You Are My Life Kanaya

You Are My Life Kanaya
Bab 96


__ADS_3

Kanaya tampak tersenyum menatap pemandangan dimana Davin telah membawanya ke suatu tempat yang begitu indah dan romantis.


Sebenarnya Davin telah menyiapkan sebuah Vila di daerah puncak. Dia sengaja membelinya setelah tau jika Kanaya sangat ingin memiliki Vila di Puncak. Padahal jika Kanaya memintanya kepada orangtuanya bukan tidak mungkin bahkan akan langsung mereka belikan secara cuma-cuma untuk putri kesayangan mereka. namun semua itu bukan sifat Kanaya yang selalu menghamburkan uang.


"Jadi Kakak sengaja membeli Vila ini ?" Ucap Kanaya saat melihat sertifikat yang Davin berikan.


Davin mengangguk,


"Wait, terus kenapa semua atas nama aku. bukan Kakak."


Davin menatap Kanaya dan menggenggam kedua tangan kekasihnya.


"Semua ini memang aku siapkan untuk kamu Sayang."


"Tapi Kak, bahkan Vila ini sangat besar dan pasti harganya sangat mahal."


Davin menggeleng.


"Tidak jika itu untuk kamu."


Kanaya menatap wajah kekasihnya, berapa beruntungnya memiliki kekasih dan calon suami seperti Davin.


"Apa kamu suka?" Ucap Davin saat Kanaya sudah dalam pelukannya.


"Sangat suka, makasih Kak."


Davin semakin erat memeluk Kanaya, menatap pemandangan.


_______


Revan menatap ponselnya, dia telah membaca semua pesan yang di kirim oleh Davin soal Bela.


Dia pun berencana untuk mencari tau apa yang sebenarnya Bela lakukan.


"Kak" Ucap Dita duduk di samping Revan yang tampak sedang berpikir.


"Ya Sayang"


Revan tersenyum menatap wajah kekasihnya, kini keluarga Dita sudah kembali seperti biasa. Perusahaan dan juga semua Aset berharga mereka sudah kembali.


"Makasih ya untuk semuanya."


Revan menggenggam kedua tangan Dita, apapun akan dia lakukan untuk membahagiakan kekasihnya.


Revan begitu mencintai Dita, sama seperti Davin yang begitu menyayangi dan mencintai Kanaya.


"Sudah semestinya aku lakuin semua itu apalagi untuk keluarga kamu."


Dita tersenyum dan memeluk tubuh kekasihnya.


Setelah mereka dekat, dan bahkan menjalin hubungan. Dita merasa begitu tenang. Revan benar-benar menjaga dirinya.


"Makasih sudah hadir dalam hidup aku, aku gak tau gimana aku jika tidak ada kamu Kak."


"Sst jangan pernah berpikir seperti itu, kebahagiaan kamu adalah tanggung jawab aku sekarang."


Dita mengangguk dan semakin erat memeluknya, memejamkan matanya merasakan hangat dan tenang dalam dekapan Revan.


Di tempat lain.

__ADS_1


Siska terus menatap ponselnya. Sampai sekarang Bela bahkan belum menghubunginya.


Bela belum menyetujui untuk membantu dirinya. semua upaya sudah Siska lakukan. memprovokasi Bela untuk menjauhkan hubungan Davin dan Kanaya.


Dert.


Dert.


Siska segera menata ponselnya, namun matanya membulat saat melihat nomor asing yang menghubunginya.


"Halo siapa ini?"


(......)


"Apa, Saya ke sana sekarang."


Siska langsung menyambar tasnya, dia segera berjalan keluar.


Pihak kepolisian menghubunginya jika orang tuanya sakit dan sudah berada di rumah sakit.


Bela baru saja masuk ke dalam kamarnya.


Mata sembab, tubuh yang lemah terlihat jelas jika Bela sedang tidak baik-baik saja.


Keputusannya untuk kembali ke Indonesia malah membuat hati dan perasaannya berkecamuk.


Perasaan terhadap Davin yang seakan sudah mendarah daging membuatnya harus menelan pil pahit karena hubungan Davin dan Kanaya yang sudah semakin dekat.


Tes.


Butiran bening kini kembali menetes di wajahnya.


Bela segera menyeka air matanya kala suara bel pintu Kamarnya bunyi.


"Ya sebenar" Ucap Bela berjalan mendekat dan membuka pintu kamar.


"Kak Revan , Dita"


Revan datang bersama Dita.


"Hai Bel, kita gak ganggu Lo kan?"


Bela menggeleng.


"Silahkan masuk"


Revan juga Dita masuk bersama dengan Bela yang juga ikut masuk ke dalam.


Mereka duduk di sofa ruang tamu.


"Oya kalian mau minum apa?" Ucap Bela


"Gak perlu repot-repot, kita juga cuma mampir." Ucap Revan dan Bela mengangguk.


Bela kembali duduk dan menatap Revan yang menyerahkan amplop putih kepadanya.


"Surat dari Kepolisian, Lo di mintai menjadi saksi dalam persidangan orang tua Siska lusa."


Bela mengambil dan membukanya.

__ADS_1


Memang Bela adalah salah satu Saksi dalam kasus tersebut. karena bukan tanpa sebab. Bela sedikit tau semua soal keluarga Siska.


"Gue bakal datang nanti kok."


Revan mengangguk, namun tatapan matanya terus ke arah Bela yang memang berbeda. wajah Bela yang seperti memikirkan sesuatu bahkan matanya yang terlihat sembab.


"Bel, Lo gapapa? mata Lo kenapa sembab?" Kini Dita yang menanyakan keadaan Bela.


"Gue gapapa Kok, cuma gue lagi kangen Mami gue."


"Gue minta maaf ya, gara-gara masalah Gue Lo jadi harus pulang ke Indo dan meninggalkan orang tua Lo."


"Gapapa Dit, lagian memang seharusnya gue ada di Indo buat masalah ini."


Revan tidak bicara apapun, dia hanya menatap Bela dan sedikit mengedarkan pandangannya.


"Ya Sudah, kita pergi dulu."


Bela mengangguk dan mereka beranjak keluar.


"Lo jaga kesehatan ya, kalau ada sesuatu Telpon gue ya Bel." Ucap Dita dan Bela mengangguk.


Revan mengandeng Dita pergi dari sana, namun tidak lama terlihat Siska menghampiri Bela.


"Astaga Siska" Kaget Bela saat Siska langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Sst.. jangan teriak Lo."


Bela menghela napasnya dan menutup pintu, dia berjalan masuk bersama Siska.


"Oh jadi Lo saksi dalam kasus Bokap gue?" Ucap Siska ketus saat membuka amplop yang Revan berikan.


"Bukan urusan Lo."


Bela merebutnya dan menyimpannya.


"Terus Lo mau jadi saksi dalam persidangan itu?"


"Gue memang harus ikut, orang tua Lo memang salah Sis. dan Lo gue minta Lo berubah. gue yakin mereka bakal maafin Lo."


Siska tertawa dan menatap tajam Bela.


"Lo memang Bodoh Bel, Lo mau saja di manfaatkan mereka. Lo lupa apa yang sudah mereka lakukan sama Lo. membuat Lo harus meninggalkan Indo karena tidak ada Universitas yang mau menerima Lo. membuat keluarga Lo hancur dan Membuat Lo di benci Davin. cowok yang sangat Lo cintai dari dulu."


"Semua itu sudah takdir, dan memang gue bukan jodoh Davin."


"Gue bingung dengan pemikiran Lo, Lo cinta dan sayang Davin tapi Lo sama sekali tidak memperjuangkan hati Lo. Lo lebih lam dekat dan mengenal Davin tapi Kanaya yang harus mendapatkannya."


Bela terdiam dan memilih duduk.


Siska tersenyum dan mendekati Bela.


"Gue janji dengan Lo, kalau Lo mau batalin jadi Saksi itu gue bakal balikin semua nama baik Lo. gue bakal bantu Lo buat kembali ke Indo dan lebih tepatnya gue bakal bantu Lo dapetin Davin kembali."


"Lo bisa pikirkan semua itu Bel, masih ada waktu buat Lo merubah keputusan Lo. gue sahabat Lo dan gue gak mau lihat Lo seperti ini." Ucap Siska beranjak pergi.


Bela masih hanya terus diam.


Duduk di sofa dengan menatap keluar jendela kaca. menatap pemandangan Ibu Kota yang begitu padat dengan kendaraan. menatap panasnya udara di luar.

__ADS_1


__ADS_2