
Kini Revan juga Dita berada di sebuah Cafe dekat Kampus, setelah selesai kuliah mereka janji untuk bertemu di sana sebenarnya bukan janji namun Revan yang terus memaksa Dita untuk menemuinya siang ini.
Dita duduk tanpa menatap Revan yang malah bersikap sebaliknya, Revan menatap tajam wajah Dita yang duduk di hadapannya.
"Jadi, apa sebenarnya yang sudah terjadi" Ucap Revan setelah beberapa saat mereka hanya saling diam.
"Gue mau kita tidak lagi dekat, kita bersikap seperti dulu sebelum ada Kanaya." Ucap Dita tanpa berani menatap wajah Revan.
Revan tersenyum getir.
Aneh rasanya Dita bicara seperti itu, padahal diantara mereka sebelum nya tidak ada masalah sama sekali.
"Jauhi gue Ka"
Kini Dita memberanikan diri menatap Revan walau sebenarnya hatinya hancur bicara seperti itu.
Tangannya pun meremas kemeja yang dia pakai.
"Kalau gue gak mau, Lo mau apa"
Dita menggeleng,,
"Apa karena Siska, berapa kali gue bilang antara gue dan Siska tidak ada hubungan sama sekali, dan Lo seharusnya tau bagaimana Siska."
"Kalaupun kalian ada hubungan, semua itu tidak ada urusannya dengan gue Kak."
Revan menghela napasnya..
Memang mereka tidak ada hubungan, namun setelah lebih dekat dengan Dita beberapa hari Revan merasa nyaman bahkan Dita selalu membuatnya tertawa.
"Sudah tidak ada yang harus kita bicarakan, makasih untuk semuanya." Ucap Dita menyambar tasnya dan beranjak bangun.
"Gue suka sama Lo"
Deg..
Dita menghentikan langkahnya, air matanya menetes di wajahnya apa yang sudah dia dengar, walau sebenarnya dia sangat bahagia namun ucapan Siska terus teringat di pikirannya.
"Gue suka sama Lo Dit, Lo beda dari wanita lain, Lo bisa buat gue tertawa , entah sejak kapan gue merasakan perasaan ini tapi setelah dekat dengan Lo, gue merasa nyaman dan gue gak mau jauh dari Lo."
Dita menyeka Air matanya.
"Maaf Kak, gue gak bisa" Ucap Dita kembali melangkah dan meninggalkan Revan yang berdiri mematung di sana.
Dita langsung berlari keluar,
Dia menangis , hatinya sangat hancur.
Mulutnya bisa bicara seperti itu namun tidak dengan hatinya.
Sedangkan Revan,,
Dia mengusap wajahnya Kasar, Dita menolaknya tanpa alasan.
__ADS_1
********
Kanaya baru saja merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, terik matahari siang membuatnya lelah dan gerah.
Hembusan angin di kamar nya membuat nya merasa lega.
Setelah menemani Davin kembali ke Perusahaan, Kanaya baru sampai di Rumah nya.
Derrt,,
Derrt,,
Kanaya menoleh, dia pun menyambar tasnya dan mengambil benda pipih yang berada di dalam tasnya.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dia kenal.
"Nomor siapa" Gumam Kanaya dan dia pun membuka pesannya.
0823976xxx
Hai Nay,, Ini gue Reyhan..
Gue bersama Lidia, dan ternyata benar jika yang Lidia maksud adalah Davin pacar Lo.
Lo harus tau gimana hancurnya Lidia, dia terus mabuk setiap hari.
sebagai sama-sama seorang perempuan Lo pasti tau bagaimana perasaan Lidia saat ini.
Pesan masuk dengan menampilkan foto Lidia yang kembali terlihat mabuk dengan beberapa botol yang berada di depan nya.
Kanaya terdiam.
Tangannya masih menggenggam handphone nya, namun tiba-tiba Davin menghubungi nya.
"Apa sih, gue gak ada urusan dengan Kalian" Ucap Kanaya tanpa lebih dulu menatap Id penelpon.
"Sayang, ini Aku Davin."
Kanaya menatap layar handphone nya, dia pun kaget saat malah Davin yang menghubunginya.
"Kak Davin,, Maaf Kak aku kira,-
Kanaya terdiam,
"Sayang ada apa, apa terjadi sesuatu."
"Em,, Gapapa Kok Kak."
"Jujur sama aku, apa ada yang ganggu kamu."
Kanaya memejamkan Matanya,,
"jika kamu diam, aku ke rumah sekarang."
__ADS_1
"Ta- tapi Kak,-
"Tunggu sebentar oke"
Kanaya menghela napasnya,
Dia tidak bisa membohongi Davin, karena Davin akan selalu tau apa yang sedang dia rasakan.
___
Davin menyambar jaketnya dan berjalan keluar.
"Loh Vin, kamu mau kemana" Ucap Hana
"Dave keluar sebentar Mah."
"Hati-hati"
Davin mengangguk dan berjalan keluar, dia tau jika sebenarnya Kanaya menyembunyikan sesuatu Darinya.
Dengan menggunakan mobil miliknya, dia melaju keluar halaman mewah Rumahnya.
Walau dia sendiri baru saja sampai rumah, namun urusan Kanaya nomor satu dan dia khawatir dengan keadaan Kekasih nya itu.
Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Davin sampai, Kanaya yang tengah menunggu pun segera keluar.
"Kak Davin" Ucap Kanaya yang langsung berhambur memeluknya.
Dengan sikap Kanaya Seperti ini, dia semakin yakin jika telah terjadi sesuatu dengan Kanaya.
"Sayang,," Ucap Davin menatap wajah Kanaya.
"Sekarang kenapa, kamu cerita sama aku."
Kanaya mengangguk dan memberikan ponselnya, Davin membaca semua pesan juga foto-foto Lidia yang tengah mabuk.
"Lidia sampai bersikap seperti itu Kak, aku aku,-
"Sayang hei, dengar . Semua bukan salah kamu dan aku sudah pernah bilang jika Antara aku dan Lidia hanya kerjasama."
"Aku percaya dengan Kakak, tapi Lidia,-
"Aku tidak peduli , Lidia mau mabuk dan merusak tubuhnya aku tidak peduli dan itu bukan urusan aku."
Kanaya menatap Davin.
Apa tidak terlalu jahat dengan sikapnya seperti ini.
"Sekarang kamu jangan pernah berpikir macam-macam, hanya kamu yang selalu ada di hati aku tidak ada perempuan lain atau bahkan Lidia. Dan soal Nomor ini biar aku yang urus."
Kanaya mengangguk dan kembali memeluk Davin.
Dia merasa lebih tenang setelah menceritakan semuanya kepada Davin.
__ADS_1