
*** Chapter 81 ***
Nathan menelpon kepala polisi untuk memberitahukan perihal penemuan jasad Madam Laura yang tewas dan tertembak. Sejumlah polisi di diterjunkan menuju pabrik kosong tersebut.
"Ouch..." Ucap Nathan saat terbangun sambil memegang punggungnya yang terasa sakit.
"Abang..." Setta langsung memeluk Nathan yang tersadar.
"Kok kamu ada di sini dek?" tanya Nathan.
"Perasaan aku gak enak saat abang pamit jadi aku ajak kak Gibran buat ikutin abang melalui gps," sahut Setta.
"Tan, kenapa kamu gak bilang sih sama aku, kamu kan bisa pergi sama aku," ucap Gibran.
"Tapi aku gak boleh bawa siapapun, ini informasi penting dari Madam Laura mengenai keterlibatan pak walikota sama Blue House," ucap Nathan.
"Bentar, bentar aku denger tadi abang bilang keterlibatan pak walikota? berarti ayahnya Rania dong bang?" tanya Setta.
"Kamu jangan ngomong apapun sama Rania ya Ta, ini rahasia soalnya, dan parahnya lagi, Tia hampir aja di jadiin simpanan sama ayahnya Rania," ucap Nathan.
"Astagfirullahalazim... Aku gak nyangka ih..."
"Tan, kamu harus lihat ini," ucap Gibran menunjukkan jasad Madam Laura.
Nathan langsung menendang ban mobil ringsek itu dengan kencangnya.
"Brengsek...!!! ini saksi kunci padahal," ucap Nathan dengan nada kesal.
"Dan aku lihat seorang pria yang mirip ajudan walikota yang membunuh Madam Laura, hanya saja kita tak punya bukti logis untuk menangkapnya," ucap Gibran.
***
Keesokan harinya saat Setta dan Nathan mengunjungi Tia di rumah sakit, Gibran datang membawa kabar buruk.
"Kamu harus lihat berita ini, Tan!" ucap Gibran seraya menyalakan tv di kamar perawatan Tia.
Foto-foto Nathan bersama Madam Laura sudah tersebar dan viral di sosial media. Bahkan kini sudah mewarnai seluruh berita di stasiun tv nasional. Nathan di tuduh sebagai pembunuh Madam Laura untuk menghilangkan jejak akibat terlalu sering menerima suap dari Madam Laura.
__ADS_1
"Ini fitnah kak, gak mungkin abang Nathan mau terima suap dari penjahat, ya kan bang?" Setta menoleh pada Nathan yang tampak kusut menarik rambutnya sendiri dengan kesal.
"Iya, aku juga percaya Nathan gak mungkin akan melakukan hal sehina itu," sahut Tia menimpali ucapan Setta.
"Iyalah aku gak mungkin ngelakuin hal semacam itu, semalam memang wanita itu menyodorkan sejumlah uang padaku, tapi jelas lah aku tolak, lalu ada orang lain yang memukulku sampai pingsan," ucap Nathan menjelaskan.
"Masalahnya Tan tadi kepala polisi bilang, kamu terima uang di rekening kamu dalam jumlah besar seratus juta," ucap Gibran.
"APA?!" Nathan tersentak dan membuatnya langsung berdiri.
"Aku juga percaya banget sama kamu, tapi yang aku denger, akan ada penangkapan kamu siang ini, karena semua bukti buatan itu, semuanya menjurus pada kamu, dan memberatkan kamu, Tan."
Nathan meninju dinding berkali-kali dengan kesalnya sambil berteriak. Tia turun dari pembaringannya lalu menghampiri Nathan. Tia memeluk Nathan dari belakang untuk menenangkannya. Tinju Nathan berhenti, luka memar dan berdarah terlihat di kepalan tangannya. Setta gak henti-hentinya menangis melihat Nathan.
"Kamu yang tenang ya, aku akan bantu kamu untuk menjelaskan perihal tentang Blue House," ucap Tia.
Nathan membalikkan tubuhnya.
"Makasih, Tia," ucap Nathan Lirih.
Setta makin menangis dan menyerbu pelukan Nathan itu.
"Aku bantu urus kepulangan kamu, Tia." Gibran pergi menuju bagian administrasi rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah, satu unit mobil polisi telah terparkir di halaman rumah Nathan. Bejo yang menahan tangisnya datang menyerahkan surat perintah dari atasannya.
"Maafin aku Tan, aku cuma menjalankan perintah," ucap Bejo.
"Aku ngerti Jo, nih!" Nathan menyerahkan kedua tangannya untuk di borgol.
"Gak usah Tan, aku yakin, kita semua juga yakin, kamu bukan penjahat, kamu gak pantes di borgol seperti penjahat," ucap Bejo.
"Abang gak boleh pergi, abang gak salah..." Setta mencoba merengek menahan kepergian Nathan.
"Abang janji dek, abang gak akan lama ninggalin kamu," ucap Nathan seraya menyeka air mata yang tak henti-hentinya bergulir di pipi Setta.
__ADS_1
Jin yang mendengar kegaduhan di samping rumahnya keluar, lalu menghampiri Setta untuk bersimpati. Ia juga tau berita yang viral mengenai abang Nathan.
"Tia, Gibran, dan kamu Jin, jagain Setta sama mbok Inem ya, jagain rumah ini selama aku gak ada di sini," ucap Nathan yang masih memeluk Setta.
Ketiganya menganggukan kepala menuruti permintaan Nathan.
"Abang gak boleh pergi...! abang gak boleh pergi...! abang gak salah...!" ucap Setta masih merengek dan menangis.
"Justru abang harus pergi dek, abang harus buktiin kalau abang gak bersalah, kamu doain aja abang ya," Lagi-lagi Nathan menyeka air mata Setta.
"Ayo Jo!" ucap Nathan menoleh pada Jo yang gak bisa lagi menahan air matanya untuk jatuh. Bejo menyeka air matanya lalu membuka pintu mobilnya untuk Nathan.
Nathan mengecup kepala Setta sebelum dia masuk ke dalam mobil polisi. Berat rasanya melepas Nathan pergi bagi Setta. Lama kelamaan mobil polisi itu menghilang.
Tak lama kemudian, Rania datang dengan mobil sedan warna kuningnya.
"Ta... abang kamu...?" Rania menghampiri Setta yang wajahnya berubah menjadi benci pada Rania saat melihatnya.
Setta pergi meninggalkan Rania menuju ke dalam rumahnya bersama mbok Inem yang merangkulnya serta menenangkannya.
"Ta..." ucap Rania yang tak di gubris Setta.
"Setta kenapa Ran, dia marah sama kamu?" tanya Jin.
******
To be continue alias bersambung...
Jangan lupa siapkan amunisi poin untuk Vote terutama ke Pocong Tampan hehehe...
Mampir juga ke novel ku lainnya.
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
- Kakakku Cinta Pertamaku
__ADS_1