You Are My Life Kanaya

You Are My Life Kanaya
Bab 55


__ADS_3

Seperti biasanya Davin selalu menjemput Kanaya untuk Ke kampus,,


Selama status hubungan mereka sudah banyak yang tau membuat banyak yang merasa patah hati apalagi selama ini semua mahasiswi mengenal Davin sebagai Idola kampus bukan karena wajahnya yang tampan namun juga karena kapten Basket dan juga dia memiliki otak yang pandai.


Banyak Mahasiswi yang sangat mengidolakan nya dan menginginkan menjadi kekasihnya.


Kanaya mahasiswi baru langsung bisa merebut hati sang idola membuat banyak mahasiswi yang merasa iri dengannya namun sikap dan sifat Kanaya yang sama sekali tidak sombong membuat semua merasa jika Kanaya sangat cocok dengan sang idola mereka.


Pagi ini,,


Davin berjalan bersama Kanaya menyusuri Lorong Kampus dengan saling bergandengan.


Kanaya masih tampak diam, Entah bagaimana harus bicara dengan Davin soal permintaan Bela waktu itu.


Dia tau jika Davin masih belum bisa menerima perubahan sikap Bela.


" Sayang hei,, Kenapa " Ucap Davin yang memang sudah menyadari sikap kekasih nya itu.


Kanaya hanya tersenyum dan menggeleng,,


" Benar , Kamu gapapa kan Atau,,-


" Nanti siang apa Kakak sibuk gak "


Davin mengernyit,,


Namun kemudian menggeleng,,


" Mau anterin aku ?"


Davin tersenyum dan berbalik menatap Kanaya,,


" Memangnya mau kemana sih,,jadi dari tadi kamu memikirkan ini ?"


Kanaya mengangguk,,


" Ya Udah, Setelah pulang nanti anterin aku ya..


Kakak semangat belajar nya,, " Ucap Kanaya melepaskan genggaman tangannya dan tersenyum.


Davin menggeleng dengan sikap Kanaya, ini lah yang membuatnya selalu gemas dengan tingkah Kanaya.


Dia pun berjalan menuju kelasnya,,


Sementara di tempat Lain,,


Bela masih sibuk menyiapkan semua pakaian nya, siang ini dia akan berangkat ke Paris untuk melanjutkan Kuliah nya di sana.


Orang tuanya sudah mengurus semuanya.


Bela menghela napasnya,,


Dua puluh tahun dia tinggal di Jakarta dan kali ini harus meninggalkan nya cukup membuatnya merasa sedih, kota kelahirannya, dimana selama ini dia hidup di sana.


Namun keputusan nya sudah bulat, dia akan melanjutkan kuliah di Paris bukan hanya untuk meraih cita citanya namun juga untuk melupakan Davin, Cinta pertamanya.


Walau itu sangat susah baginya, namun dia harus bisa Melupakan Davin apalagi sekarang Davin sudah memiliki kekasih yang sangat dia Cintai.


" Sayang "


Bela menoleh dan tersenyum,,


" Apa kamu serius dengan keputusan kamu untuk Kuliah di Paris, Mami bisa membatalkan semua nya"


Bela menggeleng,,


" Bela serius Mi, Bela masih ingin mengejar Cita cita Bela "


" Tapi Sebenarnya kamu bisa melanjutkan kuliah di Jakarta Sayang, Selama ini Kamu tidak pernah jauh dari Papi juga Mami"


" Mami Lupa kalau Bela sudah tidak bisa Kuliah di Indonesia?"


Perbuatan yang sudah Bela lakukan terhadap Kanaya dulu berdampak besar karena ancaman Robi sama sekali tidak main main.


Semua Universitas di Indonesia sama sekali tidak mau menerima Bela di kampus mereka karena sikapnya.


" Papi bisa bicara dengan Keluarga Kanaya untuk mencabut ucapan nya "


" Gak usah Mi, lagian semua karena Bela juga kan ,, Mereka wajar melakukan semua itu " Ucap Bela tersenyum.


Bela kini sudah menyadari semua sikapnya selama ini, sikap jahatnya terhadap Kanaya.

__ADS_1


" Mami bangga sama kamu Sayang "


Bela langsung memeluk Maminya, selama ini tingkah nya sudah pasti membuat orang tuanya sangat merepotkan.


" Mami bantu kamu beresin semua nya "


" Makasih Mi "


Bela membuka Kopernya dan kembali membereskannya.


_______


Hari pun sudah siang,,


Seperti Janjinya Davin akan menemani Kanaya.


" Jadi Kamu mau kemana ?" Ucap Davin yang memang belum tau Kekasihnya itu mau kemana .


" Bandara Kak " Ucap Kanaya membuat Davin Bingung.


" Bandara, Memangnya mau apa Sayang siapa yang mau pergi ?"


" Nanti Kakak bakal tau ya,, "


Davin terdiam,,


Dia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Kekasih nya itu,,


Kanaya sendiri belum menceritakan semuanya, dia sudah berjanji dengan Bela jika akan datang ke Bandara bersama Davin.


Bela sudah berada Di Bandara, Dia berharap jika Kanaya akan menempati Janjinya datang bersama Davin.


Bela sengaja minta Kanaya mengajak Davin, karena bukan tanpa sebab.


Davin tidak akan mau datang jika dia yang meminta nya, berbeda dengan Kanaya yang sudah pasti akan bisa meluluhkan hati Davin.


Dia sangat ingin bertemu dengan Davin sebelum ke Paris walau hal itu sangat mustahil.


" Sayang ,, "


" Papi,, " Ucap Bela tersenyum.


Rendy menatap wajah Putri nya, dia sendiri sangat tau apa yang sedang di pikirkan Bela dan siapa yang di tunggu olehnya.


Bela tersenyum,,


" Tapi sepertinya mustahil Pi, Bela juga sudah minta Tolong Kanaya untuk mengajak Davin tapi mereka tidak sampai hingga sekarang, mungkin Davin tidak mau ketemu Bela lagi"


Rendy sangat tau perasaan Putrinya, dan dia sendiri tidak bisa berbuat apa apa.


Bela menghela napasnya,,


Mungkin memang mereka tidak akan datang apalagi Davin.


" Bela "


Bela membalikan tubuhnya saat mendengarkan seseorang memanggilnya.


Kanaya berjalan mendekat bersama Davin,


Senyuman terukir di wajah Bela, Kanaya benar benar menempati janjinya untuk datang bersama Davin.


" Sorry aku telat " Ucap Kanaya saat sudah berada di depan Bela


Bela menatap Davin yang hanya diam,,


" Gapapa Kok, Gue seneng banget Lo bisa datang Nay, Makasih banget ya "


Kanaya tersenyum,,


" Vin, Gue juga seneng Lo bisa Dateng..


Gimana kabar Lo "


" Gue baik Kok " Ucap Davin singkat.


Bela tersenyum dan mengangguk,,


Dia sadar siapa dirinya, dan terlihat jelas bagaimana Davin.


" Nay, sekali lagi gue minta Maaf atas apa yang sudah gue lakuin sama Lo selama ini. Entah kapan kita bakal ketemu lagi dan Makasih Lo mau jadi temen gue "

__ADS_1


Kanaya mengangguk,,


" Aku sudah melupakan semuanya, Kamu semangat ya Kuliahnya di sana, Aku tunggu kepulangan Kamu Bel "


Bela mengangguk dan memeluk Kanaya,,


Davin membiarkan mereka,,


" Vin, gue minta Maaf sama Lo karena sikap gue selama ini, sikap gue terhadap Kanaya yang sudah sangat jelas membuat Lo benci gue.


sebenarnya gue berat banget ninggalin kota Jakarta, Kota kelahiran gue dan selama ini gue tinggal di Jakarta. " Ucap Bela dengan menyeka air matanya.


Rasanya sangat sesak, apalagi melihat sikap Davin yang begitu cuek dengannya.


" Sebelum gue pergi, Apa gue boleh peluk Lo Vin, Sorry itu hanya pelukan untuk ungkapin Perpisahan, tapi kalau Lo,-


" Gapapa Kok Bel,-


Potong Kanaya membuat Davin langsung menatapnya,,


" Sayang" Ucap Davin namun Kanaya tersenyum dan mengangguk.


Bela menyeka air matanya dan memeluk Davin,,


Davin hanya diam namun tangannya menggenggam erat tangan Kanaya, dia tidak mau membuat kekasih nya kecewa Dengan nya.


Kanaya menatap genggaman tangan Davin, sebenarnya sesak melihat kekasihnya berpelukan dengan nya wanita lain namun dia tidak boleh egois karena semua itu.


Bela melepaskan pelukannya, dia tau jika Davin melakukan semua itu karena permintaan Kanaya apalagi sikap Davin yang hanya diam tanpa membalas pelukannya dan malah menggenggam erat tangan Kanaya.


Dia semakin tau bagaimana perasaan Davin terhadapnya juga terhadap Kanaya.


Kedua orang tua Bela melihat semua nya, dia pun merasakan apa yang di rasakan oleh Putrinya.


" Thanks ya Vin Atas semua nya,,


Gue tau jika permintaan gue gak masuk akal, tapi Lo gak usah salah paham karena itu hanya pelukan perpisahan.


Thanks selama ini Lo udah mau kenal gue, Lo udah baik Sama Gue, dan Gue Minta Maaf soal perasaan gue selama ini sama Lo.


Gue sadar jika Hati Lo hanya untuk Kanaya dan sekuat apapun gue untuk bisa mendapatkan hati Lo itu percuma dan gak bakal bisa " Ucap Bela tersenyum kecut.


" Kanaya dia cewek yang baik, Cantik bukan hanya wajahnya namun juga hatinya dan Lo sangat pantas mendapatkan nya."


Kanaya menatap Bela yang menggenggam tangannya,,


" Jaga Kanaya baik baik, Dia Sahabat gue sekarang dan gue gak akan pernah tinggal diam jika melihat dia sedih ataupun menderita."


" Bela " Lirih Kanaya menatap Bela yang tersenyum menatapnya.


" Udah waktunya gue pergi,,


Jaga kesehatan kalian di Jakarta, Gue berharap jika bisa kembali bertemu dan Kalian masih mau menjadi sahabat gue "


Kanaya menggenggam tangan Bela,,


" Kamu jaga diri di sana, Jaga kesehatan dan Kamu selamanya akan jadi sahabat aku Bel ."


Bela tersenyum dan mengangguk,,


" Ya Sudah Gue pergi ya,,


Vin, Jaga Kanaya baik baik "


Bela memutar tubuhnya,,


Dan berjalan masuk,,


" Bela tunggu " Ucap Davin membuat Bela menoleh.


" Sukses untuk Lo meraih cita cita di sana "


Bela tersenyum dan mengangguk.


Dia kembali melangkah masuk.


Kanaya terus menatap Bela, entah mengapa rasanya begitu sesak dalam hatinya.


Mereka baru saja dekat dan menjadi sahabat, Namun Bela harus pergi meninggalkan nya.


Davin menggenggam erat tangan Kanaya yang kini sudah menenggelamkan wajahnya pada dada bidang nya,,

__ADS_1


Davin mengusap lembut rambut panjang kekasih nya itu.


Hingga Bela sudah tidak Lagi terlihat oleh mata keduanya.


__ADS_2