam?"
"Oh itu, tadi sih dia bilang udah dapet kos-kosan baru buat dia, eh abang belum cerita ya, kata temennya Tia tadi, pas lihat hasil rekaman cctv di tempat kos Tia yang kebakaran kemaren, ternyata Thalia yang bakar lho, dia nyalain lilin di luar kos sampai ngebakar tirai," ucap Nathan.
"Kok bisa? apa Thalia kesurupan atau kemasukan sesuatu jangan-jangan?" tanya Setta.
"Entahlah dek, besok abang mau kunjungan ke pesantren tempat Thalia tinggal sama Tia, mau tau perkembangan Thalia di sana," ucap Nathan.
"Ya udah bang nanti kabarin aja sama aku tentang Thalia," sahut Setta.
Tin...Tin...
"Assalamualaikum..." ucap Tia.
"Walaikumsalam," sahut Nathan dan Setta berbarengan.
"Wuidih motor baru nih?" tanya Setta.
"Bukan, ini minjem sama temen kok, kakak buru-buru kesini cuma mau kasih ini buat kamu," ucap Tia menyodorkan sekotak roti isi kepada Setta.
"Ah kak Tia, manis banget sih, aku jadi terharu," ucap Setta.
"Emang aku manis, baru tau ya..., eh ini buat Pak Nathan, jangan lupa dihabiskan, aku buatnya pake hati lho pak," ucap Tia menggoda Nathan.
"Gak mau ah jijik, saya kan gak doyan hati, gak doyan usus, ampela atau jeroan lainnya juga," Nathan menyodorkan kotak makanannya ke Tia kembali.
"Ih bukan pak, itu buatnya pakai daging ham gitu, maksudnya tuh hati saya pak, buatnya pakai cinta gitu hehehe," sahut Tia mengedipkan kedua matanya berkali-kali.
"Cieeeee abang...." Setta menyikut lengan Nathan menggodanya.
"Iya saya juga paham, cuma bercanda aja kok soal hatinya, eh kenapa matanya kedip-kedip, cacingan ya Tia?"
"Ih bapak mah gak asik nih, udah ya Ta pokoknya hati-hati selama camping, kalau ketemu hantu sebut nama aku tiga kali," ucap Tia dengan percaya diri.
__ADS_1
"Emang kenapa kalau sebut nama kakak tiga kali?" tanya Setta.
"Beuuuhhh... di jamin tuh setan, kaga kabur, jadi kita yang kudu kabur hihihi," Tia tertawa geli sendiri dengan leluconnya.
Nathan jadi ikut tertawa mendengarnya.
"Aduh bapak ih, manis banget senyumnya bikin hati neng meleleh gitu."
"Sana pulang, nanti kamu telat berangkat kerjanya hush sana ganggu aja pagi-pagi," ucap Nathan mengusir Tia.
"Hehehe oke deh Tia balik ke kos dulu ya, dah semua..."
Tia menyalakan mesin motor yang di kendarainya dan langsung menuju tempat kosnya.
"Ayo abang anter, entar ketinggalan rombongan lagi," ucap Nathan lalu mengantar Setta ke sekolah dengan mobilnya.
Sesampainya di sekolah, Rania langsung menyambut Setta dan mencium punggung tangan Nathan mengikuti gerakan Setta.
"Ih kamu ngapain cium tangan saya?" Nathan menarik tangannya dari Rania.
"Latihan bang cium tangan calon imam saya nanti uhuuyy..." sahut Rania tertawa kegirangan.
"Dasar..." Setta menoyor kepala Rania.
"Ya udah hati-hati ya, selama tiga hati ke depan tolong jagain Setta ya Ran?" pinta Nathan.
"Siap 86 bang, sama calon adek ipar mah siap dah aku jagain," ucap Rania yang rambutnya di tarik Setta sebentar membuat Nathan tertawa.
"Wuidih abang Nathan, tumben baru liat abang nganter," Jin menyapa Nathan saat melihatnya di depan gerbang.
"Biasanya juga aku anter, kamu aja yang jarang lihat, eh kamu kan panitia nih, kamu harus jagain Setta ya, awas kalau terjadi sesuatu sama dia, kamu orang pertama yang bakal aku cari," ancam Nathan.
"Weiitss tenang bang, pasti saya jagain si anak kecil ini," sahut Jin dengan yakin.
"Awas ya pokoknya jagain!" ucap Nathan menegaskan sekali lagi.
"Siap komandan, seumur hidup juga saya jagain, ups." Jin langsung menunduk tak berani menatap Nathan saat itu juga.
**************
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
__ADS_1
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘