You Are My Life Kanaya

You Are My Life Kanaya
Bab 86


__ADS_3

Dita melepaskan genggaman tangan Revan, entah apa yang dia rasakan apa benar dia tidak memiliki perasaan terhadap Revan atau bahkan sebaliknya, dia pun memiliki perasaan dengannya.


"Jawab Dit,"


Dita terdiam,,


Kedua tangannya meremas piyama, apa yang harus dia Jawab.


"Sekarang gue tau, Jadi Lo mau kita seperti dulu, sepeda tidak saling mengenal. Gue bakal lakuin semua itu karena Permintaan Lo." Ucap Revan beranjak.


Revan kembali menatap Dita yang masih diam, bahkan sama sekali tidak menatapnya.


Revan kembali melangkah, ternyata memang benar Dita tidak memiliki perasaan terhadapnya dan mulai saat ini dia harus mengubur perasaannya.


"Kak Revan" Ucap Dita berdiri


Revan berhenti dan berbalik menatap Dita yang berlari dan langsung memeluknya erat.


Menumpahkan semua kesedihannya dua hari ini, jadi memang benar jika dia pun mencintai Revan.


"Gue juga cinta sama Lo Kak"Ucap Dita dalam pelukan Revan.


Revan terdiam,,


Dia masih mencerna ucapan Dita, namun kemudian senyumannya terukir.


Dia pun membalas pelukannya.


Mereka saling berpelukan erat, Dita merasa lebih lega setelah tau tentang perasaannya.


Revan menatap Dita, mengusap wajah cantiknya dengan status mereka kini yang mulai pacaran.


"Thanks Dit, gue sayang sama Lo" Ucap Revan dan Dita mengangguk.


"Ta-tapi Siska,-


"Gue gak akan pernah biarin Siska ganggu Lo."


Dita mengangguk dan kembali memeluk Revan.


**********


Sedangkan Kanaya merasa bosan karena hanya sendiri, Dita yang ternyata sakit pun membuatnya berjalan sendiri.


"De" Ucap Revan membuat Kanaya menoleh.

__ADS_1


"Kak Revan"


Revan tersenyum menghampiri Kanaya dengan wajah yang berubah bahkan terus tersenyum.


"Em aku tau kalian udah baikan ya" Goda Kanaya dan Revan tertawaan.


"Sok tau"


"Tapi Kak, Dita gapapa kan tadi dia cuma kirim pesan kalau sakit, Kakak ketemu Dita kan."


"Dita gapapa De, dia cuma kelelahan."


Kanaya mengangguk,,


"Oya De, sebenarnya ada yang mau Kakak cerita sama kamu."


"Soal Dita, Jangan bilang kalau kalian jadian."


Revan mengacak rambut Kanaya dan mengangguk,,


"Serius Kak,"


"Iya De, gapapa kan."


" Satu syarat, Jangan pernah membuat Dita sedih karena Dita sahabat aku "


Kanaya menggeleng dan mereka berjalan kembali.


"Apa jadi Revan dan Dita pacaran, engga engga gue gak akan pernah biarin semua itu.


Gue gak mau mereka dekat, Revan milik gue dan tidak ada satupun yang bisa merebutnya.


Gue bakal buat perhitungan dengan Dita."


Siska mengepalkan tangannya,,


Dia mendengar semua obrolan Revan dan Kanaya.


Davin menatap Kanaya yang datang bersama Revan, berbeda saat dulu dia belum tau siapa Revan.


Davin akan merasa sangat cemburu, namun sekarang Kanaya miliknya dan tidak akan ada yang bisa mendapatkannya.


"Hai Kak" Sapa Kanaya duduk di samping Davin.


Di sana bukan hanya Davin, tapi juga beberapa temannya.

__ADS_1


"Loh dimana Dita" Ucap Galang


"Dita sakit Kak."


"Sakit,, Sakit apa dia "


Revan menatap Galang dengan tatapan berbeda, Kanaya hanya menggeleng dia tau jika Revan cemburu dengan Galang.


"Kak Galang bukan tipe Dita, tenang aja Kan" Bisik Kanaya membuat Revan menatapnya.


"Kakak jadi ke Kantor siang ini" Ucap Kanaya menatap Davin yang mengangguk.


"Kenapa, kamu mau ikut "


"Ha, engga lah kak nanti ganggu lagi."


Davin tersenyum dan menggeleng,,


"Aku malah semangat kalau kamu ikut,"


Kanaya tersenyum dan kembali minum, Davin lebih dulu memesan minuman untuk Kanaya.


Berbeda dengan Revan yang Kini sibuk dengan ponselnya, dia sesekali tersenyum.


Dita yang berada di rumah pun tersenyum membaca pesan Revan, bahkan Tubuhnya sudah lebih segar dan tidak lagi pusing.


"Itu bukannya mobil Ibu, tumben Ibu sudah pulang jam segini" Gumam Dita saat mendengar suara mobil.


Ternyata memang benar,


Kedua orang tua Dita pulang, namun Dita menghentikan langkahnya saat mendengar mereka ribut dengan membicarakan Perusahaan mereka.


"Terus bagaimana Yah, Kita sudah tidak bisa mempekerjakan mereka. Kita tidak ada uang untuk membayar mereka."


"Cara satu-satunya kita memang harus mengurangi Karyawan Bu, perusahaan kita akan gulung tikar dan Ayah tidak bisa berbuat apa-apa lagi."


Dita menutup mulutnya kaget, Perusahaan yang sudah lama di rintis keluarganya kini gulung tikar


"Maafin Ayah Bun, Karena Ayah tidak bisa membahagiakan kalian."


Dita menetes air Matanya,,


Dia sangat tau bagaimana perasaan mereka, Perusahaan yang mereka rintis dari bawah kini harus bangkrut, dan mereka tidak lagi memiliki uang.


Tubuh Dita gemetar, tubuhnya merosot duduk.

__ADS_1


Baru saja dia merasakan kebahagiaan karena Revan, namun dia harus tau tentang kabar Keluarganya.


Dita tidak bisa berbuat apapun saat ini, dia hanya bisa menangis dengan memeluk kedua kakinya.


__ADS_2