
Kanaya masih terus ingat dengan semua ucapan Reyhan, bahkan bagaimana Lidia dalam foto itu.
Lidia berada di sebuah Klub malam dengan keadaan mabuk berat, rekaman dengan suara yang terus memanggil Davin membuat hatinya terasa sesak.
Apa Lidia memang sangat menyukai Davin, tapi mereka rekan bisnis.
"Sayang hei, Ada apa hm" Ucap Davin menatap wajah Kanaya yang hanya terus diam.
Kanaya tersenyum dan menggeleng, namun terlihat jelas jika dia sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu sama sekali tidak bisa bohong, kenapa ?" Lanjut Davin yang sangat tau bagaimana sifat kekasihnya itu.
Kanaya menghela napasnya dan menatap Wajah Davin yang berada di depannya.
"Apa kerjasama Kakak dengan Lidia masih berlanjut."
Davin menautkan alisnya heran, kenapa Kanaya tiba-tiba bisa bertanya seperti ini.
"Masih sayang, memangnya kenapa."
Kanaya tersenyum dan menggeleng.
Dia tidak mungkin menceritakan semuanya kepada Davin.
"Kak,-
Kanaya tidak melanjutkan kembali ucapannya namun dia malah langsung memeluk Davin, dia takut jika nantinya Davin akan pergi meninggalkan dirinya.
Dia takut jika nantinya Lidia terus berusaha untuk mendekati Davin.
Davin semakin dibuat heran dengan tingkah Kanaya, namun dia tidak mau memaksa kekasihnya itu menceritakan semuanya dulu, dia mau memberikan waktu untuk Kanaya.
_____
Sedangkan Lidia sudah berganti pakaiannya, dia menuju Perusahaan Nugraha dan akan menemui Davin.
Dia sangat ingin terus bertemu dengan Davin, walaupun dia sangat tau bagaimana nantinya sikap Davin kepadanya.
"Permisi, Apa Davin ada di ruangan nya." Ucap Lidia melepas kacamata hitamnya.
"Maaf Mas Davin tidak di ruangannya Bu."
Lidia mengernyit,
Bagaimana bisa Davin tidak ada di kantor sedangkan ini masih pagi dan bukannya mereka akan bertemu untuk kembali meninjau lokasi pembangunan.
"Memangnya kenapa Davin tidak ke Kantor, atau dia datang telat."
"Maaf Bu, Saya kurang tahu tapi memang Mas Davin belum datang dari pagi."
Lidia membuka tasnya dan mengambil ponselnya, dia akan menghubungi Davin untuk menanyakan dimana Dirinya.
__ADS_1
Tut,,
Tut,,
Tut,,
Tidak ada jawaban, namun Lidia tidak menyerah dan kembali mencoba menghubungi nya lagi hingga akhirnya Davin menjawab Telepon nya.
"Halo"
"Dave, kamu lagi dimana kenapa tidak ada di kantor"
"Ada apa"
"Bukannya kita akan menuju lokasi pembangunan hari ini, terus kamu kenapa tidak ada di kantor."
"Saya akan datang langsung ke lokasi, kita bertemu di sana siang ini."
"Baiklah,, Aku akan menunggu di sana."
Lidia menyimpan Ponselnya dan berjalan keluar, senang rasanya jika akan bertemu dengan Davin.
Lidia segera melajukan mobilnya menuju lokasi, dia akan tetap menunggu Davin di sana.
Davin menatap Kanaya setelah menjawab telepon Lidia,,
"Kakak ada janji, Gapapa aku bisa pulang bareng Kak Revan." Ucap Kanaya namun Davin tersenyum dan menggenggam tangan Kanaya.
"Sesibuk apapun aku, aku tetap akan menomor satukan kamu Sayang, kamu segalanya untuk aku."
dia tidak menyangka jika Davin akan bicara seperti itu.
"Apa masih ada kelas"
"Em, kayaknya udah kenapa Kak"
"Temani aku" Ajak Davin mengandeng tangan Kanaya
"Tapi Kemana Kak"
Davin tersenyum dan membawa Kanaya menuju mobilnya, dia akan membawa Kanaya bertemu dengan Lidia.
******
Lidia yang sudah sampai di Lokasi pun berjalan turun, banyak pekerja di sana, mereka mengangguk saat Lidia berjalan melewati mereka.
Pembangunan tempat pembelanjaan pusat kota akan mereka bangun dan juga sebuah Hotel mewah di sana.
"Mending aku tunggu Davin di sana, dia pasti sedang di jalan."
Lidia duduk di kursi dan memainkan ponselnya, dia mengirimkan pesan jika dia sudah sampai di Lokasi.
__ADS_1
Kanaya bingung saat Davin malah membawanya ke suatu tempat, dan itu tempat pembangunan gedung.
"Loh Kak kita dimana sih, terus mau apa ke sini"
"Aku sudah janji bertemu Lidia untuk melihat proses pembangunan Hotel juga Pusat perbelanjaan."
"Ta- tapi kenapa malah ngajak aku"
Davin tersenyum,,
"Aku mau kamu tau semua yang aku kerjakan sayang, Kita turun"
Kanaya terdiam dengan Davin membuka pintu mobilnya, Kanaya turun dan langsung di sambut genggaman tangan Davin.
Mereka masuk ke dalam, beberapa orang terdengar menyapa Davin.
Lidia tersenyum menatap kedatangan Davin, namun senyuman itu hilang saat melihat Davin datang bersama Kanaya.
"Maaf membuat Anda menunggu" Ucap Davin.
"Tidak, saya juga baru datang dan,-
"Kita langsung cek semuanya" Ucap Davin menatap semua gedung.
Lidia tampak mengepalkan tangannya, apalagi Davin yang terus menggenggam tangan Kanaya.
"Ayo sayang" Ajak Davin membawa Kanaya.
Lidia mengekori mereka dengan wajah kesalnya, dia tidak bisa lebih dekat dengan Davin.
"Jadi semua ini desain Kak Lidia " Ucap Kanaya menatap Lidia yang berada di sampingnya.
Lidia tersenyum,,
Namun terlihat jelas jika senyuman yang di paksakan.
Kanaya dan Lidia kini hanya berdua karena Davin sedang membeli minum.
"Minum dulu kamu pasti haus" Ucap Davin duduk dan membuka tutup botolnya.
"Makasih Kak" Ucap Kanaya tersenyum.
Davin mengangguk,
Dia pun menyodorkan satu botol kepada Lidia, namun bedanya dia tidak membuka tutup botolnya.
"Makasih" Ucap Lidia.
Davin tidak menjawab dan malah menatap Kanaya yang tampak masih menatap bangunan-bangunan di depannya.
"Sialan, kenapa gadis itu harus ikut sih jadi gak bisa kan aku berduaan dengan Davin."
__ADS_1
Lidia meneguk minumannya ,,
Mereka duduk di salah satu kursi dekat pembangunan, menatap banyak pekerja yang sedang menyelesaikan gedung-gedung mereka.