
Kanaya membuka ponselnya dan terlihat begitu ramai di grup Kampus termasuk banyak postingan tentang dirinya bersama Revan juga orang tuanya, beberapa dari mereka pun tampak meminta maaf dan menanyakan kabar Kanaya.
" Kenapa main Ponsel, Kamu harus banyak Istirahat sayang " Ucap Nia menghampiri Kanaya.
" Jadi Daddy benar sudah mempublish Naya Mom "
Nia tersenyum dan mengangguk,,
" Apa yang Daddy lakukan benar Sayang, Sudah seharusnya semua tau siapa kamu jadi tidak ada yang berani membully kamu. Tapi sebenernya sih bukan hanya untuk kamu tapi juga semuanya, perbuatan Bully sangat tidak baik."
Kanaya terdiam dan kembali menatap ponselnya,,
" Sekarang istirahat ya, Sini Ponselnya biar Mommy simpan dulu "
Kanaya memberikan nya, namun terlihat pintu terbuka dan terlihat Revan yang datang bahkan bukan hanya sendiri namun juga Davin dan Gilang ikut bersamanya.
" Hai De,, gimana Keadaan kamu hari ini " Ucap Revan menghampiri Kanaya dan mengusap pucuk rambutnya.
" Kak Davin, Kak Gilang,, Kalian juga datang "
Revan menatap mereka dan tersenyum,,
" Tante kenalin ini teman teman Revan, dan ini Davin yang sudah berapa kali menolong Kanaya termasuk kemarin."
" Halo,, Saya Mommy Kanaya..
Davin, Terima kasih banyak ya kamu sudah menolong Kanaya Tante benar benar tidak tau harus bagaimana."
" Sama sama Tante, Kebetulan saat itu Saya di sana."
Nia tersenyum dan mengangguk,,
Davin kini menatap Kanaya yang duduk di ranjang pasien dengan wajah yang masih terlihat pucat namun tetap saja terlihat cantik.
" Hai Nay, gimana keadaan Lo "
" Udah lebih baik Kak, Em Kak Makasih banget ya kemarin udah Nolongin dan bawa aku ke Rumah Sakit. "
Davin tersenyum dan mengangguk,,
Sementara Gilang masih tidak menyangka dengan siapa Kanaya bahkan saat dia menatap kamar inap Kanaya pun tampak seperti kamar pribadi.
" Oya Dimana Om Robi Tan "
" Daddy Kanaya sedang ke Perusahaan."
Revan mengangguk dan duduk di sofa bersama Davin juga Gilang.
Sementara Kanaya tampak biasa, dia berada di ranjang bersama Nia yang menemani nya.
Tidak lama Robi datang dan membuat ketiga cowok itu segera beranjak.
" Om,, Baru pulang " Sapa Revan
" Van, kamu di sini "
" Iya Om, dari kampus langsung jenguk Kanaya ..
Oya Om, kenalin temen Revan dan ini Davin yang sudah menolong Kanaya"
" Halo Om,, " Sapa mereka mencium punggung Robi.
" Om berterima kasih sekali sama Kamu karena sudah menolong Kanaya, Entahlah gimana jadinya kalau tidak ada kamu saat itu."
" Sama sama Om, kebetulan saat itu saya di sana "
__ADS_1
" Sekali lagi terima kasih ya "
" Iya Om "
Robi kini menatap putrinya dan tersenyum berjalan mendekat.
" Sayang,, gimana keadaan kamu apa masih sakit kepalanya atau yang lain "
Kanaya menggeleng..
" Dad, kapan Nay boleh pulang?"
Robi menautkan alisnya,,
" Loh sayang,, Dokter pun belum bicara kamu boleh pulang .. Daddy juga gak mau sebelum tau keadaan kamu yang sebenarnya."
" Tapi Dad,, "
Kanaya terdiam,,
Dia sangat bosan tinggal Di Rumah sakit, Sudah beberapa hari dan dia sangat sering masuk Rumah Sakit.
Sementara Davin, pandangan nya tidak luput dari Kanaya yang sedang cemberut dan itu malah sangat menggemaskan untuk nya.
Bener bener gue gak nyangka,,
Kanaya anak tunggal dari orang nomor satu tapi dia sama sekali tidak sombong dan tidak mengandalkan Kekayaan orang Tuanya.
Batin Gilang yang merasa kagum dengan sikap Kanaya yang menurut nya sama sekali tidak seperti cewek Lain nya.
________
Hari pun sudah malam,,
Davin baru saja sampai di Rumah nya setelah dari rumah sakit.
Di tatapnya Bela bersama Mamanya berada di sana membuatnya malas.
" Vin, Lo dari mana ?" Ucap Bela
" Rumah Sakit,, Saya ke kamar dulu Om Tante " Pamit Davin kepada Orang tua Bela.
Bela tampak kesal,
Davin dari Rumah Sakit berarti artinya Davin baru saja menjenguk Kanaya.
" Maaf Ya Bela, Mungkin Davin lelah jadi Langsung ke kamar nya "
" Iya gapapa Tante "
Bela terpaksa tersenyum padahal dia sangat kesal dengan Davin yang selalu mengabaikan dirinya.
" Oya,, silahkan di minum dulu "
" Makasih Lo Han, jadi repot Repot "
" Apa sih,, gak lah "
Sementara Davin sampai di dalam kamar nya, dia melepas jaketnya dan merelakan Tasnya di atas meja.
Rasanya lelah namun dia senang bisa melihat Kanaya dan keadaan nya sudah lebih baik.
Dia pun sangat bersyukur.
Namun dia kembali teringat dengan siapa yang mencelakai Kanaya belum juga ketemu membuat nya segera meraih ponselnya dan terlihat menghubungi sesuatu.
__ADS_1
Dia pun meletakan ponselnya dan berjalan menuju Kamar Mandi untuk membersihkan tubuhnya yang juga terasa lengket.
Bela yang masih berada di ruang tamu terus menatap ke dalam, dia berharap Davin kembali menemui nya.
Dia sengaja meminta Mamanya untuk datang ke rumah Davin.
Detik, menit bahkan hingga satu jam Davin tidak kunjung keluar juga membuat nya kesal.
" Em Tante Maaf, Davin dimana ya ?" Ucap Bela yang sudah tidak sabar .
Hana menoleh dan tidak terlihat Putranya turun, sedangkan dia tau bagaimana sifat putranya yang tidak suka dengan Bela.
" Sebentar Coba Tante panggil dulu ya "
" Maaf Tan, boleh Kalo Bela yang panggil ke atas "
Hana terdiam ,,
Namun kemudian tersenyum..
" Maaf ya Sayang,, Bukannya Tante tidak mengijinkan tapi tidak enak saja perempuan masuk ke kamar laki laki,, "
" Bela,, benar Kata Tante Hana sayang..
tunggu sebentar ya "
" Iya Ma "
Hana tersenyum dan beranjak masuk,,
Di dalam Kamar nya,
Davin tengah berada di balkon kamarnya, dia bermain game di sana dan sesekali membalas Chat dari Gilang.
Tok,,.Tok,,
" Vin,, Mama masuk ya "
Tidak ada suara membuat Hana mengerutkan keningnya, dia tetap berjalan masuk dan tidak melihat Putranya di tempat tidur namun pintu Balkon terbuka.
" Loh di sini, Bela nunggu kamu Lo Vin di bawah " Ucap Hana membuat Davin menoleh.
" Dave Capek Ma, Lagian Bela juga datang sama Mamah nya "
Hana tersenyum dan duduk di samping Davin,,
" Jangan seperti itu, Kasihan Bela dong dia udah nunggu kamu dari tadi Nak.. Turun dan temui sebentar ya "
Davin menghela napas nya dan mengangguk,,
Dia memang tipe Anak yang tidak pernah membangkang ucapan orang tuanya terutama Terhadap Ibu.
" Sebentar lagi Dave turun Ma "
" Ya Sudah Mama turun dulu ya, Kamu turun temui Bela "
Davin menyandarkan kepalanya,,
Sebenarnya dia sangat malas menemui Bela apalagi tubuh nya sangat lelah.
Namun dia pun beranjak bangun dan meletakan ponselnya di atas meja.
Bela tersenyum saat melihat Davin yang berjalan turun,,
" Hai Vin,, " Sapanya langsung beranjak bangun dan tersenyum.
__ADS_1
Davin mengangguk dan duduk di samping Hana.
Terlihat wajah Davin yang biasa saja berbeda dengan Bela yang tampak terus tersenyum.