You Are My Life Kanaya

You Are My Life Kanaya
Bab 84


__ADS_3

Davin sampai di rumahnya, dia tau apa akibatnya saat membatalkan kerjasama mereka dan yang pasti kerugian besar dia dapatkan.


Namun di balik semua itu, dia sangat yakin dengan keputusannya apapun akan dia lakukan untuk membuat Kanaya tenang.


"Dave, kamu baru pulang" Sapa Nugraha.


"Ayah sudah pulang"


"Ayah menunggu kamu, Kita bicara di ruang kerja Ayah."


Davin mengangguk dan mengikuti Nugraha menuju ruang kerjanya.


"Duduk Dave"


Mereka duduk di sofa, Davin tau apa yang akan di bicarakan oleh Ayahnya, tapi dia sudah siap jika nantinya akan kena marah.


"Ayah dengar jika kamu membatalkan kerjasama dengan salah satu Perusahaan lain padahal semua sudah berjalan."


Davin mengangguk,,


"Dave minta maaf Yah"


"Apa alasan kamu membatalkannya, dan kenapa tidak lebih dulu bicara dengan Ayah."


Davin menghela napasnya..


"Pemilik perusahaan itu bernama Lidia, dan sebelumnya Dave menerima kerjasama itu karena design Sangat cocok dengan gedung yang akan kita bangun.


Tapi sebenarnya bukan karena hal itu, namun Dave tidak suka dengan sikap Lidia yang seakan ingin lebih dekat dengan Dave, bahkan dia sempat memfitnah Kanaya selingkuh padahal Kanaya bersama Revan kakaknya."


Davin terus menceritakan semuanya, alasan kenapa dia membatalkan kontrak itu.


Nugraha diam dan terus mendengarkannya,,


"Jadi karena Kanaya kamu membatalkan kontrak itu walaupun sebenarnya kita akan mendapatkan rugi besar."


Davin mengangguk,,


"Silahkan Ayah menghukum Dave, Dave terima karena memang Dave salah dalam hal ini."


Nugraha tersenyum dan menepuk bahu putranya.


"Ayah tidak akan menghukum kamu, tapi Ayah bangga dengan sikap tegas kamu. Kamu benar sebuah hubungan akan bermasalah jika ada orang lain yang ikut campur."


"Tapi Yah,-


"Keputusan kamu tepat dan benar, Ayah tidak akan marah dan menghukum kamu. Ayah hanya ingin tau alasannya."

__ADS_1


Davin menatap Nugraha dan tersenyum


"Terimakasih Yah, Dave minta maaf."


"Sudahlah,, sekarang istirahat."


Davin mengangguk dan berjalan keluar.


Sebenarnya Nugraha sudah tau semuanya, walaupun dia tidak berada di Jakarta namun dia akan tau semua tentang Perusahaan juga putranya.


Semua Perusahaan yang kerjasama dengan Perusahaan miliknya akan selalu dia cari tau secara detail apalagi Lidia yang baru saja merintis bisnisnya.


********


Lidia yang telah mabuk berat menolak untuk Reyhan ajak pulang, Bahkan Lidia terus saja memesan banyak minuman.


"Stop Lidia, Lo jangan siksa diri Lo karena Davin"


"Lo gak tau gimana hancurnya gue, Davin membatalkan kerjasama ini itu artinya dia tidak mau bertemu gue."


Reyhan menggeleng.


"Lidia dengar, mereka baru tunangan dan belum menikah. Lo bisa rebut dia dari tunangannya."


Lidia terdiam,


"Ha,, itu tidak mungkin terjadi. Gue gak pernah bisa dekat atau mendapatkannya."


Reyhan menarik Lidia untuk menatapnya,,


"Gue bakal bantu Lo dapetin Davin, Sekarang kita pulang."


Lidia menatap Reyhan, walaupun tatapannya buram namun akhirnya dia pun mengangguk.


Reyhan memapah Lidia keluar dari Tempat yang sangat bising dengan alunan musik yang begitu keras, banyaknya orang di sana yang meliuk-liuk mengikuti alunan musik, bau Minuman yang sangat menyengat.


lidia memejamkan matanya,.terlalu pusing memikirkan semuanya, Reyhan menatap Lidia dan tersenyum.


Dia pun memikirkan sesuatu dengan keadaan Lidia yang seperti ini.


********


Sementara di tempat lain,,


Dita terus saja menyeka air matanya, sesak pedih hancur hatinya saat ini.


Menolak perasaan Revan terhadapnya, mulutnya bisa saja berbohong namun tidak dengan hatinya yang begitu sakit.

__ADS_1


Tok,,


Tok,,


"Dita, kamu didalam sayang"


Dita terdiam, dia tidak mau membuat Ibu nya khawatir dengan keadaannya saat ini.


"Sayang, Ibu masuk ya"


Dita segera mengusap wajahnya,,


"Masuk Bu"


Ceklek,,


Pintu terbuka, senyuman hangat yang selalu membuat Dita tenang.


"Ibu kapan pulang, kenapa Dita tidak mendengar suara mobil Ibu."


"Sudah dari satu jam yang lalu, dan Ibu tidak melihat kamu keluar kamar. Kamu baik-baik saja kan Nak."


Dita tersenyum dan mengangguk..


"Dita gapapa Bu, Dita cuma sedikit lelah."


"Ya sudah kamu istirahat ya, Ibu keluar dulu"


Dita mengangguk dan menatap punggung Ibu nya keluar.


Tidak lama air Matanya kembali menetes, dia tidak bisa lagi menyimpan kesedihannya.


Sama halnya dengan Dita yang tampak sedih, Revan pun berada di Apartemennya dengan lampu yang gelap.


Tatapannya kosong menatap suasana Balkon kamarnya yang gelap.


Hatinya perih karena Dita menolaknya, perasaan yang entah sejak kapan dia rasakan terhadap Dita.


"Gue harus tau alasan Lo nolak gue, gue gak bisa tinggal diam. Gue harus cari tau dan menanyakan semuanya."


Revan berniat untuk menanyakan semuanya besok di kampus.


Matanya menatap benda pipih yang berada tidak jauh dari tempat dia duduk.


Dia pun beranjak dan mengambilnya, di mencari nomor Dita dan mencoba untuk menghubungi nya namun tetap saja tidak bisa di hubungi.


semua pesan yang dia kirim tidak ada satu pun yang terkirim, apa Dita telah memblokir nomornya.

__ADS_1


Semakin Dita bersikap seperti ini membuat Revan merasa curiga telah terjadi sesuatu dengan Dita, dia tau jika Dit menyembunyikan sesuatu.


__ADS_2