
Kanaya terus menangis dalam dekapan Davin, tubuhnya masih bergetar. Davin bisa merasakannya.
"Bela Kak" Lirih Kanaya
"Kamu tenang ya, Bela akan baik-baik saja"
Davin berusaha menenangkan Kanaya.
Bagaimana jika pisau itu berhasil kena tubuh Kanaya, dia tidak akan bisa berpikir.
Tidak lama Dokter keluar membuat semua beranjak bangun.
"Bagaimana keadaannya Dok." Ucap Revan.
"Kami sudah berusaha tapi pasien kehilangan banyak darah dan tidak tertolong."
"Engga mungkin, Bela baik-baik saja kan Dok." Ucap Kanaya histeris.
"Dek Lo tenang ya."
"Sayang, Kamu tenang ya"
"Bela Kak, Bela gak mungkin meninggal."
Davin memeluk erat Kanaya.
Begitu pun dengan Dita yang kaget mendengar kabar kematian Bela. Revan yang melihat kekasihnya lemas pun segera menghampiri dan memeluknya.
Tidak ada yang berpikir jika Siska akan senekat itu, bagaimana jika pisau itu benar-benar terkena Kanaya. kenapa Siska berbuat mencelakai Kanaya.
______
Hari semakin sore dan semua berada di pemakaman Bela, Kanaya juga Dita masih terlihat terus menangis.
"Kita pulang" Ajak Davin dan Kanaya mengangguk.
Selamat jalan Bela.
Lo pasti tenang di surga sana. Terimakasih Lo sudah selamatkan gue dari bahaya itu. seharusnya pisau itu tertancap di tubuh gue tapi kenapa Lo lakuin semua itu.
Maafin gue karena selama ini gue salah sama Lo. Lo sahabat gue Bela.
lah
__ADS_1
Kanaya mengusap batu Nisan Bela dan beranjak bangun.
Semua berjalan menuju mobilnya.
Davin menatap kekasihnya.
Dia tau bagaimana Kanaya yang begitu kehilangan Bela, Sama halnya dengan dirinya. Bela adalah wanita yang bukan hanya sebentar dia kenal. Mereka sudah saling mengenal lama dan Bela pergi karena menyelamatkan kekasihnya.
Davin melajukan mobilnya meninggalkan pemakaman.
Tidak ada obrolan di dalam mobil. Sesekali Kanaya masih terlihat menyeka air matanya.
Davin menggenggam tangan kekasihnya itu. membuat Kanaya menoleh.
"Kamu mau ke suatu tempat atau kita pulang"
"Pulang"
Davin mengangguk dan kembali melajukan mobilnya tanpa melepaskan genggaman tangannya.
Siska yang terus saja berteriak membuat beberapa penghuni Sel kesal dengan tingkahnya.
Sudah di tegur sipir pun Siska tetap saja berteriak hingga membuat salah seorang langsung mendorong tubuhnya.
"Woi bisa diam kan Lo. Berisik."
"Sialan " Ucap Siska membalasnya hingga terjadilah keributan di dalam Sel.
"Kalian hentikan." Ucap Sipir yang yang berada di sana dan melerainya.
"Lagi-lagi kamu bikin ribut." Kesal Sipir menatap Siska
"Dia yang mulai dorong saya."
"Lo berisik teriak-teriak terus."
"Sudah-sudah diam atau kalian tidak akan mendapatkan makan malam."
Semua pun langsung diam.
Begitu juga dengan Siska yang meremas jeruji besi dengan erat.
Gue gak akan pernah biarkan semua orang hidup bahagia di luar sana.
__ADS_1
Sesampainya di rumah.
Davin menatap wajah Kanaya yang masih terlihat sedih.
"Sayang" Panggil Davin membuat Kanaya menoleh.
"Jangan terus sedih seperti ini, Bela sudah tenang di sana. Bela juga bakal sedih liat kamu seperti ini. ikhlaskan Bela biar tenang ya."
Kanaya mengangguk,,
Davin memeluk kekasihnya itu erat. Bagaimana pun dia tau bagaimana sedihnya Kanaya kehilangan Bela.
Walaupun selama ini hubungannya dengan Bela tidak baik, namun dia tau jika Bela adalah wanita yang baik.
"Sekarang kamu masuk dan istirahat, jangan berpikir macam-macam lagi Oke."
Lagi lagi Kanaya hanya mengangguk.
"Aku langsung pulang ya."
"Kakak hati-hati."
"Iya Sayang."
Kanaya berjalan masuk dan setelah memastikannya, Davin baru melajukan mobilnya.
Revan yang masih bersama Dita pun tidak habis pikir dengan Siska yang berani melakukan perbuatannya apalagi situasi mereka berada di kantor polisi.
"Aku masih gak percaya Siska melakukan itu Kak, kenapa Siska berbuat mencelakai Kanaya. Seharusnya aku yang jadi sasaran Siska karena merebut kakak." Ucap Dita
"Sst,, jangan pernah berpikir seperti itu.
Aku gak bisa bayangkan jika tadi Kanaya ataupun kamu yang Siska celakai. Dan soal Siska, Aku pasti akan membuatnya mendapatkan balasannya di penjara."
Dita mengangguk.
Masalah yang di hadapinya sudah semua selesai.
Dan dia bersyukur karena Revan membantunya bahkan kini dirinya merasa beruntung bisa memilikinya.
"Sudah sore, kamu masuk gih bersih-bersih. aku juga Mau pulang"
"Kakak hati-hati"
__ADS_1
Revan mengangguk dan berjalan menuju mobilnya.
Sementara Dita masuk ke dalam rumahnya setelah mobil Revan melaju keluar.