With Ghost

With Ghost
Chapter 86 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 86 ***


Bejo memasuki kawasan perkampungan di pinggir kota.


"Hmmm mana ya Jalan Batu Biru," gumam Bejo sambil fokus menyetir.


"Mas, maaf mau tanya, tau Jalan Batu Biru tidak?" tanya Bejo pada pemilik warung sembako yang ia temui di jalan.


"Itu kan jalan buntu di ujung sana, memangnya mas mau kemana?" tanya ibu yang menggunakan daster dan rambut di cepol itu.


"Saya mau ke rumah teman saya, bu."


Akhirnya Bejo turun dari dalam mobilnya.


"Ke rumah teman? setau saya ya mas, di sana cuma ada satu rumah, rumah tusuk sate." ucapnya.


"Maksudnya rumah tusuk sate bu?" tanya Bejo.


"Rumah itu ada di antara pertigaan jalan mas. Kalau ke kiri dia ke arah sekolah yang udah lama runtuh, kalau ke kanan ke arah kali."


Perempuan paruh baya itu mencoba menjelaskan meski terlihat raut wajahnya agak takut saat memberi tahunya.


"Oh, gitu bu, coba saya ke sana ya, siapa tau rumah itu memang benar rumah teman saya," ucap Bejo seraya pamit.


"Mas udah dua tahun rumahnya kosong, gak laku juga dijual. Pemilik yang lama bunuh diri sama anak perempuannya setelah suaminya masuk penjara dengan hukuman seumur hidup."


"Astagfirullah... masa sih bu? terus gak ada penghuni sama sekali gitu?" tanya Bejo.


"Setau saya sih gak ada mas," sahut ibu itu.


"Baik bu, kalau begitu saya pamit ya bu," ucap Bejo.


Laki-laki yang mengenakan jaket kulit kesayangannya itu sampai di rumah sutuk sate yang di maksud ibu pemilik warung tadi.

__ADS_1


"Serem juga nih rumah ya, terbengkalai," gumam Bejo seraya membuka pintu pagar yang tak terkunci hati sambil dalam hati mengucap salam. Dilihatnya sekeliling rumah dengan seksama sampai ia menjumpai sosok berjaket longgar dengan tudung menutupi kepalanya. Sosok tersebut mengenakan celana jeans berwarna biru gelap.


Bejo mengendap-endap sampai ia berhasil mendekati sosok tersebut.


"Mas mau numpang tanya..." Bejo menepuk bahu sosok misterius tersebut yang langsung tersentak tubuhnya karena terkejut merasakan tepukan tangan Bejo di bahunya.


"Kamu..."


Belum sempat Bejo menyelesaikan ucapannya sosok tersebut langsung menusuk perut pria itu sangat dalam dengan pisau lipat yang berada di tangannya.


"Tu...tung...tunggu."


Ucapannya terhenti seiring dengan kedua matanya yang tertutup. Rasa sakit yang sudah terlanjur menjalar di tubuhnya membuatnya tak bisa lagi bergerak untuk mengejar sosok yang ternyata Bejo kenal itu. Respon tubuhnya tak lagi sempurna.


***


"Duh haus banget rasanya," gumam Nathan saat tersadar di pagi buta itu di ruang sel tahanannya.


Nathan melihat botol plastik berwarna biru berisi air mineral yang selalu ia siapkan jika dia haus. Saat Nathan membuka tutup botolnya dan bersiap minum, tiba-tiba hantu pria paruh baya yang ada di ruangannya itu menepis botol air minum di tangan Nathan sampai jatuh ke lantai.


"Nto, Anto... tolong ambilkan aku minum dong..." pinta Nathan membangunkan Anto yang masih terlelap di kasur seberang Nathan.


"Yah gak bangun lagi pules banget," gumam Nathan lalu berdiri dari pembaringannya.


Nathan terkejut saat melihat bayangan sosok pria berdiri di sudut ruangan.


"Astagfirullah, siapa ya?" tanya Nathan menegur sosok pria yang tiba-tiba berdiri di kamar tahanannya. Yang pasti sosok itu bukan Anto karena rekan satu kamarnya itu sedang berbaring di atas ranjangnya.


Nathan menekan tombol on untuk menerangi kamar tahanannya. Bayangan pria yang berdiri tadi hilang.


"Haduh jadi merinding nih," gumamnya.


Selang beberapa detik kemudian Nathan kembali terkejut saat ia melihat mulut Anto penuh busa itu sudah terbaring kaku.

__ADS_1


"ANTO BANGUN...!!!"


Tak ada jawaban dari pria yang sedari tadi tubuhnya di guncang oleh Nathan. Perbuatan yang sia-sia memang, karena sesungguhnya Nathan tau bahwa pria itu telah terbujur kaku, tak ada denyut nadi yang terasa di tangan dan lehernya saat Nathan meraba.


Nathan berteriak memanggil petugas yang berada di koridor tahanannya.


Seekor tikus berukuran kecil yang melintas, tiba-tiba tubuhnya kejang di atas air dalam botol milik Nathan yang tumpah tadi. Tikus itu mati seketika setelah berhenti kejang.


"Apa-apaan ini? mungkinkah minuman itu dan kue tadi malam mengandung racun untukku? tapi siapa, siapa yang berani memberikan makanan dan minuman beracun itu sampai ke sini?" Nathan memukul pintu sel di hadapannya itu dengan sangat kesal.


***


"Kamu lagi apa Ta?" Tia menepuk bahu Setta saat mengamati luar rumah dari balik tirai yang ia singkat sedikit.


"Astagfirullahalazim... kak Tia ih ngagetin aja, itu kak lihat deh ada anak kecil yang ngeliatin ke rumah ini," ucap Setta.


"Ih mana aku lihat, hantu mungkin jangan-jangan," balas Tia menimpali seraya memeluk dirinya sendiri yang langsung merinding ketakutan.


"Sepertinya ia kak, jangan-jangan penunggu sini lagi?"


"Udah ah jangan di liatin lagi kayak gitu, serem." Tia menutup Tirai jendela itu buru-buru.


Tak lama kemudian terdengar azan subuh berkumandang.


"Alhamdulillah, udah pergi pasti tuh hantu, biasanya hantu kan takut kalau denger azan, ya kan Ta?" tanya Tia melirik ke arah Setta yang membalas dengan senyuman.


*****


To be continue alias bersambung...


Mampir juga ke novel ku lainnya.


- 9 Lives (END)

__ADS_1


- Gue Bukan Player (END)


- Kakakku Cinta Pertamaku


__ADS_2