
Kanaya menatap Revan yang terlihat sangat frustasi, Revan menceritakan semuanya kepada Kanaya soal Dita dan juga Siska.
"Kakak suka sama Dita?" Ucap Kanaya membuat Revan menatapnya.
"Maksudnya gimana De."
"Ya setelah aku denger semua cerita Kakak soal Dita, kayaknya Kakak suka ya sama Dita."
Revan menghela napasnya dan bersandar,,
"Entahlah De,-
"Awas aja Kakak buat Dita sedih, Dita sahabat aku Kak."
Revan menakutkan kedua alisnya,,
"Apa sih kamu, gaje banget" Ucap Revan mengusap pucuk rambut Kanaya dan kembali menatap langit malam yang cerah.
______
Dita yang berada di kamarnya menatap langit-langit kamarnya, perasaannya tidak tenang, dia memikirkan Revan saat ini.
Menjauhi Revan sama saja membuat hatinya terluka, tapi jika mereka dekat itu tidak sebanding dengan keluarga mereka.
"Dita,, Ibu Boleh masuk Nak"
"Ya Bu,"
Dita beranjak bangun dan menatap wanita paruh baya yang tersenyum dengan berjalan menghampiri nya.
"Bibi bilang kamu tidak keluar kamar dari siang, Ada apa?"
Dita tersenyum dan menggeleng,,
"Ibu tau kamu sedang memikirkan sesuatu, apa mau cerita sama Ibu Sayang."
Dita terdiam,,
Apa dia harus bicara dengan orang tuanya tentang perasaan yang dia rasakan saat ini.
Dita mengangguk dan mulai menceritakan semuanya, tidak ada satupun yang di tutupi dan di tambah .
"Apa kamu suka dengan Revan"
"Hah, maksud Ibu"
"Ibu lihat bagaimana sikap kamu, kamu suka dengan Revan tapi kamu belum menyadari semua itu Nak."
"Tapi Bu, Dita tidak berani untuk menyukai Kak Revan bagaimana pun dia anak dari orang kaya sementara kita,-
"Jodoh itu ada di tangan Tuhan, jadi tidak salah jika kamu memang suka dengan Revan.
Sekarang kamu istirahat dan jangan berpikir macam-macam."
__ADS_1
"Ibu juga istirahat"
Dita berbaring dengan memeluk boneka kesayangannya, rasanya sangat sulit untuk memejamkan matanya.
Bayangan dimana wajah Revan terus teringat olehnya.
"Dita,, Sadar Revan bukan jodoh kamu."
Dita berusaha memejamkan matanya, dia memaksakan untuk tidur walau sebenarnya susah.
*******
Keesokan Harinya,,
Dita berada di parkiran, tubuhnya sedikit tidak enak, kepalanya pusing mungkin karena memikirkan Revan dan dia tidak bisa tidur semalam.
Dita membuka pintu mobilnya, Revan yang juga baru saja sampai melihat Dita di sana.
"Dita" Ucap Revan langsung keluar mobil.
Dita menggelengkan kepalanya, pandangan nya sedikit kabur, kepalanya pusing.
"Astaga Dita" Ucap Revan langsung menahan tubuh Dita saat akan terjatuh.
Deg..
Deg..
Deg,,
Sorot mata Revan yang begitu dalam membuat Jantung Dita berdetak cepat.
"Ma- makasih Kak" Ucap Dita melepaskan tangan Revan yang memeluk pinggangnya.
"Lo gapapa"
Dita mengangguk dan memalingkan wajahnya,,
Dia berusaha mengatur perasaannya saat ini, jantung nya tidak aman jika terus di tatap Revan.
"Wajah Lo pucat Dit, Lo sakit" Ucap Revan khawatir.
"Gue gapapa Kak, Permisi " Ucap Dita meninggalkan Revan sendiri.
Namun siapa sangka,
Siska yang berada tidak jauh dari mereka tengah mengepalkan tangannya.
Dia menahan marah melihat sikap Revan kepada Dita.
"Lo cari mati sama gue Dita., Lo bakal merasakan apa yang Bela rasakan."
Siska berjalan pergi..
__ADS_1
Dita menghela napasnya,,
tangannya memegang dadanya yang masih berdetak cepat, dia berusaha menahan perasaannya agar tidak lebih jauh terhadap Revan.
"Tunggu" Ucap Siska membuat Dita menoleh.
"Mau apa lagi Lo" Ucap Dita malas.
Siska tersenyum dengan menatap sinis ke arah Dita, menatap Dita dari bawah hingga atas.
"Lo benar-benar gak sadar diri banget ya, Lo ingat siapa Lo dan siapa Revan. Kalian sama sekali tidak cocok."
Dita menautkan kedua alisnya.
"Gue peringatkan sama Lo, jauhi Revan.
Lo cuma anak orang miskin beda dengan Revan yang merupakan anak orang Kaya. Sadar dong atau jangan-jangan Lo cuma mau manfaatin Revan aja."
"Jaga mulut Lo ya,
Walaupun keluarga gue miskin tapi gue gak seperti ucapan Lo."
"Hahahaha,, Gue gak percaya.
Paling juga Lo sengaja deketin Revan cuma buat bikin keluarga Lo kembali kan, gue tau saat ini Perusahaan Keluarga Lo sedang bermasalah."
"Jaga mulut Lo, Lo boleh menghina gue tapi gak dengan keluarga Gue."
"Lo,-
"Siska"
Siska dan Dita menoleh,
Terlihat Revan berjalan menghampiri mereka dan berdiri di samping Dita.
"Re- Revan"
"Jaga mulut Lo, jangan pernah ganggu Dita atau Lo berurusan sama gue" Ucap Revan menarik tangan Dita dan meninggalkan Siska yang berdiri menatapnya.
Revan mengandeng tangan Dita pergi,,
"Lepas Kak" Ucap Dita menahan tangan Revan.
Revan menghela napasnya dan menatap Dita.
"Dita Plis, gue minta maaf kenapa sih sikap Lo jadi seperti ini. Gue bingung apa salah gue."
Deg.
Dita terdiam, bahkan selama ini Revan sama sekali tidak pernah salah dengannya.
"Tolong jawab, jangan seperti ini hati gue sakit Lo diemin ."
__ADS_1
Dita menatap wajah Revan,,
matanya mulai berkaca, apa dia memang menyukai Revan tapi bagaimana dengan status keluarga mereka yang sangat beda jauh.