
*** Chapter 75 ***
Ruangan serba biru dengan lampu penerangan yang minim membuat Tia mencoba menajamkan indera penglihatannya dengan baik. Ditambah hentakan musik yang sangat kencang memekakan telinga membuat kepala Tia merasa sangat pusing.
"Masuk!" perintah si Jambrong.
"APA?!" Tia berteriak menegaskan pendengarannya.
"MASUK...!!!" jambrong membentak kali ini.
"Ohh... oke!" sahut Tia menunjukkan dua ibu jarinya pada Jambrong.
Ruangan penuh dengan lukisan dan wallpaper bergambar lautan nan biru itu menarik dua kelopak mata milik Tia untuk menatap. Bola matanya berkeliling mengamati sekitar.
"Ehm ehm... silahkan duduk!" sapa seorang wanita paruh baya yang mengenakan kebaya biru dengan rambut pirang disanggul dan tertutup selendang di kepala.
"Eh nyonya..."
"Saya Madam Laura, silahkan duduk cantik!" ucapnya dengan senyum manis dan tutur bahasa yang halus.
"Terima kasih, Madam Laura, ummm ada apa ya gerangan kiranya memanggil saya ke sini?" tanya Tia.
"Kulihat penggemarmu di sini banyak juga ya, nah kebetulan ada pejabat pemerintah yang terpandang di kota ini, dan ia menginginkanmu," ucap Madam Laura.
"Pejabat? apa saya mengenalnya?" tanya Tia.
"Tentu saja, karena kau merupakan salah satu dari warganya," jawabnya.
"Salah satu warganya, aku tak mengerti Madam..." ucap Tia.
Madam Laura meraih sebuah majalah ibukota yang terpampang wajah seorang pria mengenakan seragam pejabat. Nyonya itu meletakkan di atas meja di hadapan Tia.
"Bukankah dia bapak walikota yang baru?" gumam Tia tapi terdengar oleh Madam Laura.
"Ya benar, bapak Sahrudin Yusuf, dia menyukainya, bahkan dia rela membayar mahal untuk membawamu ikut serta dalam perjalanan dinasnya ke luar kota," ucap Madam Laura.
__ADS_1
"A-apa... apa dia tidak salah pilih Madam, aku kan tidak cantik, masih banyak perempuan di sini yang lebih cantik dariku," ucap Tia.
"Kau ini benar-benar mencoba merendah, dia sudah mengamatinya beberapa hari yang lalu, dan rasanya tidak mungkin jika ia salah pilih," ucap Madam Laura sambil tertawa lirih.
Hening seketika karena pikiran perempuan yang mengenakan rambut palsu seleher dan menempelkan tahi lalat palsu di pipi kanan itu berkecamuk tak menentu. Jika ia menolak, nanti pastinya dia akan di keluarkan dari sini, dan di haruskan pergi jauh dari kota ini. Tapi jika ia menyetujui, dia harus bersama si tua bangka itu selama satu minggu.
Bagaimana caranya aku membawa Mayang ikut serta ya, dan bagaimana caranya aku bisa mengelabui si walikota selama satu minggu, batin Tia makin gak menentu.
"Tia... apa kau mendengarkan ku?" tanya Madam Laura mengejutkan Tia dan menyadarkannya dari lamunan.
"Ummm... sa-saya, saya cuma takut jika mendapatkan menstruasi, dan pastinya nanti saya bisa mengecewakan bapak walikota, apalagi selama satu minggu," ucap Tia mencoba mencari alasan.
"Kau tahu tak ada yang bisa mengecewakan perintah bapak Walikota, karena dia investor besar di Blue House ini," ucap Madam Laura.
Duh ini kenapa jadi makin ribet gini sih, kan cuma mau cari si Yana, kenapa malah jadi simpanan walikota sih, mana seminggu lagi...
"Kemasi barang-barang yang hendak kau bawa, karena biar bagaimanapun juga, aku tak terima kaga penolakan," ucap Madam Laura.
"Baiklah Madam, saya boleh ijin pamit sekarang?" tanya Tia.
"Baik terima kasih, Madam," ucap Tia.
Saat ia hendak membuka pintu utama, dua orang laki-laki bertubuh kekar mengenakan kemeja tipis dan celana super ketat masuk ke dalam ruangan tersebut. Pemandangan yang cukup membuat Tia risih kala dua laki-laki tersebut langsung menari dengan tarian erotis di hadapan perempuan tua itu.
Helai demi helai pakaian yang menutupi Madam Laura telah ditanggalkan oleh dua pria seksi tersebut.
Idih... amit-amit sumpah ganjen banget tuh nenek tua, batin Tia seraya menutup pintu besar tersebut.
"Kamu di suruh menginap di ruang vip ya?" tanya jambrong.
"Ya, tunjukkan saya tempatnya!" ucap Tia yang langsung dituruti perintahnya oleh si Jambrong.
"Kamu beruntung lho karena di pilih menjadi simpanan walikota, kamu akan langsung kaya, banyak perempuan di sini yang mau menjadi simpanan bapak walikota," ucap si Jambrong.
"Hmmm..." respon Tia datar, karena baginya malah menjijikan di pilih sebagai simpanan seorang pejabat yang harusnya menjadi panutan bagi warganya.
__ADS_1
"Ini ruangannya," ucap Jambrong.
Tia sempat mengamati dari jendela kaca di lantai tiga itu saat menuju kamar yang sudah di sediakan Madam Laura untuknya.
"Anak-anak itu mau di bawa kemana?" tanya Tia.
"Ke rumah singgah di jalan Laksana," sahut Jambrong.
"Kenapa di bawa kesana?" tanya Tia lagi mencoba mencari informasi dari si Jambrong yang bertubuh besar, kepala gundul tapi ternyata otaknya dangkal terjun bebas dari tempurung kepalanya sampai lutut.
"Mereka itu sudah dipesan oleh beberapa cabang Blue House di luar kota, makanya di taruh di rumah singgah, nanti ada beberapa mobil yang menjemput, dan mereka siap deh di pasarkan hahaha..." ucap Jambrong.
"Idih... di pasarkan, emangnya mereka boneka apa," sahut Tia dengan nada kesal.
"Ya kan mereka mau di jual, makanya di pasarkan, sama kayak kamu, cuma pembeli kamu ya kelas kakap, ya gak hahahaha," ucap Jambrong menertawai Tia.
"Bodo amat...!!!" ucap Tia lalu menutup pintunya dengan kencang.
"Judes banget neng!" ucap Jambrong seraya pergi kembali ke tempat kerjanya.
*****
Bersambung ya...
Jangan lupa mampir ke novel Vie lainnya :
- Pocong Tampan
- Kakakku Cinta Pertama ku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Vie Love You All...😘😘
__ADS_1