
Revan kembali pulang setelah mengantar Kanaya pulang, dia pun merasa bingung dengan sikap Davin yang juga tidak membalas pesannya.
Bahkan beberapa dia menghubungi nya pun Davin tidak menjawab.
" Davin kenapa, apa dia sibuk dengan perusahaan" Gumam Revan setelah Telpon nya kembali tidak Davin angkat.
Dia pun melaju mobilnya menuju Apartemen miliknya di Jakarta.
___
Di dalam kamar,
Kanaya merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna warni , gorden jendela kamar nya yang sengaja dia biarkan terbuka pun seakan menari karena hembusan angin.
Kanaya melirik ponselnya, dia berharap jika Davin membalasnya namun kenyataan pahit harus dia terima karena tidak ada balasan juga dari Davin.
Tok,,
Tok,,
" Sayang,, Mommy boleh masuk " Ucap Nia membuka pintu Kamar Putri nya.
" Ya Mom "
Kanaya beranjak bangun dan duduk, dia mengambil salah satu Boneka dan memeluknya.
Nia duduk di samping Kanaya dengan menautkan kedua alisnya.
" Kenapa wajah kamu gitu, terus tadi kenapa Revan yang antar kamu menang nya kemana Davin "
Kanaya menghela napasnya,,
" Nay juga gak tau dimana Kak Davin Mom, dari semalam Nay coba menghubungi nya tapi sama sekali tidak di jawab semua pesan Nay juga gak ada satu pun yang di bales."
Nia tersenyum dan mengusap wajah Kanaya yang tampak sedih.
" Mungkin Davin sibuk di Kantor Sayang."
" Tapi Kak Davin selalu sempetin buat kasih kabar Mom, tapi kali ini,-
" Jangan berpikir macam-macam, Mommy yakin kalau Davin baik-baik saja dan akan secepatnya menghubungi kamu balik.
Sekarang mending kamu mandi dan kita makan malam. "
Kanaya mengangguk dan beranjak bangun menuju kamar mandi.
Nia menggeleng dan meninggalkan Kanaya, dia keluar untuk menyiapkan makan malam mereka.
Davin baru saja sampai di rumahnya, dia segera masuk ke dalam kamar.
Kedua orang tuanya tampak berada di dalam kamar.
Jas yang sudah dia lepas pun di letakkan di atas sofa, tangan nya kembali merogoh saku celana dan menatap kembali cincin pertunangannya.
Senyuman terukir di wajah tampan nya, namun dia kembali mengambil ponselnya saat Revan menghubungi nya.
Davin pun menggeser tombol hijau dan menjawabnya.
" Halo Van " Ucap Davin menyandarkan kepalanya pada sofa.
__ADS_1
" *Akhirnya Lo angkat telpon gue,
Lo dimana sih Dave, dan Lo udah baca semua pesan gue t**ermasuk pesan Kanaya Dan kenapa Lo gak bales. Lo tau gimana perasaan Ade gue hah* ":
Davin menghela napasnya,,
Dia tau jika Revan pasti akan sangat marah, tapi dia sengaja melakukan semua ini untuk memberikan kejutan untuk Kanaya.
" Sorry gue sibuk di Kantor."
" Apa Lo bilang sibuk,,
Gue gak Nyangka Lo seperti itu, Gue gak akan pernah biarkan Lo nyakitin Ade gue. "
Tut,,
Tut,,
Tut,,
Davin menggeleng..
" Sorry Van, tapi gue harus lakuin ini."
Davin menatap jam yang sudah hampir magrib, dia pun meletakkan ponsel juga kotak cincinnya.
Dengan menggulung kemeja panjangnya dia berjalan masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
******
Hingga makan malam Davin pun belum membalas pesan Kanaya hingga membuatnya tidak selera makan.
" Nay ke kamar dulu ya Dad, Mom "
Robi juga Nia menatap Bingung putrinya, tidak biasanya Kanaya bersikap seperti ini.
" Ada apa dengan Kanaya, tumben seperti itu Mom "
Nia tersenyum,,
" Biasa Dad, anak muda "
Robi mengangguk dan kembali menikmati makanan nya.
" Setelah Makan Mommy coba bicara dengan Kanaya "
Di dalam Kamarnya,,
Kanaya merebahkan tubuh nya, rasanya sedih dan bingung dengan sikap Davin.
Jika dia salah seharusnya Davin memberitahu dirinya dan tidak malah diam seperti ini.
" Apa aku buat salah, tapi kemarin bahkan kita baik -baik Saja."
Kanaya mengambil boneka miliknya dan menatap nya..
" Aku harus bagaimana, Apa besok aku coba menemui Kak Davin dan menanyakan kenapa, tapi apa tidak malah mengganggu nya atau Kak Davin sedang sibuk, tapi selama ini selalu ada waktu untuk aku."
Kanaya terus bercerita tentang perasaan nya kepada Boneka miliknya.
__ADS_1
Tanpa sadar dia pun terlelap karena rasa lelahnya.
Tok,,
Tok,,
" Sayang,, " Ucap Nia mengetuk pintu kamar anak gadisnya.
Tidak ada jawaban membuat Nia membuka pintu dan dan berjalan masuk.
Matanya menatap Kanaya malah tertidur dengan tubuh memeluk boneka.
" Astaga Sayang " Ucap Nia duduk di samping Ranjang.
" Sayang,, bangun yuk " Lanjut Nia mengusap lengan putrinya Kanaya.
Kanaya membuka matanya ..
" Mommy " Ucapnya beranjak bangun.
Nia tersenyum dan mengusap wajah Kanaya yang tampak baru bangun tidur.
" Ikut Mommy turun Yuk " Ajak Nia
" Kemana Mom "
" Di bawah ada temen Mommy, Mereka pengin ketemu Kamu Sayang."
Nia membenarkan rambut Kanaya .
" Mommy aja ya, Nay malas Mom "
" Sebentar aja Sayang, Mommy gak enak karena bilang kamu ada di rumah."
" Tapi Mom,-
" Dia Sahabat Mommy , Masa kamu tega sudah datang jauh pengin ketemu kamu tapi kamu gak mau ."
Kanaya terdiam.
Sebenarnya dia malas, tapi ucapan Mommy nya benar kasihan mereka sudah datang tapi tidak bisa bertemu Dengan nya.
Kanaya pun akhirnya mengangguk,,
" Ya Udah Yuk "
" Bentar Mom "
Kanaya memakai sandal ya dan berjalan keluar
Dengan langkah gontai Kanaya menuruni anak tangga bersama Nia.
Tak..
Tak..
Tak..
Hingga mereka sampai di ruang tengah, Nia kembali mengandeng Tangan Kanaya menuju ruang tamu dimana semua tamu sudah menunggu di sana.
__ADS_1