You Are My Life Kanaya

You Are My Life Kanaya
Bab 88


__ADS_3

Lidia berada di Apartemen Reyhan setelah sebelumnya mereka berjanji untuk bertemu.


Reyhan yang baru saja selesai mandi pun berjalan menghampiri Lidia dengan hanya menggunakan handuk yang dia lilit di pinggangnya.


"Astaga Rey " Ucap Lidia menutup wajahnya.


Reyhan tersenyum dan malah duduk di hadapan Lidia tanpa menghiraukan Lidia yang memintanya untuk memakai pakaian.


"Sudahlah,, gue juga tau Lo sering melihatnya saat di luar negeri."


Lidia menghela napasnya dan membuka kedua tangannya yang menutupi wajah.


"Jadi Davin benar membatalkan kerjasama kalian."


Lidia mengangguk.


"Davin,, Davin,, Lo memang sangat sombong."


"Semua itu karena Kanaya, kerugian yang besar pun Davin tidak menghiraukannya."


"Davin,, Lo memang selalu unggul dari gue tapi kali ini gue gak akan biarin Lo memang mendapatkan Kanaya." Lirih Reyhan.


Sebenarnya Reyhan sudah lama membenci Davin, mereka yang pernah sekolah bersama dan kini kuliah di tempat yang sama dan selama itu Davin selalu unggul darinya, mulai dadi pelajaran sampai dengan banyaknya wanita yang menyukainya.


"Tunggu, Maksud Lo kenal Davin."


Reyhan mengangguk,,


"Dia teman satu kampus gue, dan selama ini gue gak sudah dengannya karena dia selalu merebut apa yang gue inginkan, tapi tidak dengan Kanaya."


"What Kanaya, gue semakin gak ngerti sama Lo"


Reyhan menyandarkan tubuhnya dan membayangkan saat pertama Kanaya datang di Kampus, pesonanya sangat besar, wajah cantiknya, Senyumannya membuatnya langsung jatuh cinta.


Bahkan saat Bela dan Siska mengganggunya, Reyhan akan membantu Kanaya namun lagi-lagi dia kalah cepat dari Davin, disaat mereka bansos di luar kota, Davin pun lebih dulu menemukan Kanaya dari pada dirinya.


Selama ini Davin selalu mencuri pandang Kanaya, mengambil fotonya bahkan dia selalu berkhayal jika mereka bersama.


"Jadi Lo menyukai Kanaya, terus kenapa Lo hanya diam dan,-


"Karena Davin, dia selalu lebih dulu dari gue." Ucap Reyhan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Lidia menatap Reyhan yang tampak menahan emosinya, kali ini mereka sama-sama ingin mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Terus apa yang harus gue lakuin."


Reyhan menatap Lidia dan mendekatkan wajahnya, dia membisikan sesuatu membuat Lidia tersenyum.


********


Kanaya langsung menghampiri Dita yang sudah menunggunya, Dita terlihat sendiri di sana.


"Dita" Ucap Kanaya membuat Dita beranjak bangun dan memeluk Kanaya erat.


Dita menangis, sesak dan bingung yan dia rasakan saat ini, apa yang bisa dia lakukan untuk membantu orangtuanya.


"Kamu tenang ya, cerita sama aku ada apa" Ucap Kanaya mengusap bahu Dita yang masih terus menangis.


Davin membiarkan mereka dulu, dia duduk di meja lain.


"Lo sama siapa Nay"


"Kak Davin"


Dita menatap Davin yang duduk tidak jauh dari mereka,,


"Bukan bukan Kak Revan Nay, tapi karena,-


Dita menghentikan ucapannya, apa dia benar menceritakan semuanya kepada Kanaya, dia tidak mau jika Kanaya juga ikut memikirkan masalah keluarganya.


"Karena,- Ucap Kanaya saat Dita diam.


"Soal keluarga gue."


Kanaya menautkan kedua alisnya bingung,,


"Perusahaan Bokap gue bangkrut, dan Bokap gue harus membayar semua gaji plus pesangon untuk semua karyawannya."Ucap Dita dengan suara parau.


Kanaya menggenggam tangan Dita dan menatapnya, Dita yang terus menangis dengan menceritakan semuanya membuat Kanaya kembali memeluknya.


"Apa yang harus gue lakukan Nay, gue pengin bantu mereka."


Kanaya tau semua ini berat dan dia pun akan sama seperti Dita jika berada di posisinya.

__ADS_1


"Aku bakal bilang sama Daddy, mudah-mudahan Daddy bisa bantu keluarga kamu."


Dita melepaskan pelukannya dan menggeleng.


Bukan itu maksud Dita, dia hanya mengingatkan masukan dari Kanaya soal masalahnya.


Dan sebenarnya dia berbuat untuk bekerja membantu orang tuanya.


"Tidak Nay, gue bakal cari kerja buat bantu mereka."


Kanaya tersenyum,,


"Gapapa, aku sudah anggap kamu saudara aku Dit,, sampai rumah aku cerita sama Daddy soal ini oke."


"Tapi Nay,-


Kanaya mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu, dia mengirimkan Pesan kepada Daddy-nya menanyakan apa sudah pulang atau masih di Kantor.


"Sekarang kamu jangan khawatir, kamu juga harus jaga kesehatan, kamu baru sembuh bukan."


Dita mengangguk,,


Kanaya memang sangat baik, dia selalu membantunya.


"Tapi Nay, apa gue boleh minta sesuatu sama Lo."


"Yup,, apa itu Dit"


"Plis, jangan cerita sama Kak Revan soal ini.


Gue gak mau Kak Revan juga ikut memikirkan semuanya."


Kanaya tersenyum dan mengangguk.


"Aku gak bakal Bilang Kak Revan."


" Makasih Nay, Lo selalu bantu gue, Lo selalu ada buat gue."


"Itu gunanya seorang sahabat. Sekarang halus air mata kamu, jangan menangis itu malah membuat kedua orang tua kamu semakin sedih "


Dita tersenyum.

__ADS_1


"Aku tidak salah memilih, kamu seperti bidadari dengan Laras cantik kamu dan kamu seperti Malaikat karena hati kamu yang begitu baik."


Davin tersenyum bangga dengan sikap Kekasihnya itu.


__ADS_2