You Are My Life Kanaya

You Are My Life Kanaya
Bab 24


__ADS_3

semua kelas sudah selesai begitu pun dengan Kanaya yang berjalan gontai keluar, Dia belum di jemput dan Revan sendiri sudah menelpon nya jika dia tidak menjemputnya.


" Oh Hai kita ketemu Lagi, Em tapi gue sebenernya sih lebih seneng kalo Lo gak ketemu kemarin " Ucap Siska berjalan bersama Bela.


" Yup,, Karena Lo Revan jadi jauhin Siska dan Kenapa Lo masih Deket Deket Davin, Lo tau siapa gue kan " Ucap Bela.


Kanaya menghelat Napasnya,,


" Mau kalian apa sih " Ucap Kanaya yang sudah malas dengan mereka.


Siska dan Bela saling tatap,,


Mereka tersenyum dan berjalan mendekat.


Kanaya menautkan kedua alisnya, mau apa lagi mereka berdua.


" Kalian mau apa "


" Menurut Lo "


Siska dan Bela sama sama menarik tangan Kanaya dan menyeretnya.


" Lepas, Kalian kenapa sih gue ada salah apa sama Lo "


Siska dan Bela tidak menghiraukan ucapan Kanaya dan terus menyeret hingga sampai atap Kampus.


Bruk..


Kanaya terjatuh saat mereka mendorong nya.


" AW..* Rintih nya dan terlihat lecet pada telapak tangan Kanaya.


" Seharusnya Lo gak usah datang di Kampus ini, Lo cuma buat masalah dalam kampus, Karena Lo hubungan gue dan Revan menjauh dan Karena Lo Davin juga menjauh dari Bela.


Lo cewek tidak tau malu, Apa Lo mau semua cowok yang ada di kampus ini Hah " Bentak Siska.


Kanaya menggeleng dan beranjak Bangun.


" Mereka semua menjauh dari kalian karena ulah kalian sendiri, Seharusnya kalian mikir kenapa dan bukan menyalahkan orang lain."


" Lo ,-


Bela akan menampar Kanaya namun Siska Menahan nya,,


" Siska, kenapa Lo cegah gue dia pantas buat kita hajar."


" Udah lah Bel, buat apa kita capek capek urusin dia mending kita buat dia hilang dari dunia ini."


Kanaya menggeleng,,


" Ka- kalian mau apa "


Siska tersenyum dan terus berjalan mendekat membuat Kanaya berjalan mundur.


" Gue cuma pengin Lo gak ada di dunia ini, itu saja Kok "


" Kalian gila,, "


Siska tersenyum dengan menatap tajam ke arah Kanaya .


Duk..


" Aduh "


Tubuh Kanaya sudah terbentur dinding, dia menatap sekeliling tidak ada orang di sana namun baik Siska dan Bela terus saja berjalan mendekat.


" Siska, Bela " Lepasin

__ADS_1


Siska mengikat tangan juga kaki Kanaya di sana, Kanaya terus memberontak namun dia kalah karena melawan mereka berdua.


" Hahahaha,, sekarang kita lihat siapa yang bakal menyelamatkan Lo "


" Lepasin ,, Kalian "


" Ayo Bel "


Mereka berjalan pergi dan meninggalkan Kanaya yang masih berada di sana dengan kedua tangan dan Kaki yang di ikat.


Kanaya terus berteriak namun tetap saja bohong, karena Kampus sudah sepi dan Pintu yang sengaja di tutup bahkan di kunci oleh mereka.


Kanaya mencoba mengambil Tasnya, dia akan menghubungi Revan atau siapapun namun tasnya terlalu jauh dan membuatnya kesusahan.


Siska juga Bela terus tertawa mengingat apa yang nantinya akan terjadi dengan Kanaya, mereka berjalan keluar dan menuju parkiran.


" Siska Stop " Ucap Bela saat melihat Davin yang masih berada di parkiran .


" Apa sih Bel, Udah sore mau hujan juga "


" Davin masih di parkiran."


Siska menatapnya dan benar saja , Davin baru berjalan menuju mobilnya.


Dan tidak lama mobil sport putih pun melaju keluar.


" Huhhf,, Gue gak mau Davin tau kita masih ada di kampus "


Bela menarik tangan Siska dan mereka menuju Mobilnya.


Sementara hari semakin sore,


Bahkan cuaca semakin mendung, Kanaya menggeleng tidak mungkin dia terus berada di sana yang ada dia akan kehujanan.


" Aku harus mengambil tas itu,, "


Petir mulai terdengar membuat Kanaya ketakutan bayangan dimana saat dirinya hilang kemarin kembali teringat.


Dad, Mom,,


Tolong Naya, Kak Revan..


Kanaya terus terisak, hujan sudah mulai membasahi tubuhnya.


Perasaan siang tadi panas, cuaca memang sulit di tebak. gumam Davin saat hujan turun.


" Astaga,, Dimana berkas yang Pak Jaya berikan Tadi."


Davin menepikan mobilnya dan mencari berkas yang di titipkan Pak jaya.


Tidak ada di dalam tasnya, bahkan di jok belakang pun tidak ada.


Davin terdiam dan teringat jika sebelum pulang, dia kembali masuk ke dalam kelasnya dan meletakkan berkas itu di atas meja.


Mau tidak mau Davin pun harus kembali ke Kampus untuk mengambil nya.


Kanaya terus berusaha berteriak, namun tidak ada satu orang pun yang mendengar nya bahkan datang membantu nya.


Dia sudah putus aja,,


Dan hanya duduk bersandar dengan tubuh yang bahas kahujanan.


Davin sampai di kampus dan segera masuk, dia berjalan menyusuri lorong Kampus dengan suasana yang sudah sangat sepi.


Semua Mahasiswa/wi sudah pulang.


" Ini dia " Ucapnya saat menemukan Berkasnya.

__ADS_1


Dia pun berjalan pergi, namun perasaannya tidak enak.


Dia pun menoleh ke arah pintu yang menuju Atap Kampus.


Davin menggeleng dan kembali berjalan namun lagi dan lagi dia menoleh rasanya ingin sekali dia masuk ke dalam sana.


" Tolong,, "


Deg..


Davin samar samar Mendengat suara seseorang berteriak Tolong.


Dia menautkan kedua alisnya, tidak ada siapa pun di sana lantas siapa yang berteriak.


" Pliss siapapun tolong ,,"


" Suara itu,, "


Davin segera berlari dan membuka pintu yang ternyata terkunci, dia terus berjalan menaiki anak tangga dan melupakan jika suasana di sana begitu sepi.


Ceklek,,


Pintu terbuka,,


" Astaga Kanaya " Ucap Davin saat melihat Kanaya yang sudah sangat lemah dengan Tubuh yang basah kuyup.


Kanaya menatap laki laki yang mendekat, namun pandangan nya samar , kepalanya begitu pusing hingga membuatnya pingsan.


" Kanaya,, "


Davin melepas semua ikatan tangan juga Kaki Kanaya, dia pun langsung membopong tubuh Kanaya.


Dengan sangat susah payah dia pun berhasil turun dan segera membawanya ke dalam mobil.


Dia harus segera ke Rumah sakit,,


" Nay,, Pliss jangan bikin gue khawatir" Gumam Davin mengusap wajah Kanaya yang tampak sangat pucat.


Davin semakin cepat melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk bisa segera sampai di Rumah Sakit.


______


Sementara Revan,,


Dia menatap ponselnya, tidak ada pesan dari Kanaya mengabarkan jika sudah sampai di Rumah.


Dia masih berada di dalam ruangan bersama beberapa Staff Kantor.


Ting,,


Ponselnya berbunyi, dia pun segera membacanya dan ternyata pesan singkat dari Nia yang malah menanyakan keberadaan Kanaya.


Nia malah berpikir jika Revan lah yang menjemput nya karena Sopir rumah bilang jika Kampus sudah sepi dan semua mahasiswa/wi sudah pulang.


" Pa,,. Revan ke luar sebentar" Bisik Revan


Revan mengangguk dan berjalan keluar, dia segera menghubungi Nia dan menanyakan pesan itu.


" Ya Tante,, Kanaya tidak sama Revan. "


" Astaga terus dimana Kanaya, Ponselnya juga tidak bisa di hubungi."


" Terus dimana Kanaya sekarang Tante, Revan masih di Perusahaan Papa "


" Ya Tuhan Kanaya,, Kamu dimana Sayang "


" Tante tenang ya, Biar Revan mencari Kanaya ":

__ADS_1


Revan menutup telponnya, namun Ponselnya kembali berdering dan dia pun menautkan kedua alisnya saat melihat siapa yang menghubunginya.


__ADS_2