With Ghost

With Ghost
Chapter 66 - With Ghost


__ADS_3

*** Chapter 66 ***


Sementara Ratu dan Santi yang tak dapat melihat hantu Rosi hanya saling tatap.


"Suara apa tuh Sin? coba kamu cek ada siapa di dalam sana!" Ratu memberi perintah pada Sinta.


"Aku takut, Tu," ucap Santi.


"Ah kamu mah, penakut banget sih! halo... ada siapa di situ?" tanya Ratu namun tetap tak ada jawaban.


Ratu mencoba melangkah mendekat ke arah toilet di sudut itu. Pintu toilet itu terbanting lagi begitu saja membuat Ratu menjerit.


"Gak ada orangnya San," ucap Ratu.


"Kabur Tu, kabur...!" Santi menarik tangan Ratu meninggalkan Setta di dalam kamar mandi itu.


Hantu Rosi tersenyum menatap Setta.


"Terima kasih," ucap Setta lirih lalu segera pergi dengan langkah cepat.


***


Bel pulang sekolah telah berbunyi, ponsel Setta berdering, nama "Kak Gibran" tertera di ponsel gadis itu.


"Ya kak," ucap Setta.


"Ta, aku di depan gerbang sekolah kamu," sahut Gibran dari sebrang sana.


"Ada apa Kak di gerbang sekolahku?" tanya Setta.


"Aku jemput kamu, aku mau omongin soal Yana," jawab Gibran.


"Oh iya bentar kak," Setta pamit pada Rania.


"Ran aku duluan ya, kak Gibran jemput aku tuh," ucap Setta.


"Hmmm tumben... nanti abang Jin marah lho," Rania menggoda Setta.


"Apaan sih abang aku tuh cuma Nathan, eh Ran di liatin tuh sama kak Rosi," Setta melangkah pergi dari hadapan Rania seraya melambaikan tangannya.


"Kak Rosi? siapa sih yang Setta maksud? astaga maksudnya kak Rosi yang itu..." Bulu kuduk Rania langsung meremang saat teringat dengan jasad Rosi yang jatuh dari lantai empat.


"Dor...!!!"

__ADS_1


"Kadal buntung kejedot tembok!!!" ucap Rania dengan lantangnya akibat ulah Jin yang menepuk punggung Rania menyentak gadis itu yang langsung mengumpat pada Jin.


"Weits biasa aja dong Ran, kenapa kamu sampe gemetaran kayak gitu?" tanya Jin.


"Duh... si kakak ih ngagetin aja, udah macam jin botol yang muncul tiba-tiba, dasar emang satu bangsa nih sama setan!" sahut Rania dengan nada mulai kesal.


"Yeee... cuma bercanda aja kok ngagetinnya, pakai di masukin ke usus," ucap Jin sambil tertawa.


"Hati kak hati...!!!"


"Ceritanya udah nerus terserap usus hahahaha..."


"Sumpah garing banget!" Rania hendak melangkah pergi dari hadapan Jin, namun ditahan oleh Jin.


"Setta mana?" tanya Jin.


"Telat sih kakak datangnya, Setta udah di jemput," sahut Rania.


"Oh... di jemput sama bang Nathan ya?" Jin balik bertanya.


"Bukan anda salah, anda pasti akan terkejut tak percaya siapa yang menjemput Setta," Rania mencoba menjahili Jin.


"Siapa yang jemput gak usah basa basi deh, atau kamu mau bilang kalau yang jemput Setta itu si zebra sumbawa, ya kan?" Jin sudah bertolak pinggang dengan kesal.


"Zebra sumbawa, kayak apa tuh kak?" Rania menahan tawanya.


"Garing sumpah, gak ada bakat kakak ngelawak huh...!" Rania melangkah lagi, Jin juga ikut melangkah sejajar dengan Rania.


"Siapa yang jemput Setta, Ran?" tanya Jin.


"Kak Gibran," sahut Rania dengan datarnya karena sudah malas menggoda Jin.


"APA?! kenapa gak bilang dari tadi sih? sekarang pergi kemana orangnya?" tanya Jin dengan wajah sangat kesal.


"Mana aku tahu, mungkin nonton bareng, makan siang bareng, apa pergi ke kebun binatang, ya ngedate gitu deh," Rania menahan tawanya, makin puas rasanya saat melihat wajah Jin yang mulai cemas bahkan merah padam.


"Hmmm ya udah aku mau cari Setta...!" Jin melangkah sambil menghentak kakinya saat menuju parkiran motornya.


***


Di mobil Gibran.


"Aku takut nih bawa kamu sebenarnya ke tempat Madam Laura, Nathan pasti marah besar," ucap Gibran.

__ADS_1


"Udah sih kak tenang aja, kan kita cuma pantau dari jauh, kelihatannya bagaimana situasi di sana," ucap Setta.


"Hmm...Oke lah, demi kamu ini saya nekat begini," ucap Gibran dengan suara lirih.


Sesampainya di kawasan Madam Laura, Gibran memutuskan untuk masuk ke dalam kedai roti bakar di sebrang gedung bertingkat nan mewah bertuliskan "Blue House". Bangunan yang bernuansa biru itu tampak sepi hanya ada dua penjaga di depan gerbangnya.


"Mas itu bukanya jam berapa ya?" tanya Gibran pada si penjual.


"Jam sembilan malam mas, baru ya di sini?" tanyanya.


"iya nih, Oh iya kira-kira ada apa aja ya mas di dalam situ?"


"Banyak mas, ada hotel ada tempat spa, ada tempat clubing pokoknya seru," jawab di penjual.


"Mas pernah masuk?" tanya Gibran.


"Pernah lah mas, kalau lagi punya duit soalnya kan di sana bisa pijit plus-plus juga mas, hehehee," bisiknya.


"Pijit plus plus itu apa kak?" Setta berbisik menanyakan ucapan si penjual yang samar-samar terdengar.


"Nanti aja aku jelasin," sahut Gibran dengan cara berbisik juga.


"Oh gitu mas, boleh tuh kalau saya mau mampir hehehe," ucap Gibran menimpali.


"Banyak mas yang kayak gini juga ada," si penjual melirik ke arah Setta.


"Nih ya mas yang saya denger dari supir-supir bos yang suka mampir sini, mereka ceritakalau di sana itu lagi musim main sama anak kecil katanya," bisik si penjual.


"Wah parah, masa sama anak kecil sih, gak takut keciduk itu ya?" tanya Gibran.


"Gak bakal mas, kan yang jagain orang kuat, semacam pejabat gitu," ucapnya.


Ada kegeraman yang Gibran coba tahan saat mendengar mereka memperkerjakan anak kecil sebagai pekerja **** komersil, tapi juga ada keingintahuan yang besar kala mendengar ada pejabat besar yang menjaga tempat tersebut agar lolos dari tangan polisi, sungguh miris.


*****


Bersambung ya...


Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya Pocong Tampan


- Kakakku Cinta Pertama ku


- 9 Lives

__ADS_1


- Gue Bukan Player


Vie Love You All...😘😘


__ADS_2