You Are My Life Kanaya

You Are My Life Kanaya
Bab 87


__ADS_3

Seperti ucapan Davin untuk mengajak Kanaya ke kantornya siang ini, Kanaya pun kini berada di ruangan Davin duduk dengan bermain ponselnya.


Sembari menunggu Davin yang tampak sedang bersama Asistennya pun tampak serius membicarakan sesuatu.


Tok,,


Tok,,


"Maaf Mas Davin, di luar ada Nona Lidia ingin bertemu."


Davin menautkan kedua alisnya, untuk apalagi dia datang menemuinya padahal kerjasama mereka sudah selesai.


Kanaya menoleh saat mendengar nama Lidia,,


"Biarkan dia masuk" Ucap Davin


"Saya Permisi Mas, untuk berkasnya saya tinggal di sini."


Davin mengangguk dan tidak lama Lidia masuk, namun langkahnya terhenti saat melihat Kanaya juga berada di sana.


"Apa ada yang belum jelas soal kemarin." Ucap Davin tanpa menatapnya.


Lidia menghela napasnya, melihat adanya Kanaya di sana pun membuatnya semakin sesak.


"Aku masih belum bisa menerima pembatalan kerjasama kita Dave, semua sudah berjalan setengah dan apa kamu tidak menyayangkan kerugiannya. Itu sangat besar."


Davin menatap Lidia dan menggeleng,,


Baginya semua tidak seberapa dibandingkan dengan perasaan Kanaya.


Kanaya menatap bingung dengan pembicaraan mereka, apa yang sebenarnya terjadi.


"Kak Ada apa sih" Ucap Kanaya menghampiri Davin


"Davin membatalkan kerjasama ini, dan semua itu karena kamu Kanaya." Ucap Lidia dengan terlihat emosi .


"Maksudnya"


"Nona Lidia jaga sikap Anda, Sayang aku jelaskan semuanya."


Davin menghampiri Kanaya dan menggenggam tangannya, menatap wajah Kanaya yang penuh kebingungan.


"Kenapa Kakak membatalkan semuanya, memangnya ada apa kak "

__ADS_1


Davin menghela nafas dan menatap sinis Lidia yang masih berdiri disampingnya.


"Sudahlah Dave, kamu Tinggal jawab semua karena Kanaya. Kamu takut Kanaya salah paham padahal ini hanya soal pekerjaan dan gak lebih."


Lidia sengaja membuat seolah-olah Davin lah yang salah, dia mau jika Kanaya salah paham.


"Apa yang Lidia katakan benar Kak."


"Sayang,"


"Kak " Ucap Kanaya dengan sorot mata penuh kebingungan."


"Silahkan Anda keluar, Atau Saya panggil sekuriti." Ucap Davin menatap tajam Lidia.


Lidia mengepalkan tangannya dan berjalan keluar.


Davin mengusap wajah Kanaya, air matanya menetes di wajah cantiknya.


Kanaya merasa bersalah jika memang benar semua karena dirinya.


"Sayang plis, jangan menangis seperti ini." Ucap Davin mengusapnya


"Apa yang Lidia katakan benar, Kenapa kakak melakukan semua itu Kak."


"Aku mau hubungan kita baik- baik saja Sayang, aku tidak mau kamu salah paham.


apalagi setelah Lidia terus menyebut nama aku, dia mabuk karena tau pertunangan kita dan dia mengungkapkan perasaannya."


Kanaya menautkan kedua alisnya,


Jadi semua foto yang Reyhan berikan kepadanya benar, jadi Lidia menyukai Davin.


"Aku tidak mau jika nantinya akan berimbas di hubungan kita sayang, aku tidak mau kehilangan kamu."


Kanaya menatap Davin, air matanya semakin menetes.


"Maaf Kak" Ucap Kanaya memeluk tubuh Davin , wajahnya menempel di dada kekar Davin.


"Seharusnya aku yang minta Maaf karena tidak menceritakan sama kamu"


Kanaya menggeleng namun tetap memeluk erat tubuh Davin.


Lidia mengepalkan tangannya kuat, dia tidak mau tinggal diam dengan sikap Kanaya yang seperti ini.

__ADS_1


Dia pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Saya butuh bantuan kamu"


Lidia menutup telponnya dan masuk ke dalam mobil.


**********


Hari pun sudah sore,,


Davin menatap Kanaya yang masih berada di sofa, dia berjalan mendekat dan mengusap pucuk rambut Kanaya.


"Kita pulang?" Ajak Davin duduk di samping Kanaya


"Kakak sudah selesai.?" Balik tanya Kanaya dan Davin mengangguk.


"Oke,"


Kanaya mengambil tasnya dan beranjak bangun, Davin menggenggam tangan Kanaya dan mereka berjalan keluar.


Kanaya tersenyum saat berpapasan dan melewati karyawan yang lebih banyak menundukkan kepalanya.


Semua sudah tau siapa Kanaya dan apa hubungannya dengan Davin, walau banyak yang merasa iri dan patah hati karena ternyata putra dari Bos nya telah memiliki kekasih dan sudah bertunangan.


Mobil melaju meninggalkan gudang tinggi dan bonafit, Kanaya tampak menyandarkan tubuhnya.


"Kamu pasti lelah menemani aku seharian."


Kanaya menggeleng,,


Dia pun senang ikut Davin ke kantor.


"Aku seneng kok temenin Kakak" Ucapnya tersenyum .


Davin mengusap wajah Kanaya dan tersenyum.


Walau umur mereka tidak beda jauh, namun Davin bersikap sangat dewasa terhadap Kanaya yang malah sering bersikap manja.


Ting,,


Kanaya mengambil ponselnya, dan membaca pesan dari Dita.


"Kak, boleh anterin aku ketemu Dita." Ucap Kanaya

__ADS_1


"Iya Sayang"


Kanaya mengangguk dan terlihat membalas pesan dari Dita yang mengajaknya bertemu di sebuah Cafe.


__ADS_2