You Are My Life Kanaya

You Are My Life Kanaya
Bab 80


__ADS_3

Lidia masih bersama Kanaya yang tampak tersenyum menatap kekasihnya, Davin sedang bersama salah satu pekerja dan terlihat sedang membicarakan sesuatu.


"Jadi kalian sudah tunangan" Ucap Lidia membuat Kanaya menoleh.


"Ya, Kak Davin melamar ku ke rumah bersama orang tuanya."


Lidia tersenyum,,


"Apa kalian sudah lama dekat"


Kanaya menatap aneh ke arah Lidia, untuk apa dia menanyakan hal seperti ini dan tidak seharusnya bukan.


Dia kembali teringat dengan ucapan Reyhan saat di kampus.


"Cukup lama, memangnya ada apa Kak"


"Tidak, aku lihat Davin begitu mencintai kamu" Ucap Lidia menatap punggung laki-laki yang tidak akan bisa dia dapatkan.


Kanaya tersenyum,,


"Seperti yang Kak Lidia Lihat, aku bahkan sangat bersyukur bisa memilikinya."


Lidia terdiam,,


Ucapan Kanaya sungguh membuatnya sesak.


"Untuk saat ini kamu bisa bicara seperti ini, tapi lihat saat nanti aku akan merebut Davin dari Kamu Kanaya."


Davin yang sudah selesai pun, balik menghampiri Kanaya dan mengusap pucuk rambut panjangnya.


"Maaf sayang" Ucapnya membuat Kanaya tersenyum.


"Ka, Kita pulang yuk" Ajaknya yang langsung memeluk manja lengan Davin.


Davin tersenyum dengan mengusap pipi Kanaya.


"Kita duluan, terima kasih atas waktu Anda Nona Lidia" Ucap Davin.


Lidia mengangguk dan menatap Davin yang langsung mengandeng tangan Kanaya menuju mobilnya.


Tangannya mengepal erat, hatinya hancur dan cemburu melihat kedekatan Davin juga Kanaya.


Dia pun berjalan menuju mobilnya.


______


Sementara di tempat lain, Revan terus mengejar Dita yang masih menjaga jarak dengannya.


"Dita tunggu" Cegah Revan menahan tangan Dita.


"Apa lagi Ka, gue harus pulang."


"Kita perlu bicara"

__ADS_1


Dita menghela napasnya,,


"Bicara apa lagi, tidak ada yang perlu kita bicarakan dan,-


Ucap Dita tertahan saat teringat dengan Jaket yang Revan pinjamkan.


"Sebentar" Lanjutnya membuka pintu mobilnya.


"Terimakasih Jaketnya"


Revan menerimanya,,


Sedangkan Dita masuk ke dalam mobil dan melaju keluar.


Hatinya perih melihat sikap Dita seperti ini, bahkan Dita seakan menjaga jarak dengannya.


Apa yang sudah terjadi Dengan nya.


"Hai Van" Sapa Siska


Revan menggeleng, untuk apa lagi Siska datang menghampiri nya setelah apa yang sudah dia lakukan kemarin.


"Soal kemarin, gue minta maaf ya tidak seharusnya Gue bersikap seperti itu tapi,-


"Harusnya ucapan Maaf Lo itu buat Dita, bukan buat gue." Potong Revan meninggalkan Siska.


Siska mengepalkan tangannya kesal, dulu Kanaya yang menghalanginya dan sekarang Dita.


Tapi bagaimana pun dia tetap akan terus mengejar Revan hingga menjadi miliknya.


Dita melajukan mobilnya, rasanya sakit hatinya mengingat apa yang sudah dia lakukan terhadap Revan, padahal selama ini mereka tidak dekat namun entah kenapa sikap dan ucapannya saat ini membuat hatinya sakit.


Dita menyeka air matanya, dia menatap sebuah mobil Revan yang ternyata mengikuti nya.


"Mau apa lagi sih" Kesal Dita yang malah menambah kecepatan nya.


Revan menggeleng dengan sikap Dita, melihat Dita seperti ini dia tidak akan membiarkannya dulu.


Dia tidak mau jika malah nantinya terjadi sesuatu dengan Dita jika dia tetap mengikuti nya.


"Mungkin butuh waktu untuknya dulu, tapi gue gak akan tinggal diam dengan sikapnya seperti ini." Gumamnya dengan hanya menatapnya mobil Dita yang sudah menjauh.


Dita menepikan mobilnya,


Tangisannya semakin menjadi, rasanya sangat sakit dan pedih hatinya.


"Kenapa gue jadi gini, kenapa gue malah nangis coba memangnya siapa gue." Ucap Dita menyeka air matanya.


Dia pun tersenyum getir,,


Aneh rasanya dengan tingkahnya terhadap Revan.


Derrt,,

__ADS_1


Derrt,,


Ponselnya berdering, Dita mengambil nya panggilan dari Kanaya membuat nya segera menggeser tombol hijau.


"Halo Nay" Ucapnya.


"Dita,, Kamu dimana , kamu baik-baik saja kan"


"Gue di jalan Nay, gue baik-baik aja"


" Syukurlah,,"


"Wait, kenapa Lo tanya itu"


"Kak Revan bilang Nomor kamu susah di hubungi"


"Gapapa Kok, tadi baterai gue habis tadi, Nay sorry gue lagi di jalan nanti gue telpon balik ya"


"Oke kamu hati-hati"


Dita menghela napasnya, dia menyimpan Ponselnya dan melajukan mobilnya.


Kanaya baru saja sampai di rumahnya bersama Davin, mereka berjalan turun dan masuk ke dalam rumahnya.


"Ada masalah apa antara Dita dan Kak Revan, kenapa Dita seakan menghindari Kak Revan"


"Sayang Hei, Dengar apapun masalah mereka kita jangan ikut campur ya, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka."


Kanaya mengangguk,,


"Sekarang masuk dan istirahat, jangan berpikir macam-macam kita tau dan sudah sangat mengenal mereka."


"Iya, Kakak juga hati-hati di jalan langsung pulang"


Davin tersenyum dan menangkup Wajak Kanaya.


"Memangnya aku mau kemana hmm"


Kanaya terkikik..


"Aku pulang, sama buat Daddy dan Mommy"


"Eum"


Davin mengecup dalam kening Kanaya, setiap hatinya rasa sayang dan cintanya semakin besar terhadap Kanaya.


"Bye Kak, hati-hati"


Davin mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya.


Kanaya masuk setelah Mobil Davin melaju pergi, kedua orangtuanya sedang pergi dan hanya ada Kanaya di rumah bersama asisten rumahnya.


Kanaya berjalan masuk ke kamarnya,namun Langkahnya berhenti saat mendengar suara mobil di luar.

__ADS_1


"Loh, kak Davin kenapa kembali" Ucap Kanaya berbalik menuju Pintu depan.


__ADS_2