
Kanaya menoleh,,
Terlihat Bela berjalan menghampiri nya dengan wajah terlihat kesal.
" Kak Bela " Ucap Kanaya
" Lo sudah mendengar nya bukan, gue minta tolong sama Lo tolong jauhin Davin. Gue bener bener cinta dan sayang Davin. Kita sudah lama saling mengenal dan juga dekat tapi entah kenapa Davin berubah jadi menghindari gue.
gue sedih banget Nay, gue tau gue salah dan jahat sama Lo tapi gue sadar.
Maafin gue Nay " Ucap Bela menggenggam tangan Kanaya yang masih diam mematung.
" Lo mau kan maafin gue "
Kanaya mengangguk.
" Thanks Nah , Gue pergi dulu "
Kanaya menatap Bela yang langsung berjalan keluar.
jadi apa mana yang benar,,
Kak Davin bilang jika mereka tidak pernah ada hubungan tapi Bela ,,
Kanaya menghela napas nya dan kembali berjalan.
rasanya dia begitu bingung dengan semuanya.
Derrt,,
Dia melihat sebuah panggilan masuk dari sopir rumahnya.
" Halo Pa "
" Non Kanaya,, Bapak sudah di jalan tapi macet karena ada kecelakaan jadi Non tunggu sebentar ya Non."
" Oh ya gapapa Pa, Pak Kardi hati hati ya "
" Baik Non, Tunggu ya Non "
Kanaya menutup telponnya dan berjalan santai keluar kampus.
dia akan menunggu Pak Kardi si halte dekat Kampus.
Sementara Bela tersenyum,,
Dia sengaja mendatangi Kanaya dan berpura pura bersalah dan sadar dengan perbuatannya.
Lo liat aja Vin,,
Lo gak bisa jauhin Kanaya, tapi gue bisa buat Kanaya jauhin Lo.
Bela melajukan mobilnya pergi.
Davin mencari keberadaan Kanaya yang tidak terlihat, Bahkan di kampus pun tidak ada.
semua Kelas sudah selesai.
" Vin, Lo cari siapa sih " Ucap Gilang.
Davin terdiam dan segera menuju Mobilnya.
Kanaya duduk di Halte dengan bermain ponselnya, namun tanpa di sadari ternyata turun hujan dan membuatnya sedikit menjauh.
Davin baru saja keluar gerbang Kampus, namun dia melihat Kanaya yang berada di Halte sediri.
" Itu bukannya Kanaya * Gumam Davin mendekat dan benar saja Kanaya berdiri di sana.
Davin keluar dan langsung menghampiri Kanaya.
" Kanaya " Ucap Davin membuat Kanaya menatapnya.
" Kak Davin "
" Jemputan Lo belum datang "
Kanaya tersenyum dan menggeleng,,
Davin menatap hujan yang semakin besar.
" Pak Kardi bilang kena macet" Ucap Kanaya membuat Davin menoleh.
__ADS_1
" Gue anterin " Ajak Davin
" Tapi Kak,-
Davin menatap Kanaya yang kembali mengangguk.
Davin melepas Jaketnya untuk menutupi kepala Kanaya dari hujan dan mereka berlari menuju Mobil.
Kanaya menatap Davin, bahkan dengan sikapnya membuat merasa bersalah terhadap Bela.
Davin melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang sudah basah karena hujan.
Kanaya hanya diam.
Wajah Bela, tangisan Bela bahkan ucapan Bela terus teringat dalam pikiran nya.
" Ada Apa " Ucap Davin membuat Kanaya menggeleng.
" Semua yang Bela katakan itu tidak benar "
Deg..
Kanaya menatap Davin yang masih fokus dengan stir bundarnya.
" Gue dan Bela sama sekali tidak ada hubungan dan hanya sebatas teman tidak lebih."
Kanaya memejamkan Matanya,,
" Tapi Kak Bela begitu mencintai Kakak, semua yang Kak Bela lakukan itu karena dia tulus sayang"
Davin menghentikan mobilnya,,
" Perasaan tidak bisa di paksa Nay, Dan gue hanya menganggap nya sebagai teman tidak lebih."
" Tapi Beda dengan Kak Bela Ka "
" Jangan pernah bahas Bela di saat kita bersama " Ucap Davin kembali melajukan mobilnya.
Kanaya terdiam,,
Dia menggigit bibir bawahnya, dia merasa jika Davin marah karena ucapan nya.
Sesekali Kanaya meliriknya, namun tetap saja Davin tidak bicara dan hanya terus menatap jalanan.
" Makasih Kak,, "
Davin mengangguk dan Kanaya Langsung keluar Mobil.
Davin kembali melajukan mobilnya keluar dari Halaman rumah Kanaya.
Kanaya terus menatap nya hingga sudah tidak lagi terlihat Mobil nya.
Apa gue salah bicara, Kak Davin terlihat begitu marah. Gumam Kanaya
_______
Davin sampai di Rumah nya,,
Dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya.
Ucapan Kanaya yang terus membicarakan Bela membuatnya kesal.
Di saat bersamanya Kanaya malah membicarakan tentan wanita lain.
Kanaya,, Gumam Davin memijat pelipisnya.
Tidak berbeda dengan Davin,,
Kanaya pun terus berada di dalam kamarnya setelah pulang siang tadi.
" Sayang,, Boleh Mommy masuk Nak "
" Masuk aja Mom *
Hana tersenyum dan berjalan masuk menghampiri putrinya yang berada di tengah tempat tidur.
" Kenapa anak Mommy hari ini, Mommy Lihat lagi ada sesuatu apa mau cerita ?"
Kanaya menatap Hana,,
" Nay bingung Mom, Bela menghampiri Nay tadi "
__ADS_1
" Bela, mau apa lagi dia "
" Mom,, Bela gak berniat mencelakai Naya bahkan dia minta maaf dan menyesal melakukan itu."
" Syukurlah,, terus ngapain dia menghampiri kamu"
" Jadi sebenarnya Antara Bela dan Kak Davin di jodohkan, namun Kak Davin menolak namun berbeda dengan Bela yang terus mengharapkan pertunangan itu."
" Terus ?" Ucap Hana
" Saat pulang tadi, Nay bilang soal Bela tapi Kak Davin seperti marah. "
Hana tersenyum dan mengusap wajah cantik Putri nya.
" Jadi kamu merasa bersalah karena membicarakan Bela di saat Bersama Davin ?" Ucap Hana dan Kanaya Mengangguk.
" Mungkin Karena Davin memang mengangap Bela sebagai teman sana Sayang, dan ini juga soal Perasaan.
Setiap orang menginginkan pernikahan hanya sekali seumur hidup dan Mungkin itu yang Davin inginkan juga.
menikah dengan wanita yang dia cintai, karena perasaan nya bukan karena perjodohan."
" Tapi Mom, Nay merasa bersalah dengan Kak Davin."
" Mommy yakin jika sebenarnya Davin tidak marah sama kamu, cuma dia mungkin memang tidak suka jika membicarakan oran lain di saat bersama kamu"
Kanaya terdiam,,
* Ya Sudah jangan terlalu di pikirkan, besok saat kamu bertemu Dengan nya bicara dan minta maaf ya Sayang, jadi tidak ada salah paham antara Kalian."
* Iya Mom, besok Nay bakal minta maaf"
Hana mengangguk dan mengusap rambut Kanaya yang terdiam.
Di tempat lain,,
Davin berada di balkon kamarnya menatap langit malam yang masih terlihat mendung namun hujan telah berhenti.
Ting,,
Ponsel bunyi membuatnya menoleh ,,
Matanya mengernyit saat melihat pesan masuk di ponselnya.
Gilang
Gue di Cafe bareng anak anak,, Lo ke sini Vin .
Davin membalas nya dan segera masuk untuk mencari Jaketnya.
Dia pun berjalan turun untuk datang di Cafe dimana semua temannya kumpul.
Di Cafe,,
Gilang menyimpan Ponselnya,,
" Davin bilang dia mau kesini "
Revan mengangguk,,
" Oya Van, sebenarnya gue pengin bicara sama Lo deh,, "
Revan mengernyit,
* Bicara apa sih, sepenting itu ?"
* Lebih dari penting "
" Emang apa sih Lang "
* Soal Davin dan Kanaya. "
Revan terdiam,,
* Maksud Lo ?"
Gilang menceritakan semuanya terhadap Revan.
* Oke,, biar gue yang atur " Ucap Revan terdiam dan kembali menuai kopinya .
Jadi Davin menyukai Kanaya,,
__ADS_1
Tapi sejujurnya gue setuju jika mereka bersama, selama ini Davin sangat baik dan terus menolong Kanaya.
Jika bersama Davin, dirinya pun Merasakan tenang.