
Revan, Davin juga Kanaya sampai di Kampus.
Beberapa Mahasiswi menatap mereka terutama menatap Kanaya yang sangat beruntung memiliki Kakak Laki-laki yang tampan juga sangat melindungi nya, memiliki pacar Idola Kampus yang begitu menyayangi nya bahkan dia dilahirkan di keluarga yang hebat juga harmonis.
Sungguh menjadi impian banyak orang, ingin rasanya mereka berada di posisi Kanaya saat ini.
" Jadi, Lo masih cuti Dave " Ucap Revan
" Gue masih harus gantiin Bokap di Perusahaan. "
Revan mengangguk.
" Kak Davin langsung ke kantor."
" Iya Sayang, Gapapa kan. "
Kanaya mengangguk..
" Ehem,, Ehem,, Masih ada gue kali di sini " Ucap Revan membuat Kanaya tersenyum.
" Gue titip Calon istri gue Van " Ucap Davin membuat wajah Kanaya merona.
" Dia Ade gue juga kali."
Davin terkekeh..
" Aku ke kantor dulu, belajar yang bener ya."
" Eum,, Kakak hati-hati, kabari kalo sudah sampai."
Davin mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya.
" Ayo Kak " Ajak Kanaya memeluk lengan Revan.
Revan mengacak gemas pucuk rambut Kanaya dan mereka berjalan masuk.
Dita sudah berada di dalam kelasnya,
Dia sedang bermain ponselnya dan tidak menyadari kedatangan Kanaya.
" Astaga Kanaya " Ucap Dita saat Kanaya sudah duduk di samping nya.
Kanaya menautkan kedua alisnya.
" Wait deh, kayaknya lagi seneng banget nih..
Kepo dong gue kenapa " Ucap Dita dengan menarik turunkan alisnya.
" Apa sih , biasa aja kali."
Dita menatap Kanaya penuh selidik, dan Matanya menatap jari Kanaya dengan sebuah cincin cantik.
" Tunggu,, " Ucapnya menarik tangan Kanaya dan melihat nya.
" Jangan bilang Lo di lamar Kak Davin."
Kanaya tersenyum dan mengangguk,,
" What.. "
" Sst.. jangan keras keras nanti semua tau."
" Mereka juga udah tau kali, tapi selamat ya Bestie gue seneng dengernya."
Dita memeluk Kanaya.
__ADS_1
Persahabatan mereka tidak bisa di ragukan, walaupun mereka baru saling mengenal saat Kanaya pindah di kampus itu namun mereka sangat dekat.
Revan masuk ke dalam kelasnya,,
Dia langsung duduk di kursi saat melihat Siska yang tampak tersenyum melihat nya.
" Revan, gue seneng banget Lo udah aktif di kampus lagi." Ucapnya langsung menghampiri Revan.
Siska tidak di keluarkan dari Kampus karena masalah Kanaya dulu, karena dia selalu memutar faktanya jika Bela lah yang menjadi dalang atas semuanya.
" Lo liat gue di kampus kan." Ketua Revan.
Dia masih malas dengan Siska karena sudah membuat Kanaya celaka.
" Lo masih marah sama gue, Gue udah minta maaf "
Revan menatap malas Siska.
" Harusnya Lo bisa mikir apa yang udah Lo lakuin." Ucap Revan pergi keluar.
Siska menghentakkan kakinya kesal, sampai kapan Revan bisa melihat dirinya.
******
Davin baru saja sampai di Perusahaan dan langsung berjalan masuk.
Dalam beberapa hari ke depan dia masih harus stay di Perusahaan karena Orang tuanya sedang ke Luar Negeri.
" Selamat Pagi Mas Davin." Ucap Resepsionis.
" Pagi."
" Maaf Mas, Bu Lidia sudah menunggu di ruangan."
Davin mengerutkan kening nya,
" Lidia "
" Benar Mas, Bu Lidia sudah dari tadi menunggu."
" Terima kasih."
Davin berjalan masuk,,
Beberapa Karyawan tampak menunduk saat Davin berjalan masuk.
Dengan menuju Lift khusus Davin masuk, dia langsung menekan tombol menuju ruangannya.
Ting..
Pintu Lift terbuka, Davin segera menuju ruangannya.
Ceklek,,
Pintu terbuka, Lidia yang berada di dalam pun langsung menoleh dan tersenyum.
" Pagi Dave " Ucap Lidia .
Davin menghela napasnya,,
" Seperti nya kita tidak ada janji, untuk Apa Anda kembali datang. " Ucap Davin duduk di kursi kebesaran nya.
Lidia berjalan menghampiri dan menatap Davin yang langsung membuka Laptopnya.
" Semakin hari kamu bahkan semakin tampan Dave, aku sudah tidak sabar berada di sisi kamu." Batin Lidia menatap Davin.
__ADS_1
" Kita kerja sama dan sudah semestinya kita sering bertemu bukan."
" Sekarang katakan untuk apa Anda datang."
Lidia mengangguk dan mengambil ponselnya,,
" Sebenarnya bukan soal kerjasama, tapi ada yang harus kamu lihat." Ucapnya memberikan ponselnya.
Davin menautkan kedua alisnya dan menatap ponsel Lidia.
" Apa itu."
" Kamu lihat saja sendiri."
Davin menerima nya.
Foto-foto dimana Kanaya tampak tersenyum bersama Revan, mereka saling bercanda, Kanaya yang memeluk lengan Revan, mereka tampak begitu dekat apalagi Revan yang begitu perhatian dengan Kanaya.
Lidia tersenyum menatap Davin yang terus menggeser foto-foto nya, dia tau Davin pasti sangat marah dan kecewa kepada Kanaya.
" Aku Lihat mereka saat di Mall kemarin, padahal Kamu sendiri sibuk di perusahaan tapi Kanaya tampak sangat bahagia." Ucap Lidia sengaja membuat Davin semakin marah.
Davin memberikan ponselnya..
" Tapi aku juga tidak menyangka Kanaya bisa berbuat seperti itu." Lanjut nya.
" Apa Anda tau siapa laki-laki yang bersama Kanaya" Ucap Davin semakin membuat Lidia tersenyum penuh kemenangan.
" Aku tidak tau, tapi mereka juga tampak masuk restoran dan mereka sangat dekat."
Davin mengangguk.
" Dia adalah Kakak Laki-laki Kanaya."
Deg.
Lidia kaget tidak percaya.
" Ma- Maksud kamu Dave."
Davin tersenyum dan bersandar di kursinya.
" Dia adalah Revandra , dan mereka saudara sepupu."
" Ja- jadi Laki-laki itu,-
" Saya peringatkan,, Jangan pernah bicara buruk tentang calon istri Saya."
Lidia semakin dibuat kaget dengan ucapan Davin,,
" Calon istri " Ucapnya dan kini matanya menatap cincin yang melingkar di Jari Davin.
Sebelum nya Davin bahkan tidak menggunakan cincin pada jarinya.
" Dan satu Hal lagi, Saya sangat percaya kepada Kanaya."
Lidia meremas tangannya.
dadanya terasa sangat sesak, bahkan mereka akan segera menikah.
" Jika tidak ada yang lain, silahkan keluar." Ucap Davin kembali menatap Laptopnya.
Lidia mengambil ponselnya dan langsung keluar.
" Aargh.. Sialan.
__ADS_1
Tapi aku tidak akan biarkan pernikahan itu terjadi."