
Pagi ini Davin sudah membuat Janji untuk bertemu dengan Lidia kembali akan membahas kerjasama mereka.
Davin memutuskan untuk menerima kerjasama itu dan dia yang akan bertanggung jawab dengan kerjasama itu.
Davin datang bersama Asistennya, mereka sudah berada di salah satu restoran.
" Sorry sudah membuat Anda menunggu"
Davin mendongak,,
" Tidak apa " Singkat Davin yang memang sama sekali tidak menyukai basa basi.
Lidia tersenyum dan duduk di hadapan Davin.
Serius untuk beberapa kali mereka bertemu Davin semakin terlihat tampan dan membuat Lidia di buat kagum.
Tidak bosan bosannya dia terus menatap wajah tampan Davin.
" Nona Lidia " Panggil Asisten Davin
" Ah ya Maaf,, bagaimana"
Davin menatap Lidia,,
Dia pun menyerahkan Proposal yang sudah dia tanda tangani.
" Saya sudah membaca nya, dan Saya menerima kerjasama ini " Ucap Davin
" Terimakasih,, Saya harap kerjasama kita ini berjalan lancar. "
Davin mengangguk,,
" Maaf sebelumnya, bagaimana jika Malam ini Saya mengundang Anda untuk makan Malam
Maksud saya sebagai rekan kerja dan atas kerjasama ini."
" Sebelumnya terima kasih tapi Saya tidak bisa "
" Oh, Baiklah tapi bagaimana jika next time pasti Anda bisa bukan."
" Silahkan Anda bisa menanyakan Agenda saya kepada Asisten Saya, Karena dia lah yang mengatur semua jadwal saya ."
Lidia tersenyum kecut.
Dia sengaja mengajaknya makan malam bukan tanpa sebab ,karena sebenarnya memang dia begitu sangat ingin lebih dekat dengan Davin.
Apalagi Davin sukses membuatnya langsung jatuh hati karena ketampanannya.
" Saya Permisi " Ucap Davin beranjak.
" Silahkan."
Davin berjalan lebih dulu di ikuti dengan Asistennya.
Bagi Davin setelah semua urusannya selesai, dia akan segera kembali apalagi rekan bisnisnya adalah seorang wanita maka Davin akan benar benar menjaga jarak Dengan nya.
Dia tidak mau jika Kanaya salah paham.
_____
Sedangkan Kanaya baru saja selesai kampus nya, dia berjalan keluar dan akan menunggu Davin yang akan menjemput nya.
" Kanaya " Panggil seseorang membuat Kanaya menoleh
Reyhan berjalan menghampiri Kanaya.
" Kak Reyhan " Ucap Kanaya yang memang sudah tau setelah Davin menceritakan nya.
Reyhan tersenyum,,
" Lo mau pulang, Apa Davin sudah jemput "
__ADS_1
" Kak Davin sudah di jalan Kok "
Reyhan mengangguk dan tidak lama terlihat sebuah mobil masuk dan berhenti tepat di depan mereka.
Davin keluar dan langsung menghampiri Kanaya.
" Hai Sayang " Ucap Davin mengusap wajah Kanaya.
" Rey "
" Vin, Lo baru datang "
Davin mengangguk,,
" Gue lihat Lo mulai sibuk dengan Perusahaan Bokap Lo "
Davin tersenyum,,
" Tapi jangan sampai Telat jemput Cewek Lo, Kasihan Kanaya nungguin Lo dari tadi."
Davin menautkan kedua alisnya,,
" Ya Udah,, gue duluan "
Reyhan berjalan meninggalkan mereka yang masih berdiri di sana.
Davin sedikit aneh dengan sikap dan ucapan Reyhan kepadanya.
" Kak , "
" Ah ya sayang "
" Kita pulang ya "
Davin mengangguk dan mengajak Kanaya menuju Mobilnya, dia pun membuka pintunya.
Davin berjalan memutar dan duduk di kursi kemudi, melajukan mobilnya keluar Kampus.
" Karena Ucapan Reyhan tadi,,
Ka, Aku gak masalah Kok, Yang penting Kakak jemput"
Davin tersenyum dan menggenggam tangan Kanaya serta mengecup.
Kanaya tersenyum,,
Bagaimana dia sangat bangga dengan Davin, dia bertanggung jawab dengan perintah Ayahnya dan sebagai seorang kekasih Kanaya akan selalu mendukung nya.
" Oya, Terus gimana tadi kerjasamanya "
" Lancar dan Lusa sudah mulai "
Kanaya mengangguk,,
" Tapi Sayang,,
sebenarnya salah satu rekan kerja Aku itu adalah seorang wanita, dia bernama Lidia dan baru saja datang ke Jakarta."
" Kenapa Kaka cerita seperti itu "
" Karena aku gak mau ada salah paham, Apapun akan selalu aku ceritakan sama Kamu , Tidak akan ada sedikit pun yang aku tutupi."
Kanaya mengangguk,,
" Makasih ya Kak,"
Davin menoleh bingung,,
" Karena Kakak selalu jujur sama aku "
Davin tersenyum dan mengusap pucuk rambut Kanaya.
__ADS_1
******
Lidia sudah berada di Perusahaan dengan senyuman mengembang, bagaimana tidak Davin menerima kerjasama mereka dan mereka akan terus bertemu.
Selama ini begitu banyak laki laki yang mendekatinya namun tidak membuat hatinya tergerak dengan ucapan manis dan janji manis mereka.
Namun Davin sangat berbeda, sikap cueknya membuat nya semakin penasaran dan ingin lebih mengenalnya dalam.
Wajah tampan Davin terus membayangi pikirannya.
" Bu Lidia,, Ibu " Ucap Asistennya.
" Ya, Ada Apa " Ucap Lidia berusa kembali biasa.
" Tuan ingin bicara dengan Anda "
" Papa, Kenapa Tidak menelpon Saya "
" Tuan bilang jika sudah mencoba menghubungi Ibu, tapi tidak di jawab."
Lidia mengambil ponselnya, benar saja banyak panggilan masuk dari Papa nya.
Terlalu asik mengingat wajah Davin membuat nya tidak mendengar jika ada Telp masuk.
Lidia mengambil Telp nya ,,
" Halo Pap, Gimana Kabar Papa di sana.
Papa baik baik saja bukan "
" Sayang,, kamu baik baik saja bukan. "
" Lidia baik baik saja Pa,, "
" Syukurlah,, Terus kenapa Papa Telp dan tidak kamu angkat, kamu dimana Nak "
" Ma- Maaf Pa, Lidia tidak dengar "
" Astaga Sayang,,
Maafkan Papa, kamu pasti sangat lelah mengurus perusahaan."
" Pa, Itu tidak masalah asal Papa sehat "
" Maafin Papa ya Nak,, "
" Pa, Lidia dengan senang hati mengurus perusahaan Keluarga."
Lidia memang anak tunggal di keluarga nya, dia harus menjalankan bisnis Keluarga nya setelah Ayahnya jatuh sakit dan Ibunya meninggal saat Dia masih sekolah dulu.
" Ya Sudah,, Kamu baik baik di sana jaga kesehatan dan jangan Lupa makan "
" Papa juga,,
Bye Pa "
Lidia menutup telponnya dan mengembalikan kepada Asisten nya.
" Terima kasih "
" Sama sama Bu, Saya permisi "
Lidia mengangguk dan menghela napasnya,,
Davin memang sudah mengalihkan dunia ku,,
Baru berapa Kali bertemu saja sudah membuat ku seperti ini, bagaimana jika kamu bertemu setiap hari nanti.
Lidia tersenyum dan menggeleng,,
Dia pun membuka Laptop nya dan kembali fokus dengan pekerjaan nya.
__ADS_1