You Are My Life Kanaya

You Are My Life Kanaya
Bab 75


__ADS_3

Dita menatap ponselnya, dia terus menghubungi Orang rumahnya untuk di jemput karena dia tidak membawa mobil seperti biasanya.


" Duh, pada kemana coba terus gimana gue pulang nya" Gumam Dita kembali mencoba menghubungi rumah namun tetap saja tidak ada jawaban.


Dita berjalan keluar, dia berencana akan menunggu Taxi online.


Revan baru saja menuju parkiran setelah bertemu dengan Rektor, dia pun masuk ke dalam mobil.


Mobil pun melaju keluar, namun di depan gerbang dia menatap Dita berdiri di dekat Halte Kampus.


" itu bukannya Dita, ngapain dia di sana."


Revan pun menghampiri nya.


Tin..


Tin..


Dita yang berdiri pun menoleh, Revan keluar mobil nya dan berjalan mendekat.


" Lo ngapain di sini " Ucapnya


" Kak Revan, Nunggu Taxi "


" Memangnya mobil Lo kemana."


" Bengkel ."


Revan mengangguk dan menatap jalanan yang terlihat sepi karena memang sudah sore.


" Bareng gue aja , lagian udah sore mana ada Taxi lewat."


" Ada kok biasanya."


" Ya Udah gue tunggu sampai Lo dapet Taxi."


Dita tersenyum dan mengangguk.


Sebenarnya seperti ini bukan sikap Dita, Dita yang terkenal sedikit bar-bar namun semua berbeda saat bersama Revan.


Dita terlihat lebih malu dan pendiam.


Sudah sekitar 30 menit mereka di sana namun tetap saja tidak terlihat adanya Taxi lewat.


Revan menatap Dita.


" Jadi,-


Dita menghela napasnya dan mengangguk.


Revan berjalan menuju Mobil bersama Dita yang juga masuk ke dalam dan duduk di samping Revan.


Tidak ada obrolan di dalam mobil, semua saling diam.


Dita menatap jalanan lurus, jalanan yang lumayan ramai .

__ADS_1


" Lo kita mau kemana Kak" Ucap Dita saat Mobil berbelok arah dari rumahnya.


" Makan bentar, gue lapar." Ucap Revan


" Ta- tapi Kak "


" Bentar saja, gue Laper banget."


Dita akhirnya mengangguk dan mereka sampai di sebuah Cafe.


Mereka berjalan turun dan masuk, beberapa pengunjung pun terlihat ramai di sana.


" Ramai juga,, Kita duduk di sana deh " Ajak Revan .


Lagi dan Lagi Dita mengangguk dan berjalan mengikuti Revan, duduk di sebuah kursi dekat taman.


" Lo mau pesen apa "


" Terserah kak Revan."


Revan mengangguk dan memesan makanan.


Dita menatap sekeliling, ramai dan suasana yang nyaman .


" Lo suka " Ucap Revan membuat Dita menatapnya.


Tatapan mereka satu titik, bahkan tatapan Revan begitu teduh dan untuk kali pertama Dita melihat'nya.


Dita merasakan debaran pada dadanya, entah mengapa dia menjadi gugup.


Beberapa kali Revan datang ke Cafe ini dan tentunya bersama teman-teman nya namun kali ini Revan bersama Dita.


Sementara di Luar,,


Siska baru saja datang bersama Oni, mereka Langsung masuk ke dalam.


" Yah kok ramai sih " Kesal Siska menatap semua kursi yang terisi penuh.


" Eh Sis, mending ke taman deh kayaknya masih sepi." Ucap Oni dan Siska mengangguk.


Mereka berjalan menuju taman sampai, benar saja di sana tidak terlalu ramai.


Siska duduk bersama Oni dan memesan makanan nya,,


" Jadi Lo sering ke sini." Ucap Oni yang memang baru pertama datang.


" Engga juga sih, beberapa kali aja."


Oni mengangguk dan menatap sekeliling, namun matanya menatap laki-laki yang tidak asing baginya, namun dia bersama perempuan yang hanya terlihat punggung nya saja.


" Wait, itu bukannya Revan tapi dia sama siapa " Ucap Oni membuat Siska menoleh.


Revan duduk bersama perempuan, namun Siska tidak bisa melihat wajahnya karena terhalang orang lain dan hanya punggung saja.


" Bukan Kanaya deh kayaknya " Lanjut Oni.

__ADS_1


Siska semakin memicing kan matanya, dia menatap tajam ke arah mereka.


" Loh Sis, Lo mau kemana "


Siska berjalan untuk menghampiri mereka, cukup penasaran siapa yang sedang bersama Revan.


" Hai Van " Ucap Siska berdiri di sana.


Baik Revan juga Dita menoleh, Siska membulatkan matanya saat tau jika perempuan itu adalah Dita.


" Lo,- Ucap Siska menunjuk Dita yang beranjak bangun.


" Kenapa " Ucap Dita tak mau kalah.


" Kalian ngapain di sini, dan Lo .. Oh tunggu deh jadi Lo sengaja deketin Kanaya cuma buat bisa dekat dengan Revan. Munafik." Ucap Siska.


" Jaga mulut Lo ya,"


" Lagian mana mungkin Revan suka dengan cewek kayak Lo , ngaca dong jadi cewek."


" Siska, apa- apa an sih Lo"


" Van, Lo buka mata dong gimana dia.


Masih banyak kali cewek cantik di kampus dari pada cewek ini."


Dita menggeleng,,


" Memangnya gue kenapa, walaupun gue gak cantik tapi gue masih punya harga diri gak kayak Lo, cewek yang entah harga dirinya kemana."


" Lo,-


" Apa, benar kan yang gue bilang ." Potong Dita.


Siska mengepalkan tangan nya, dia mengambil gelas dan menyiramkan Dita.


" Siska, Sekarang Lo pergi." Bentak Revan membuat Siska kaget.


Revan melepas jaketnya dan langsung menutupi tubuh Dita.


" Kita pulang" Ajaknya mengandeng Dita pergi meninggalkan Siska yang masih diam mematung dengan sikap Revan terhadap Dita.


Dita masih terus diam, bahkan membuat Revan merasa tidak enak.


" Sorry, karena gue Lo jadi seperti ini." Ucap Revan menatap Dita yang tampak diam.


Dita menggeleng,,


" Gue mau pulang."


" Oke kita pulang sekarang."


Revan melajukan mobilnya keluar dari parkiran Cafe.


Sementara Dita terus meremas jaket Revan yang menutupi tubuhnya.

__ADS_1


Bukan karena tubuhnya yang basah, namun dia merasa jika ucapan Siska benar, siapa dirinya hingga bisa berjalan bersama Idola kampus juga anak dari Donatur tetap Kampus.


__ADS_2