
Lagi dan Lagi Davin mendapatkan info dari salah pihak hotel yang memberitahu jika baru saja seseorang datang dan menemui Bela di sana.
Seorang wanita yang sama saat datang malah hari.
Davin tau jika dia memang adalah Siska yang terus berusaha memprovokasi Bela untuk tidak membocorkan semua keburukan Keluarga Siska.
"Kakak lagi ngapain?" Ucap Kanaya menghampiri Davin yang duduk.
"Gak kok sayang, kamu mau tetap di sini atau jalan-jalan."
"Em, jalan-jalan yuk.. kayaknya pemandangan di sini menyenangkan."
Davin mengangguk dan mereka beranjak bangun.
Davin sengaja mengajak Kanaya untuk melihat Vila yang sudah dia beli sebelumnya. Bukan tanpa sebab karena memang dia ingin memiliki tempat jika sewaktu-waktu mereka libur dan ada tempat untuk mereka tinggal. walaupun sebenarnya Hotel milik keluarganya pun sudah banyak cabang di berbagai daerah
"Oya kak, tadi Kak Revan bilang kalau sidang orang tua Siska bakal di lakukan lusa ya."
"Hm, kenapa ?"
"Gapapa sih, berarti Lusa juga Bela menjadi saksi dalam persidangan itu ya."
"Bukan hanya Bela, tapi Dita juga kedua orang tua Dita. mereka bakal di mintai keterangan."
Kanaya mengangguk.
"Mudah-mudahan semua berjalan lancar ya Kak, terus soal Siska apa dia juga bakal di penjara sama seperti orang tuanya."
"Tergantung sayang, kalau dia memang terbukti melakukan kesalahan dia pun harus ikut masuk penjara bersama orangtuanya."
Kanaya terdiam.
Bagaimana pun memang Siska ikut bersalah dalam masalah ini tapi dia pun akan menunggunya hasil persidangan lusa dan dia berharap apapun hasilnya itu yang terbaik.
"Gak usah kamu pikirkan, orang yang memang bersalah memang seharusnya menerima akibatnya."
Kanaya tersenyum dan mereka kembali menatap lurus.
Davin akan membawa Kanaya untuk berkeliling selama mereka masih berada di puncak.
######
Revan tersenyum setelah menatap ponselnya.
Tebakannya benar, jika Siska terus menemui Bela untuk memprovokasinya.
Sebenarnya Revan melihat Siska di sana, di saat mereka datang Siska langsung bersembunyi dan semua itu tidak luput dari pandangan Revan.
"Jadi Lo masih bisa bermain-main sekarang Siska, tapi gue gak bakal tinggal diam melihat tingkah Lo." Batin Revan.
Bela yang mendapatkan pesan singkat dari Revan pun hanya merasa bingung.
Untuk apa Revan mengajaknya bertemu nanti malam, padahal mereka baru saja bertemu siang tadi.
Bela hanya bisa menyetujui nya dan dia akan datang ke tempat dimana mereka akan bertemu.
__ADS_1
Malam pun telah datang.
Bela berjalan masuk ke dalam sebuah restoran, dia menatap sekeliling dan matanya menatap Revan yang sudah berada di sana. bukan bersama Dita namun Revan terlihat sendiri.
"Sorry Lo nunggu lama, gue kena macet tadi " Ucap Bela duduk di hadapan Revan yang terlihat sedang memainkan ponselnya.
Revan mendongak dan menyimpan ponselnya.
"No problem, gue juga baru dateng. Lo pesen aja dulu."
Bela mengangguk dan tidak lama terlihat seorang pelayan datang .
"Lo sendiri, gak bareng Dita ?"
"Gue sendiri dan Dita sama sekali gak tau kita ketemu."
Deg.
Bela tercengang dengan ucapan Revan, Dita tidak tau jika mereka bertemu. bagaimana nantinya jika Dita tau dan sebenarnya apa yang akan Revan lakukan.
"Oh, terus Lo ngajak gue ketemu untuk apa ya?"
Revan tersenyum dan menatap Bela.
Tatapan yang tidak bisa diartikan, bahkan hingga membuat Bela menunduk.
"Apa Lo sudah siap buat saksi persidangan itu, apa Lo bakal lakuin dan ucapkan sesuai dengan kenyataan."
"Maksud Lo?"
Revan menghela napasnya dengan mata yang terus menatap ke arah Bela tanpa beralih.
Bela terdiam.
Kenapa Revan bisa berkata seperti itu. apa Revan tau jika selama ini Siska selalu mendatanginya.
"Lo gak usah khawatir, gue bakal menceritakan nya dengan jujur semua yang gue tau."
"Bagus lah, Gue cuma gak mau Lo kembali terpengaruh dengan ucapan Sahabat Lo itu."
"Tenang aja, gue tau apa yang harus gue lakukan untuk persidangan keluar cewek Lo."
"Sorry Gue baru datang."
Bela langsung menoleh mendengar suara seseorang, Davin datang dan langsung duduk bersama mereka.
"Santai,, Kanaya ?"
"Kanaya sudah gue antar pulang, dan gue langsung ke sini."
Revan mengangguk.
Sebenarnya Davin meminta Revan untuk menghubungi Bela dan mengajaknya untuk bertemu.
"Jadi Davin juga,-
__ADS_1
"Sebenarnya kita akan ketemu siang, tapi Davin lagi di Bogor sama Kanaya jadi gue ganti malam."
Bela mengangguk.
Menatap Davin yang berada di sana membuat Bela terdiam.
Bayangan dimana Davin bersama Kanaya, luka yang selama ini dia pendam seakan kembali muncul.
"Sekarang mending Lo tanya langsung aja deh Vin." Ucap Revan membuat Davin menatap Bela yang tampak kebingungan.
"Lo gak lupa kan Bel dimana Lo tinggal selama ini, dan gue mendapatkan Laporan jika Siska terus mendatangi Lo. Untuk apa dia datang." Ucap Davin To the points.
Bela kaget dengan ucapan Davin, dia melupakan dimana dia tinggal selama ini. bukan tidak mungkin sebanyak orang yang akan memberitahu Davin apa saja yang dia lakukan di sana.
"Lo tinggal jawab Bel,."
Bela menghela napasnya dan menatap mereka
"Siska memang menghampiri gue, dia minta gue untuk membatalkan menjadi saksi dalam kasus keluarganya."
"Terus ?"
"Gue menolaknya, gue tetap akan menjadi saksi persidangan nanti."
Revan tersenyum namun dia tau bukan hanya itu maksud kedatangan Siska.
"Apa hanya itu?" Ucap Revan semakin memojokkan Bela.
"Ya cuma itu."
Bela melirik Davin yang berada di sampingnya.
Andai Lo tau Dave, perasaan gue masih sama terhadap Lo.
Perasaan itu masih terus melekan dalam hati gue. Perasaan yang sudah tumbuh dan mungkin sudah menyatu dengan daging membuat gue begitu sulit melupakan Lo.
"Thanks Lo udah mau bantu kita semua apalagi Lo bantu cewek gue." Ucap Revan dan Bela hanya tersenyum.
Davin menatap Bela,,,
"Gue senang Lo berubah Bel."
"Semua karena Kanaya, dia yang buat gue sadar dengan apa yang udah gue lakuin selama ini. Dia bisa maafin gue padahal apa yang udah gue lakuin dulu benar-benar Fatal. Pantas Lo begitu menyayangi Kanaya Dave."
"Karena Kanaya segala-galanya buat gue, apapun bakal gue lakuin untuk kebahagiaan dia." Ucap Davin
Jleb.
Bela tersenyum, walaupun sebenarnya dalam hatinya dia menangis. perih dan sesak sakit hancur semua menyatu dalam hatinya. tapi dia harus berusaha terlihat biasa saja saat ini.
Dert..
Davin menatap ponselnya.
"Sorry gue angkat telpon bentar" Ucap Davin berjalan menjauh.
__ADS_1
Bela terus menatapnya, dia tau jik pasti Kanaya lah yang menghubunginya. Bela sadar soal perasaannya yang memang harus di pendam dalam-dalam.
Namun Bela lupa, masih ada Revan di sana yang terus menatapnya dengan senyuman yang sulit di artikan.