
Revan sampai di depan sebuah rumah besar dan mewah namun tidak seperti rumahnya ataupun Kanaya, karena sebenarnya Dita merupakan anak dari seorang pengusaha biasa dan bukan seperti mereka dengan kalangan anak-anak orang kaya.
" Makasih Kak " Ucap Dita membuka pintu mobilnya, namun Revan langsung mencegahnya.
" Tunggu, Lo beneran gapapa ?*
Dita tersenyum dan mengangguk, dia segera keluar dan masuk ke dalam rumah nya.
Sementara Revan terus menatap Dita.
_____
Kanaya yang kini sedang bersama Davin pun hanya bisa menatap kekasihnya itu bersama Klien di sebuah restoran.
Davin mengajak Kanaya saat meeting dengan Kliennya, bukan Lidia namun salah satu Klien yang lain.
Davin yang mulai sering memakai setelan Jas pun terlihat tampan, tatanan rambut rapi bahkan dia selalu pandai dalam membahas kerjasama mereka walaupun sebenarnya Kanaya sendiri tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.
" Baiklah Tuan Davin, terima kasih atas waktu Anda dan semoga kerja sama kita bisa terus berlanjut."
" Sama-sama Tuan Pras."
Mereka saling menjabat tangan sebelum akhirnya Pras bersama beberapa orangnya berjalan pergi.
Davin menatap Kanaya dan tersenyum,,
" Maaf,, Kamu pasti sangat bosan " Ucapnya mengusap wajah Kanaya yang menjawab dengan senyuman manis juga gelengan kepalanya.
"Terus kita mau kemana lagi Kak"
Davin menatap Jam, sebenarnya dia masih harus ke kantor untuk membereskan pekerjaan nya namun melihat Kanaya yang tampak lelah membuat nya tidak tega.
"Kita pulang " Ajaknya.
"Pulang,, tapi bukannya kakak masih harus ke kantor."
Davin menggeleng,,
"Semua sudah selesai"
__ADS_1
Kanaya mengangguk dan beranjak bangun, Davin mengandeng tangan Kanaya dan mereka berjalan keluar.
Dita berada di dalam kamarnya,
Dia terdiam dan menatap Jaket Revan, debaran jantung nya berbeda saat bersama Revan padahal dia tidak pernah merasakan seperti itu.
"Sebenarnya gue kenapa, apa gue suka dengan Kak Revan tapi,- Ucapan Siska benar, siapa gue dan siapa Kak Revan.
Gue gak pantas mendapatkan Kak Revan."
Dita menghela napasnya,,
Setelan dia mengembalikan jaketnya, dia berencana untuk menjaga jarak dengan Revan dia tidak mau jika perasaan nya semakin dalam.
Sedangkan Revan,,
Dia masih terus memikirkan Dita yang terus diam setelah kejadian itu, Revan merasa tidak enak dan tidak tega karena dirinya lah tubuh Dita basah kuyup.
"Besok gue harus minta maaf, dan Lo Siska cukup Kanaya yang Lo bully dan tidak dengan Dita ataupun yang lainnya."
Revan mengambil ponselnya dan mencari nomor Kanaya, dia berencana untuk meminta nomor Dita dari Adik sepupu nya.
"Lagi sama Kak Davin Kak, kenapa ?"
"Kakak Minta nomor Dita, kamu kirim ya"
"Buat apa, Kakak tidak berniat macam-macam kan "
"Astaga De, engga lah kirim sekarang Kakak tunggu."
"Aku bakal kirim, tapi awas aja Kakak buat Dita sedih."
"Iya"
Revan menunggu Kanaya yang akan mengirim Nomor Dita, dia akan menghubungi Dita nantinya.
********
Kanaya yang masih bersama Davin merasa heran, kenapa tiba-tiba Revan memintanya untuk mengirim Kontak Dita padahal setau dirinya mereka tidak dekat.
__ADS_1
Dan kini mereka sampai di depan rumah Davin bukan di rumah Kanaya,
"Loh kak,-
"Maaf Sayang, Sebenarnya ada yang harus aku urus tapi sebentar kok."
Kanaya mengangguk dan mereka berjalan turun.
Davin mengandeng Kanaya masuk ke dalam rumah, rumah tampak sepi karena memang kedua orang tua Davin sedang berada di Luar Negeri.
"Mba ,tolong buatkan minum dan bawa ke kamar ya" Ucap Davin
"Baik Mas"
Di dalam Kamar,,
Davin membuka laptop nya dan mulai mengerjakan sesuatu di sana, sementara Kanaya duduk di samping nya dengan bermain ponsel.
Dia berbalas pesan dengan Dita.
Tok,,
Tok,,
"Maaf Mas, ini Minuman nya" Ucap salah seorang Pelayan.
"Masuk Mba"
Davin sengaja membiarkan pintu terbuka,dia tidak mau semua pelayan di Rumah nya berpikir macam-macam karena Kanaya pun berada di dalam kamar bersamaan nya.
"Makasih Mba" Ucap Kanaya ramah.
"sama-sama Mba Kanaya, saya permisi"
Kanaya tersenyum dan kembali bermain ponselnya, Davin sesekali melirik Kekasihnya itu dan tersenyum.
"Minum sayang" Ucapnya
"Eum"
__ADS_1
Davin tersenyum dan kembali menatap Laptopnya, dia harus mengirim email kepada Ayah nya karena sudah ditunggu.