With Ghost

With Ghost
Chapter 63 - With Ghost


__ADS_3

Vie mohon sebelum membaca, jangan lupa untuk selalu like dan vote cerita ini ya. Rate bintang lima juga harus lho apalagi kasih koin biar Vie semangat buat nulis 😊


*** Chapter 63 ***


"Idih Kak Tia mah ngarep, hahaha...!" Setta meledek.


"Aduh... mbok lupa lagi masak, duh gosong deh ayam gorengnya, bentar ya mbok tinggal ke dalam," ucap Mbok Inem dengan paniknya.


"Pada ngomongin apaan sih?" tanya Nathan yang baru turun dari mobilnya.


"Si Tia mau nginep tapi tidurnya sama kamu," celetuk Gibran.


"WHAT...!!! GIBRAN...!!!" Tia mengejar Gibran sambil memukulnya.


"Kenapa bang, mukanya asem banget, datar biasanya seneng banget kalau di gombalin kak Tia?" tanya Setta.


"Nih..." Nathan menyerahkan sepucuk surat pada Setta.


"Astagfirullah... apa-apaan ini?" pekik Setta membuat Gibran dan Tia berhenti untuk menyimak.


"Kenapa Ta?" tanya Tia.


"Ini liat aja tulisan ancaman ini pakai darah," ucap Setta.


"MATI, KAU HARUS MATI...!!!"


"Tulisan macam apa ini?" ucap Tia yang jijik menyentuh kertas bertuliskan darah tersebut.


"Coba aku lihat!" Gibran meraih kertas tersebut.


Seorang laki-laki paruh baya menggigit ujung jarinya sampai robek dan berdarah lalu menuliskan kalimat tersebut pada secarik kertas di tangan Gibran.


"Kamu lihat apa Bran?" tanya Nathan.


"Lihat kertas," sahut Gibran dengan santainya.


Nathan memukul punggung Gibran pelan secara spontan.


"Lah bener dong kan kamu tanya aku lihat apa, ya aku jawab lihat kertas hehehe," ucap Gibran.


"Aku serius nih gak mau bercanda," ucap Nathan.

__ADS_1


"Setta gak bisa lihat apa-apa?" tanya Gibran menoleh pada Setta.


"Setta lihat kertas," sahut Setta.


"Tuh kan bener, dia aja bilang lihat kertas hahaha," ucap Gibran meledek Nathan.


"Udah sih udah nanti aja di jelasin Gibran, sekarang bapak masuk ke dalam, mandi, ganti baju terus nanti saya siapin makanan hasil masakan mbok Inem ya," ucap Tia meraih tas ransel Nathan dan mendorong punggungnya masuk ke dalam. Nathan begitu saja menurut dengan perlakuan Tia begitu saja.


"Ehm ehm... kok tiba-tiba tenggorokan aku gatel ya Ta," Gibran meledek Tia dan Nathan.


Setta mengamati tangan Gibran yang tanpa sadar hendak merangkul bahu Setta tapi tak jadi. Tatapan Setta begitu tajam dan menciutkan nyalinya kala itu.


"Hehehe becanda Ta, aku gak mau ngapa-ngapain kok," ucapnya mengangkat kedua tangan sebahu.


***


Setelah makan malam, Gibran menceritakan penglihatannya tentang pesan berdarah tadi.


"Terus kamu lihat gak wajah si pria itu seperti apa?" tanya Nathan.


"Samar-samar sih, besok aku coba suruh Indri gambar sketsa wajah yang sesuai dengan penglihatanku deh," sahut Gibran.


"Masalahnya setelah semua pesan yang udah aku dapat, kali ini aku berharap banget semoga penglihatan kamu itu benar-benar si pelaku yang selama ini sudah meneror ku entah apa tujuannya," ucap Nathan.


"Apaan sih kak Tia, garing banget," protes Setta.


"Biar Pak Nathan gak suntuk say," Tia meringis memamerkan senyum manisnya pada Nathan.


"Kalau lagi gak kerja panggil Nathan aja say," ucap Nathan.


"Apa tadi abang bilang?" Setta menyodorkan telinga kirinya mendekat ia ingin mendengar lebih jelas ucapan Nathan barusan soal penekanan kata "say"


"Iya kayaknya tadi juga aku gak salah denger deh, coba ulangi pak, eh Nathan, ayo dong ulangi," pinta Tia yang sekarang sudah bersimpuh berlutut dihadapan Nathan.


"Apaan sih, aku gak ngerti deh pada ngomong apa," Nathan mencoba mengelak.


"Itu loh Tan, tadi barusan kamu bilang Say... Nah itu kan maksudnya sayang, iya kan?" Gibran menepuk bahu Nathan meledeknya lalu ia memberikan pijitan gemas di bahu Nathan.


"Oh tadi kan aku cuma bilang Say karena menimpali ucapan Tia, saaaayyyy..." ucap Nathan sambil mengibaskan tangannya dengan kemayu macam pria cantik yang sering ia temui di salon kala menemani Sarah atau Setta potong rambut.


"Idih... aku jijik sumpah aku jijik...!" Setta melempar Nathan dengan bantal sofa sementara Gibran dengan gemasnya menoyor kepala belakang Nathan.

__ADS_1


"Aku gak jijik kok, aku suka sama Nathan apa adanya, aku mah terima aja," ucap Tia memandangi wajah Nathan dengan penuh takjub dan terpesona.


"Ah susah kalau udah bucin mah!" sahut Gibran lalu pandangannya menoleh ke arah kirinya. Gibran tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Sosok nenek yang berwajah pucat dengan kebaya jawa model dulu melintas di samping Gibran menuju kamar nenek Setta.


"Itu nenek," ucap Setta.


"Oh itu nenek kamu, pantes baik makanya dia jagain kalian di rumah ini," ucap Gibran.


"Kalau pocong yang duduk di dapur lagi ngobrol sama mbok Inem siapa Ta?" tanya Gibran lagi.


"Aku gak tau dia siapa, yang jelas dari kali perta pindah ke sini, dia sudah ada di sini, tapi gak tau alasannya kenapa gak mau pindah," sahut Setta.


"Hmmm mulai lagi... serem gak sih Pak kalau mereka kencan , terus yang di bahas para hantu yang lewat depan mereka, bukannya pacaran kayak kita ya pak, malah sibuk bahas hantu hehehe," ucap Tia menepuk lutut Nathan.


"Hah pacaran?"


"Eh maksudnya mengandai-andai pak, hihihi," ucap Tia.


"Oh..."


"Andai aja, kali aja beneran," gumam Tia.


"Kamu bilang apa barusan?" tanya Nathan yang sekilas mendengar ucapan Tia.


"Bukan apa-apa nanti bapak marah lagi, eh Nathan marah maksudnya," Tia yang salah tingkah tak sadar mengusap lutut Nathan berkali-kal


"Tia... coba tangannya pindah, lama-lama saya ser seran nih," Nathan melirik tangan Tia.


"Astagfirullah... maaf ya..." Tia buru-buru berdiri menutup wajahnya yang merah seperti kepiting rebus dengan kedua tangannya.


****


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives


- Gue Bukan Player

__ADS_1


Vie Love You All...😘😘


__ADS_2