
Siska sudah berada di sebuah Cafe dimana sebelumnya Revan memintanya untuk bertemu. Tanpa menunggu Lama Siska pun mengiyakan.
Penampilan baru dengan rambut yang sengaja dia urai dengan poni yang melekat di wajahnya. Siska sengaja mengganti penampilannya agar Revan terpesona dengannya.
"Sorry gue telat"
Siska menoleh, namun senyumannya pudar saat melihat Revan datang bersama Dita dan bukan hanya mereka namun terlihat juga Kanaya juga Davin bersama mereka.
"Kalian, gue kira Lo cuma ajak gue makan siang berdua."
Revan mengajak duduk Dita begitu dengan Davin dan Kanaya.
"Jadi maksud kalian datang buat apa, Gue masih harus menemani Nyokap gue ke salon." Kesal Siska karena Revan tidak datang sendiri bahkan terlihat begitu perhatian dengan Dita. Wanita yang sudah merebut laki-laki yang begitu dia cintai dari dulu.
Revan menghela napasnya, dia sudah tidak sabar dengan perempuan seperti Siska yang sangat licik.
"Gue udah tau semua, soal Lo yang minta Bokap Lo untuk membuat Perusahaan keluarga Pacar gue bangkrut."
Deg.!
Siska kaget, bagaimana bisa Revan tau tentang semua itu. Padahal selama ini dia sudah meminta Orang tuanya untuk menyembunyikannya dengan sangat rapat.
"Maksud Lo apa sih, gue gak tau."
Dita tersenyum getir, rasanya dia sangat membenci Siska.
"Gue gak pernah punya masalah sama Lo, kenapa Lo hancurin perusahaan Bokap gue. Lo tau Perusahaan itu mereka rintis dari awal dan Lo dengan enaknya buat bangkrut, apa Lo tau gimana keadaan Bokap gue." Kali ini Dita bicara. Dia sudah lelah dengan semua yang terjadi.
"Sayang hei" Ucap Revan mengusap wajah Dita yang mulai menangis.
Siska menggeleng.
sudah sangat muak melihat tingkah mereka.
"Bagus kalau Lo udah tau." Ucap Siska menatap tajam Dita.
"Apa salah gue, kenapa Lo lakuin semua itu sama gue."
"Karena Lo rebut Revan dari gue."
"Siska..! Jangan pernah bentak juga salahi Dita." Kesal Revan yang tidak terima Siska membentak Dita.
"Semua itu memang salah Dia, Kalau saja gue yang jadi pacar Lo gue semua ini gak akan pernah terjadi."
Brak..
Revan sudah tidak bisa sabar lagi, apalagi melihat Dita yang menangis di sampingnya.
Kanaya menenangkan Dita, dia memeluk sahabatnya.
"Gue gak akan pernah biarin Lo sakit Dita, dan Lo bakal lihat apa yang bakal terjadi dengan Lo juga keluarga Lo." Ancam Revan.
"Kenapa sih Lo gak pernah berubah."
Siska menoleh ke arah sumber suara, dilihat nya Bela berjalan mendekat.
Beberapa hari ini memang antara Revan, Davin juga Bela saling komunikasi untuk membantu mencari tahu kejahatan Siska juga Keluarganya.
"Siska Lo,-
__ADS_1
"Gue kira Lo bisa berubah Siska, seharusnya apa yang terjadi dengan gue bisa Lo jadiin pengalaman. Lo gak tau gimana rasanya di kucilkan bahkan selama di Amerika pun banyak yang bully gue. semua itu Karma yang harus gue dapatkan."
Siska tersenyum,,
"Gue gak peduli, Kalian tau siapa Bokap gue bukan. Mereka sangat menyayangi gue dan pastinya tidak akan pernah biarin terjadi sesuatu dengan gue."
"Tapi Lo lupa siapa Keluarga Kanaya juga Revan" Potong Bela membuat Siska menatap Kanaya.
Ya dia melupakan siapa Kanaya.
Orang tuanya sangat berpengaruh dalam Dunia Bisnis baik dalam negeri ataupun Luar Negeri.
"Lo apa sih Bel, Seharusnya Lo bantu gue bukan malah sudutin gue."
"Cukup dulu gue merasa bodoh karena Lo manfaatin, tapi sekarang gue sadar."
"Lo bodoh Bela, gue tau Lo masih Cinta Davin kan. seharusnya Lo perjuangkan cinta Lo rebut Davin dari Kanaya."
Kanaya menggeleng.
Plak.
Siska mengusap wajahnya, tamparan Kanaya yang begitu perih di pipinya.
"Lo,-
"Jangan pernah Lo sentuh Kanaya." Ucap Davin menahan tangan Siska dan menghempaskannya kasar.
Siska meringis, bukan hanya pipinya yang perih namun tangannya pun sakit karena Davin terlalu kuat.
"Lo bakal tau akibatnya karena sudah berani ganggu Dita." Ucap Revan mengandeng tangan Dita pergi.
Kanaya menatap Siska, dan mengangguk saat Davin mengajaknya keluar.
_______
Kanaya tersenyum dan langsung memeluk Bela, dia tidak tau jika Bela akan datang juga.
"Kamu apa kabar?" Ucap Kanaya saat melepaskan pelukannya.
"Gue baru sampai, Revan minta gue buat bantu ungkap kejahatan Siska dan keluarganya."
Kanaya mengangguk.
"Thanks Bel, Lo mau jadi saksi nanti kan?" Ucap Revan dan Bela mengangguk.
"Lo tenang aja, gue lama kok di Jakarta."
Bela menatap Davin, rasa sayang dan cintanya memang masih ada hingga saat ini. Apalagi dia tau jika sekarang Davin sudah mulai terjun di Perusahaan.
"Hai Dave, gimana kabar Lo."
Davin tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Baik."
Bela mengangguk.
Davin memang tidak pernah berubah, dari dulu dia akan selalu menjaga perasaan seseorang.
__ADS_1
"Gimana kalau kita makan dulu, Lo juga kan baru datang pasti lapar kan."
"Em boleh, gue juga lapar banget." Ucap Bela.
Semua pun masuk ke dalam mobil.
Bela bersama Davin dan Kanaya, mereka menuju Cafe lain.
********
Siska sampai di rumahnya dan menatap kaget, saat banyak polisi di sana.
"Papi, Mami" Ucap Siska berlari masuk.
Terlihat Polisi yang sudah membawa kedua orangtuanya. Siska berlari menghampiri.
"Papi, Papi mau kemana? Pa jangan bawa Papi saya" Ucap Siska dengan tangisannya.
"Sayang"
Siska menggeleng dan memeluk orang tuanya.
"Jangan tinggalin Siska Pi, Mi"
Mereka menangis dan saling memeluk.
"Maaf Nona, Mereka harus segera kamu bawa."
"Engga, mereka gak salah. mereka gak boleh di bawa."
"Jaga diri baik-baik Sayang."
Siska menggeleng.
"Mami"
Siska menangis menatap kepergian kedua orangtuanya, mereka menatap Siska dari dalam mobil polisi.
Revan sudah melaporkan bagaimana kejahatan Keluarga Siska selama ini. Bahkan ternyata bukan hanya keluarga Dita saja yang menjadi korban namun sudah banyak Perusahaan lain yang ternyata gulung tikar karena ulah mereka.
Siska menangis histeris, dia terus memanggil bahkan mengejar mobil polisi yang membawa orangtuanya.
"Siska, Lo yang sabar" Ucap Bela menghampiri Siska yang terduduk menatap kepergian kedua orangtuanya.
Siska menoleh.
"Semua ini karena Lo, Gue benci sama Lo Bel."
Siska mendorong tubuh Bela hingga terjatuh, dia pun akan menampar Bela namun Davin langsung mencegahnya.
"Harusnya Lo sadar, Lo yang salah dan bukan orang lain." Ucap Davin menghempaskan tangan Siska.
Kanaya membantu Bela berdiri.
Bela khawatir dengan Siska, bagaimana pun mereka sahabat dari dulu. Walaupun sifat Siska yang sangat buruk namun Bela tetap saja menyayangi Siska.
"Gue bakal balas semua ini, Kalian tunggu dan terutama Lo Dita. Gue gak akan pernah biarkan Lo hidup tenang dan bahagia." Ucap Siska masuk ke dalam rumahnya.
Revan memeluk Dita yang tampak gemetar.
__ADS_1
"Ada aku di sini Sayang." Lirih Revan memeluk Dita.
Dita mengangguk dan semakin erat memeluk kekasihnya.