
Bela membuka matanya, kepalanya terasa sangat pusing dan bukan tanpa sebab. semalam dia tidak bisa tidur karena terus memikirkan semua ucapan Siska, semua ucapan Siska seperti kaset yang di putar ulang dalam otaknya.
Bela beranjak bangun, memijat pelan kepalanya benar-benar terasa berat dan pusing.
Ting.
Bunyi pesan dari ponselnya membuat Bela mengedarkan pandangannya mencari benda pipih yang entah dimana dia letakkan semalam.
Notifikasi dari Siska kembali masuk di ponselnya membuat Bela membulatkan matanya.
Siska mengirimkan foto-foto Davin, bahkan Siska terus saja memperovokasi Bela.
Bela menutup ponselnya, dia pun memejamkan matanya apa yang harus dia lakukan. Perasaan dirinya terhadap Davin memang belum hilang dan terus saja membekas dalam hatinya.
Namun kini Davin sudah bersama Kanaya, apa dia bisa kembali merebutnya. Tapi kebaikan mereka membuat Bela seakan bimbang.
Apa yang harus dia lakukan sekarang.
Siska yang menatapnya ponselnya pun tampak tersenyum, dia tau jika Bela telah membaca pesannya dan sudah pasti saat ini Bela sedang bimbang. Namun dia yakin jika Bela akan kembali berpihak pada dirinya.
"Bela,, Bela,, gue tau Lo pasti bimbang dengan perasaan Lo sekarang. Lo masih mencintai Davin tapi Lo juga berpikir soal Kanaya. tapi gue gak akan pernah menyerah untuk membuat Lo berpihak gue. gue bakal buat Lo kembali seperti dulu. Bela yang selalu mengikuti semua ucapan gue."
Siska tersenyum dan menyimpan Ponselnya.
Dia hanya tinggal menunggu waktu dimana Bela akan menghubunginya dan menerima permintaannya.
*********
Kanaya baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Bukan untuk ke kampus karena pagi ini Davin mengajaknya pergi. Setelah beberapa waktu mereka tidak memiliki waktu berdua karena Davin sibuk dengan urusan kantor dan juga masalah keluarga Dita, hari ini Davin mengajaknya keluar.
"Loh anak Mommy sudah cantik, mau kemana sayang?" Ucap Nia saat melihat Kanaya berjalan turun.
"Morning Mom,,"
Kanaya mengecup pipi Nia dan tersenyum.
"Kak Davin ngajak Nay keluar, boleh kan Mom"
"Boleh dong, memangnya mau kemana?"
"Nay juga belum tau, Kak Davin cuma bilang Nay siap-siap."
Nia tersenyum dan mengusap wajah putrinya.
"Assalamualaikum."
Suara seseorang membuat kedua wanita cantik itu menoleh.
Davin datang dengan pakaian santainya. Kanaya tersenyum menatap calon suaminya begitu pun dengan Davin yang tampak tersenyum dan terpesona dengan kecantikan Kanaya.
"Tante" Sapa Davin mencium punggung tangan Nia.
__ADS_1
"Kalian mau langsung berangkat, apa mau sarapan dulu."
"Langsung aja Tante, nanti kita sarapan di jalan takut nanti pulang kemalaman."
Nia mengangguk dan keduanya berpamitan.
Kanaya masuk ke dalam mobil setelah Davin membuka pintu mobilnya, dia pun berlari memutar dan duduk di kursi kemudi.
Mobil melaju keluar dari halaman rumah mewah Kanaya, namun mereka tidak menyadari seseorang menatap mereka dari dalam mobil.
"Kita mau kemana Kak?" Ucap Kanaya menatap Davin yang masih setia dengan stir bundarnya.
Davin menolah dan tersenyum, dia hanya mengusap wajah cantik Kanaya tanpa menjawabnya.
"Kak," Kesal Kanaya karena Davin malah tersenyum.
"Kita sarapan dulu ya"
"Eum."
Mereka berhenti di depan sebuah gerobak Bubur Ayam, Kanaya sendiri yang sangat ingin makan bubur Ayam pagi ini dan Davin pun menurutinya.
Mereka duduk di kursi sambil menunggu pesanan mereka.
Davin terus menatap wajah Kanaya, dia berharap jika tidak ada lagi masalah yang datang untuk merusak hubungan mereka. Davin sudah merencanakan untuk segera menikahi Kanaya secepatnya.
"Oya Kak, jadi berapa lama Bela di Jakarta." Ucap Kanaya menatap Davin.
Kanaya mengangguk.
Bagaimana pun kesaksian Bela memang di butuhkan. Bela sangat tau bagaimana Siska juga keluarganya.
"Permisi silahkan pesanan nya"
"Makasih Pa" Ucap Davin.
Mereka mulai menikmatinya, Davin tampak begitu perhatian dengan Kanaya bahkan sesekali mengusap bibir Kanaya yang tampak tersisa dan belepotan.
Siapa saja yang melihatnya pasti akan berpikir Davin begitu bucin terhadap Kanaya.
Namun itu lah Davin, dia akan sangat perhatikan dengan orang yang sangat di cintai.
Namun di balik sikap romantis Davin, bagaimana hubungan mereka yang sangat harmonis. seseorang tampak menyeka wajahnya karena butiran bening menetes begitu saja di pipinya.
Dia lah Bela yang berada di dalam mobil dengan terus menatap ke arah mereka.
Sebenarnya Bela tidak sengaja melihat mobil Davin masuk ke dalam rumah Kanaya.
Bela memang akan menemui Kanaya pagi ini, namun melihat mobil Davin yang melintas memutuskan untuk mengikutinya.
Namun malah dia harus menahan perasaannya melihat bagaimana sikap Davin yang begitu manis terhadap Kanaya.
__ADS_1
"Kenapa rasanya sangat sakit dan pedih banget hati gue melihat hubungan mereka. Apa gue masih mencintai Davin, apa gue belum bisa melupakan Davin."
Bela terus menatap kearah mereka, air mata kini sudah membasahi Wajahnya.
Derrt.
Derrt.
Bela menyeka air matanya dan menatap siapa yang menghubunginya.
"Siska" gumam Bela saat melihat layar ponselnya.
Bela pun menggeser tombol hijau untuk menjawabnya.
"Halo Siska"
"Gue tau apa yang sedang Lo rasakan saat ini, melihat orang yang kita cintai berduaan dengan perempuan lain, bahkan mereka tampak sangat romantis."
"Siska, Lo dimana?" Ucap Bela dengan mencari keberadaan Siska. kenapa Siska bisa tau apa yang sedang dia rasakan saat ini.
"Lo gak perlu tau dimana gue, yang jelas gue peduli dengan Lo Bela. gue juga sedih lihat temen gue terus menangisi perasaanya sendiri."
Bela terdiam,,
Dia kembali menatap dimana Davin tersenyum bersama Kanaya.
senyuman yang begitu tulus dan juga terlihat jelas jika Davin begitu mencintai Kanaya.
Senyuman yang hanya akan Davin berikan kepada orang spesial dan tidak pernah dia berikan untuknya.
"Gue masih menunggu jawaban Lo soal semalam, dan gue bakal bantu Lo untuk merebut Davin dari Kanaya. karena Davin lebih cocok dengan Lo dan bukan dengan Kanaya "
Bela menyimpan ponselnya,
Dia kembali menatap mereka dan akhirnya dia melakukan mobilnya pergi.
"Loh itu bukannya mobil Bela?" Ucap Kanaya saat melihat sebuah mobil melintas tepat di depan mereka duduk.
Davin menatapnya.
Dia pun mengernyit, apa yang di lihat Kanaya benar jika itu memang mobil Bela. Namun apa yang Bela lakukan di sana dan tidak mungkin Bela sengaja datang. mengingat Hotel tempat dia menginap cukup jauh.
"Kok Bela malah pergi sih."
"Mungkin Bela ada perlu Sayang, atau mungkin Bela tidak melihat kita di sini."
Kanaya mengangguk.
Dia sudah menganggap Bela seperti Dita, melupakan apa yang sudah Bela perbuat kepadanya saat itu.
Berbeda dengan Davin yang tampak curiga dengan sikap Bela, bahkan sejak keluar Siska di bawa pihak kepolisian.
__ADS_1
Pihak Hotel pun memberitahu dirinya jika semalam Siska datang menemui Bela namun mereka tidak tau apa yang dilakukan gadis itu karena pintu Hotel tertutup dan Siska hanya datang sebentar.