
Setelah semua selesai kini Davin sedang bersama Kanaya di taman rumah Kanaya.
Mereka pun telah memberikan keterangan di kantor polisi masalah Keluarga Siska yang sudah melakukan kejahatan. Bahkan dengan bantuan orang tua Kanaya juga Revan, mereka kena hukuman penjara lama. Bela sendiri salah satu menjadi saksi dalam kasus tersebut.
"Makasih ya Ka, aku seneng lihat Dita pasti dia bahagia sekarang."
Davin tersenyum dan mengusap rambut Kanaya yang tampak bersandar di bahunya.
"Siska pantas mendapatkan semua itu, karena sifat egoisnya bahkan membuat orang tuanya terjerat membantunya."
"Tapi Bela, Kak gimana dengan Bela." Ucap Kanaya saat teringat dengan ancaman Siska kepada Bela di rumahnya.
"Kamu jangan khawatir, Bela pasti baik-baik saja."
Kanaya mengangguk walau sebenarnya dia merasa takut jika Siska akan nekat. Bagaimana pun Bela memberikan keterangan tentang semua kejahatannya selama ini.
"Aku lihat kalau Bela sangat menyayangi dan peduli dengan Siska, padahal selama ini Siska selalu mengkambinghitamkan Bela dengan semua masalah yang terjadi. Bahkan Bela harus pindah kuliah karena ulah Siska dulu."
Davin menangkup wajah Kanaya.
"Jangan pernah berpikir macam-macam, semua sudah terjadi dan Bela memang sudah seharusnya mendapatkan hukuman seperti itu. Bela tetap saja nurut walaupun tau jika tindakan mereka berakibat fatal untuk mereka sendiri."
Kanaya tersenyum dan kembali bersandar pada dada Davin.
menikmati suasa malam yang begitu indah bertaburan bintang di langit.
******
Bela yang berada di salah satu hotel tampak berdiri di balkon kamarnya. Sendiri karena memang keluarganya telah pindah ke Amerika.
Bela sengaja pulang ke Indonesia karena Davin memintanya untuk menjadi saksi dalam kasus keluarga Siska. Karena bagaimana pun Bela pasti sangat tau dengan keluarga sahabatnya itu.
Bukan Davin sendiri yang berinisiatif menghubungi Bela, namun Revan lah yang meminta Davin menghubunginya.
*Kembali ke Jakarta setelah hampir satu tahun di Amerika, melupakan semua hal yang gue lewatin di Jakarta termasuk melupakan Davin dalam memori ingat gue. Sangat sudah dan membuat hati gue perih. Namun kin gue harus kembali dan di pertemuan dengan laki-laki yang sangat gue cintai. bertemu dan bertatap mata membuat perasaan itu kembali muncul. Perasaan yang seharusnya tidak boleh gue simpan dan ingat kembali'. *
*Apa salah jika gue masih menyimpan rasa itu, apa salah gue terus berbohong dengan perasaan gue sendiri? *
Melihat Davin yang begitu mencintai Kanaya, mendengar kabar soal pertunangan mereka, sakit dan pedih bahkan hancur berkeping-keping hati gue.
Bela mengusap air matanya yang entah kapan menetes di wajahnya. Berusaha melupakan Davin dengan mencoba dekat dengan laki-laki lain di Amerika tidak membuatnya melupakan Davin.
Dert..
Dert,,
__ADS_1
Bela menyeka air matanya dan berjalan masuk mendengar suara dering Ponselnya.
"Kanaya" Gumam Bela saat melihat panggilan Vidio dari Kanaya.
Dengan menggeser tombol hijau kini terpampang lah wajah cantik Kanaya dengan senyumannya.
"Hai Bel, Aku ganggu kamu gak?"
"Hai Nay, gak Kok. kenapa ?"
"Gak sih aku cuma kepikiran sama kamu, apalagi Siska yang mengancam kamu sore tadi."
Bela tersenyum dan berjalan duduk di sofa Kamarnya, membiarkan balkon kamar yang masih terbuka membuat angin masuk.
"Lo tenang aja, gue gapapa Kok. Oya Lo lagi apa Nay."
"Aku lagi di taman dan bareng Kak Davin juga"
Bela menatap wajah Davin karena Kanaya bergeser dekat dengan Davin.
"Hai Dave" Sapa Bela saat Davin menatapnya.
Davin tersenyum dan mengangguk.
"Ya sudah aku cuma pastiin kamu, tapi langsung kabarin ya kalau Siska berbuat nekat."
Kanaya mengangguk dan mengakhiri Teleponnya.
Bela memejamkan matanya, wajah Davin membuatnya kembali merasakan perih di hatinya.
Sudah tidak ada lagi harapan untuknya, Davin begitu acuh dan tidak peduli dengannya.
Tok,,
Tok,,
Tok,,
Bela menautkan kedua alisnya, siapa malam-malam yang datang bertamu. Bahkan hanya Davin, Kanaya, Revan dan Juga Dita sajalah yang tau dimana dia tinggal selama berada di Jakarta.
Bela berjalan menuju pintu, dia pun membukanya namun matanya membulat sempurna saat melihat Siska lah yang datang dan langsung masuk ke dalam sebelum Bela mempersilahkan.
"Siska, Lo ngapain ke sini?" Ucap Bela yang kini mengikuti Siska yang berjalan masuk dan duduk di sofa.
Siska tersenyum menatap Bela.
__ADS_1
"Sudah gue tebak jika Lo bakal tinggal di salah satu Hotel ini."
Siska tau jika Bela akan menginap di salah satu hotel milik keluarga Davin.
Bela menghela napasnya dan duduk di depan Siska yang tampak menatap sekeliling.
"Sekarang lebih baik Lo katakan, buat apa Lo datang ke sini."
Siska menggeleng dan menatap Bela.
Bela yang kini telah berubah, Bela yang bukan lagi seperti dulu dengan sifat iblis ya.
"Gue mau Lo batalin laporan Lo soal Bokap nyokap gue."
Bela menggeleng.
"Siska plis berubah, Lo bakal lebih tenang kalau Lo berubah."
"Hahahaha,, berubah kata Lo.
Setelah mereka membuat orang tua gue masuk penjara. Gak bakal Bel, Gue bahkan semakin membenci mereka."
"Siska dengerin gue, mereka bakal maafin Lo jika Lo benar-benar berubah."
"Berubah seperti Lo, gue tanya apa setelah Lo berubah Lo mendapatkan Davin, Davin jadi Cinta sama Lo dan melupakan Kanaya."
Bela terdiam.
Dia memang telah berubah, tapi juga tidak mendapatkan Davin.
"Bela- bela,, Lo benar-benar bodoh. mereka sengaja memanfaatkan Lo. Lo percaya sama gue. Kita kerja sama untuk menghancurkan mereka. dan Lo bakal dapetin Davin begitu juga dengan gue yang bisa mendapatkan Revan."
Bela kembali terdiam.
memikirkan apa yang dikatakan Siska.
Siska tersenyum melihat wajah Bela yang terdiam.
Dia pun berjalan menghampiri Bela dan duduk di sampingnya.
"Kita sudah sahabat sejak lama, dan setiap hari apapun kita selalu bersama. Gue sedih melihat Lo yang seperti ini. Lo sahabat gue, melihat Lo yang selalu sedih melihat kedekatan Davin dengan Kanaya. gue ikut merasakan rasa itu."
Siska sengaja membuat Bela goyah dengan semua ucapannya terbukti jika saat ini Bela hanya terdiam dan tampak memikirkan ucapannya.
"Lo pantas mendapatkan Davin, kalian sudah saling mengenal lama apalagi keluar kalian sudah dekat. sedangkan Kanaya, mereka baru mengenal. walaupun mereka sudah bertunangan tapi mereka belum menikah dan Lo bisa merebutnya kembali. perjuangankan perasaan Lo, cinta Lo. jangan kalah karena seseorang yang bahkan membuat hari-hari Lo menderita."
__ADS_1
"Lo pikirkan semua ucapan gue, gue pasti akan selalu ada buat Lo." Ucap Siska beranjak bangun dan berjalan keluar membiarkan Bela dengan semua pikirannya sendiri.
Siska kembali menoleh, Bela masih saja terdiam di sofa. Siska tersenyum dan membuka pintunya.