
Keesokan Harinya,,
Kampus kembali di hebohkan dengan Kedatangan Robi beserta Nia bersama Kanaya yang terlihat sudah sehat namun wajah nya masih sedikit pucat.
Apalagi kasus yang di alami Kanaya sendiri belum jelas siapa pelakunya hingga saat ini.
Namun tidak hanya mereka, Revan juga Davin pun ikut serta dengan mereka.
Mereka datang untuk mengurus kembali kasus Kanaya.
" Kanaya " Teriak Dita yang langsung berlari menghampiri Sahabat nya.
Kanaya tersenyum dan segera memeluk Dita, selama ini hanya Dita teman yang dekat Dengan nya selama di Kampus.
" Gimana keadaan Lo, Lo baik baik saja Kan "
Terlihat jelas bagaimana Dita begitu khawatir dengan Kanaya.
" Aku gapapa Kok, Maaf ya bikin kamu khawatir"
Dita kembali memeluk sahabatnya,,
" Oya Dad, Mom,, kenalin ini Sahabat Nay "
Dita menatap dua orang yang sangat terkenal dalam dunia bisnis siapa lagi jika bukan Robi dan Nia.
" H_ halo Om, Tante " Sapa Dita mencium punggung tangan keduanya.
" Halo Dita,, salam kenal Sayang "
Dita tersenyum,,
Lagi dan Lagi,,
Dita kagum dengan Keluarga Kanaya yang sama sekali tidak sombong dengan kekayaan yang mereka miliki bahkan Kanaya sendiri dia gadis yang sangat sederhana.
" Ayo Sayang, kita ke ruangan Pak Jaka Dulu .. "
" Iya Mom "
" Sebentar ya Dit "
Dita mengangguk dan menatap mereka yang berjalan menuju ruang Rektor di ikuti Revan juga Davin.
Sementara Bela,,
Dia sudah sampai di parkiran, namun dia belum juga turun dari mobil.
pikirannya masih tentang Davin semalam, dan dia tidak mau jika semua ketahuan dirinya lah yang sudah mencelakai Kanaya.
" Siska " Ucap Bela saat melihat Mobil Siska terparkir di sebelah nya.
Bela segera keluar dan menghampiri Siska.
" Siska ,, Lo kemana aja sih dari kemarin gue cari Lo, telpon Lo tapi gak aktif tuh nomor."
Siska menautkan kedua alisnya,,
" Berisik banget sih,, Sorry sorry kemarin Handphone gue ketinggalan di rumah, lagian Lo tau kemarin gue nganterin Nyokap."
Bela baru teringat jika Siska memang ada urusan mengantar Orang Tuanya.
" Bel, Lo kenapa sih "
Bela menatap sekeliling dan langsung menarik Siska menjauh.
" Bela,, Kenapa sih "
Bela melepaskan genggaman tangan nya menghela napas nya.
" Davin sudah tau kalo kita yang mencelakai Kanaya."
Deg..
" Apa,, "
" Terus kita harus gimana Sis, Gue gak mau di keluarin dari Kampus.. "
__ADS_1
Siska terdiam,,
Namun terdengar beberapa mahasiswi yang berjalan dan bercerita jika Kanaya datang bersama kedua orang tuanya.
" Gimana ini Siska,, gue beneran takut."
" Bel,, Siska,, Kenapa kalian di sana ." Ucap salah seorang Dosen yang kebetulan berjalan.
" I- Iya Pa " Ucap Bela dan Siska .
Mereka pun berjalan masuk,,
benar saja semua mahasiswa/wi membicarakan Kanaya yang datang bersama orang tuanya bahkan Revan juga Davin ikut bersama mereka.
Di ruang Pak Jaya semua terlihat serius bahkan Vidio dimana kejadian itu pun sedang mereka putar.
" Sayang,, Kamu ingat ingat dulu siapa temen kamu itu " Ucap Robi menggenggam tangan Putri nya.
" Naya Lupa Daddy "
" De, Masa Kamu Lupa.. Ingat ingat lagi ya " Tambah Revan.
Kanaya menatap semua nya,,
Apa dia akan bicara siapa mereka, tapi dia khawatir jika Bela ataupun Siska semakin membully nya.
" Dad, Van,, Jangan paksa Naya dulu ya, Naya baru Sembuh"
Davin menatap Kanaya yang masih diam,,
" Em,, Sebenarnya yang melakukan semua itu,- Ucap Kanaya terhenti.
" Siapa Sayang "
" Apa Bela dan Siska " Potong Davin membuat semua menatapnya.
" Maksud Lo Vin, "
" Sayang, bener apa yang di katakan Davin "
Kanaya mengangguk,,
" Kak Revan "
Kanaya mengikuti Revan,,
" Permisi Om, Tante "
Davin pun mengikuti mereka,,
* Apa mereka kuliah di sini juga " Tegal Robi membuat Jaya mengangguk.
Brak..
" Apa ini yang kalian ajarkan selama ini, Mendidik mahasiswa/wi hingga mereka bisa membully temannya."
" Ma- maaf Tuan tapi Kami _-
Robi mengangkat tangan nya,,
" Saya mau mereka menerima ganjaran nya."
Kanaya terus mengejar Revan yang mencari Bela juga Siska.
" Kak Revan,, Tunggu Ka "
Revan berhenti dan menatap Kanaya yang terus mengejarnya.
" Ka ,, Udah ya Naya udah maafin mereka "
" De, Mereka harus menerima balasan nya. bagaimana jika saat itu,+
Ucapan Revan terhenti,,
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika saat itu Davin tidak menolong nya.
" Van, Lo sabar Kita bicarakan semua ini " Ucap Davin.
__ADS_1
Namun Revan melihat Bela dan Siska yang berjalan masuk.
" Bela, Siska " Teriaknya membuat semua menatap ke arahnya.
" Siska, Mereka seperti nya sudah tau "
Revan berjalan menghampiri nya membuat keduanya akan berlari namun Tangan kekar Revan segera menarik nya kembali.
" Lepas Van, sakit " Ucap Bela juga Siska.
" Kak, lepasin mereka " Ucap Kanaya membuat Revan melepas nya kasar.
" Jadi Lo berdua yang sudah mencelakai Kanaya Hah, Gue gak nyangka kalian bisa melakukan semua ini."
Siska menatap tajam Kanaya,,
" Van,, Plis dengerin gue dulu.
Semua ini rencananya Bela, Dia selalu bilang jika Kanaya sudah merebut Lo, Gara gara Kanaya Lo jadi jauh dari gue " Ucap Siska memojokan Bela.
" Siska,, "
" Kenapa Be, bukannya Lo yang merencanakan semuanya. Lo tau gue Suka Revan dan Ini kesempatan buat Lo yang sebenarnya membenci Kanaya, setelah kedatangan Kanaya semua cowok terpesona termasuk Davin . "
Bela menggeleng,,
" Vin,, semua ini salah bukan gue Tapi,-
" Diam Kalian " Bentak Revan membuat semua terdiam.
Tidak lama Robi datang bersama Nia.
" Jadi kalian yang mencelakai Anak Saya "
Bela dan Siska menoleh,,
" Dad,, Mom,, "
Nia tersenyum dan mengusap wajah Canti Kanaya.
" Om ,, Maafin Saya.. semua ini karena Bela yang meminta aku buat bantu mencelakai Kanaya." Ucap Siska
Bella menggeleng,,
" Kanaya, gue minta Maaf gue benar benar menyesal " Siska berlutut dan menggenggam tangan Kanaya.
" Ka, udah Kak jangan seperti ini "
Robi menggeleng,,
" Kalian harus menerima balasan dari apa yang kalian Lakukan, Kalian Di keluarkan dari Kampus dan Di Pastika tidak ada lagi kampus yang mau menerima kalian." Ucap Tegas Jaya .
" Nay,, Kanaya " Ucap Bela namun Nia mengandeng Tangan Kanaya pergi meninggalkan mereka bersama Robi.
" Vin, Semua ini salah paham bukan gue yang melakukan semua ini "
" Cukup Bel, Gue gak nyangka Lo bisa melakukan semua ini. "
" Siska,, Lo ,-
" Van, tolongin gue "
Revan mengangkat kedua tangan nya dan pergi meninggalkan Mereka.
" Vin,, Dengerin gue "
" Gak ada yang perlu gue dengerin "
" Semua ini Karena gue suka sama Lo Vin, Gue pengin Lo jauhin Kanaya ."
Davin menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya menatap Bela yang masih terus menatap nya dengan air matanya..
Davin menggeleng dan kembali melangkah pergi,,
" Vin,, "
Bela terduduk lemas, bagaimana dengan nasib nya bagaimana dengan orang tuanya.
__ADS_1
Sementara Siska tersenyum dan mengusap air matanya..