You Are My Life Kanaya

You Are My Life Kanaya
Bab 98


__ADS_3

Davin pulang lebih dulu karena dia juga baru saja sampai membuat Revan dan Bela hanya berdua di sana. Sebenarnya Bela sudah tadi nyaman hanya berdua apalagi Revan yang terus menatapnya tajam.


"Sudah semua yang Lo mau tanya, gue harus balik ke Hotel." Ucap Bela akan beranjak namu. Revan menahannya.


"Tunggu, gue masih ada satu pertanyaan buat Lo."


Bela menghela napas nya dan kembali duduk.


"Lo masih menyimpan perasaan sama Davin ?" Ucap Revan membuat Bela menatapnya.


Bela terdiam.


Apa yang harus dia jawab. sementara menang dia belum bisa melupakan Davin sepenuhnya.


"Lo gak usah becanda. Lo juga sudah tau jawabannya."


"Ck,, jadi benar Lo masih menyimpan perasaan Lo ke Davin. Asal Lo tau bagaimana pun Lo berusaha merebut Davin dari Kanaya itu percuma karena Davin sangat mencintai Kanaya."


"Gak perlu Lo Katakan, gue juga sangat paham."


"Jadi gue harap Lo gak usah terpengaruh dengan ucapan Siska soal dia yang akan membantu Lo dapetin Davin. Dan jika gue tau Lo akan merebut Davin dari Kanaya. gue pastikan hidup Lo gak akan tenang." Ucap Revan beranjak pergi meninggalkan Bela yang masih berada di sana.


Bela terdiam.


Perasaannya kembali memburuk. Semesta seakan tidak berpihak kepadanya.


Bela menghela napasnya dan beranjak pergi.


Davin baru saja sampai di Rumahnya.


Tubuhnya sangat lengket karena seharian dia berjalan-jalan bersama Kanaya. Namun rasa lelah semua itu terbayar mengingat bagaimana Kanaya terlihat begitu bahagia saat di Puncak.


Ting.


Davin menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja, dia berjalan mendekat dan mengambilnya.


Keningnya mengerut saat melihat pesan masuk dari Bela.


Mau apa lagi Bela kembali menghubunginya.


Bella.


**Sorry Dave, gue Chat Lo malam-malam dan gue ganggu Istirahat Lo. Gue cuma mau bilang jika sebenarnya gue masih menyimpan perasaan yang sama terhadap Lo. tapi gue sadar semua itu mustahil dan gue tetap akan menyimpan perasaan itu sendiri. **


**Thanks karena selama ini Lo udah baik dan maafin gue. Maaf jika gue lancang bicara seperti ini**.


Davin menggeleng.


Dia tidak paham dengan maksud Bela mengirimkan Chat itu kepadanya. dia sendiri sama sekali tidak berniat untuk membalasnya.


Davin meletakan kembali dan dia berjalan masuk kamar mandi.


Bela terus saja menatap ponselnya. dia berharap jika Davin akan membalas pesannya. Namun tidak sama sekali. Padahal dia tau jik Davin sudah membacanya.

__ADS_1


Entah kenapa, Bela seperti ingin kembali mengutarakan perasaannya walaupun dia sangat tau jika sudah pasti Davin akan menolaknya.


##########


Keesokan Harinya.


Dan hari ini dimana Bela akan memberikan kesaksiannya tentang semua kasus kejahatan yang telah di lakukan oleh keluarga Siska.


"Ikut gue."


Siska menarik tangan Bela menuju tempat sepi.


"Siska Lo kenapa sih" Kesal Bela karena Siska menariknya kuat.


Siska menatap Bela jengah.


"Gue mau Lo batalin kesaksian Lo sekarang."


"Percuma, Lo lupa kalau sekarang gue sudah sampai.*


"Gue bakal bantu Lo untuk keluar dari tempat ini."


Bela tersenyum dan menggeleng.


"Gue sudah janji bakal menjadi saksi dalam kasus ini. dan gue gak bisa pergi gitu aja.*


"Gue sahabat Lo, dan Lo sudah di anggap anak sendiri oleh Ora tua gue."


"Gue tau, tapi semua kejahatan yang di lakukan oleh orang tua Lo harus di pertanggung jawabkan Siska. dan Gue juga berharap Lo bisa berubah. Gue peduli dengan Lo."


"Gue yakin mereka gak bakal penjara in Lo selama Lo berubah Siska. Plis Lo berubah dan Lo bisa ikut gue Ke Amerika. "


Siska menggeleng.


"Percaya sama gue Siska, Semua yang Lo lakuin itu salah. Jangan terus bersikap seperti ini selagi masih ada waktu untuk Lo berubah."


Siska terdiam, namun matanya menatap dimana Kanaya yang datang bersama Davin, Revan juga Dita..


"Lo bilang Sahabat gue kan Bel." Ucap Siska dan Bela mengangguk.


"Lo bakal selalu ada buat gue, temani gue?"


*Pasti Siska, gue bakal selalu ada buat Lo."


Bela memeluk Islam erat.


Dia yakin jika Kali ini Siska akan berubah. namun siapa Sangka jika Siska malah tersenyum dan melepaskan Pelukan Bela.


Dia segera berlari menghampiri Kanaya yang sedang berdiri bahkan dia sudah memegang pisau di tangannya.


"Kanaya awas" Ucap Bela membuat Davin menoleh dan langsung menarik tubuh Kanaya menjauh.


"Uhg"

__ADS_1


Siska melepaskan pisau di tangannya dan menatap Bela yang terbaring dengan darah yang keluar dari perutnya.


"Astaga Bela"


Siska segera di amankan oleh banyak polisi dan segera di bawa masuk.


Sementara Bela yang mendapatkan luka parah di bagian perutnya tersenyum. dia memegang tangan Kanaya dan menatap Davin yang berada di sana.


"Kita ke rumah sakit ya Bel." Ucap Kanaya dengan air mata yang mengalir di wajahnya.


"G-gue gapapa Nay,


Gue minta maaf karena selama ini gue belum bisa melupakan Davin. Gue masih menyukai Davin padahal kalian sudah bertunangan."


Kanaya menggeleng.


"Kita ke rumah sakit ya"


Bela tersenyum dan menggenggam tangan Kanaya.


"Dave, jaga Kanaya baik-baik. Lo pantas mendapatkan Kanaya dan Maafin gue karena masih menyimpan perasaan ini."


Bela memejamkan matanya.


Tubuhnya mulai dingin,,


"Kita Ke rumah Sakit."


Ambulan pun datang dan Bela di angkat ke dalam mobil. Davin memeluk Kanaya yang terus menangis. sama Hal nya dengan Revan yang juga memeluk Dita.


"Bela pasti baik-baik saja Sayang. kamu tenang ya" Ucap Davin berusaha menenangkan Kanaya.


Semua masuk ke dalam mobil dan mengikuti Ambulance yang membawa Bela ke Rumah Sakit.


Davin terus menggenggam tangan Kanaya yang terus menangis.


Sementara Siska terus memberontak, dia terus berteriak saat akan di masukkan ke dalam jeruji besi.


"Kanaya, gue bakal balas semuanya. " Teriak Siska.


Seharusnya orang yang Siska benci adalah Dita karena merebut Revan dari nya, namun Siska pun merasa sangat dendam terhadap Kanaya karena orang tua Kanaya lah yang lebih berpengaruh dalam kasus orang tuanya.


Bahkan orang tua Kanaya juga yang telah membuat keluarganya bangkrut hingga masuk ke dalam penjara.


Selama ini Siska sengaja memprovokasi Bela untuk memisahkan Kanaya dari Davin.


Karena dia mau jika Kanaya merasakan apa yang sekarang dia rasakan. jauh dari orangtuanya yang begitu menyayangi dirinya. bahkan kini Mami nya pun sakit-sakitan karena terus memikirkan keadaannya.


"Lepasin gue, gue gak bersalah.*


"Lepasin gue.*


Siska terus berteriak dan memberontak. namun tetap saja tidak ada satu polisi pun yang menghiraukannya.

__ADS_1


"Sial.,, argh. * Kesal Siska.


__ADS_2