You Are My Life Kanaya

You Are My Life Kanaya
Bab 85


__ADS_3

Dita membuka matanya, semalam dia menangis hingga akhirnya tertidur.


Namun kepalanya terasa berat, dia pun beranjak bangun dengan dipaksakan.


"Ugh"


Pandangan yang bulai kabur, kepalanya terasa sangat pusing dan tidak kuat untuk bangun.


Akhirnya Dita pun kembali merebahkan tubuhnya.


Sedangkan di luar,,


Semua sudah menunggu Dita yang tidak kunjung turun, membuat orang tuanya khawatir.


"Dita tidak kuliah, kenapa jam segini belum turun"


"Biasanya sudah Yah, Coba Ibu ke kamarnya."


Dita masih berbaring, kepalanya benar-benar pusing.


dari kemarin dia sama sekali tidak makan dan hanya terus menangis.


"Dita, kamu sudah bangun Sayang."


"Masuk Bu"


"Astaga Dita, kamu kenapa Nak"


Dita menggeleng..


"Kepala Dita pusing Bu, bolehkan Dita ijin tidak kuliah hari ini."


"Kita ke rumah sakit ya Nak."


"Gak usah Bu, Dita cuma butuh istirahat saja."


"Tapi wajah kamu pucat, Ibu panggil Ayah dulu."


"Bu, Dita beneran gapapa. Istirahat sebentar nanti pasti baikan."


"Ya sudah, Ibu minta bibi siapin sarapan buat kamu.


Ayah dan Ibu ke kantor dulu ya Nak."


Dita mengangguk,,


"Telpon Ibu kalau badan kamu tidak enak."


"Iya Bu, Ibu sama Ayah hati-hati"


Dita kembali memejamkan Matanya, untuk hari ini lebih baik dia tidak kuliah dan istirahat.


_______


Revan terus mencoba menghubungi Dita namun tetap saja tidak bisa semua pesannya bahkan tidak di baca.


"Loh Kak Revan, tumben ke rumah gak bilang." Ucap Kanaya saat Revan sampai dirumahnya.


"Apa Dita menghubungi kamu De, dari kemarin Kakak tidak bisa menghubunginya."

__ADS_1


"Tidak Kak, terakhir ketemu juga di kampus."


Revan menghela napasnya,,


"Tunggu Kak, kalian tidak sedang ada masalah kan."


Revan menggeleng namun terlihat jelas wajahnya yang khawatir.


"Sebenarnya ada apa sih Kak, Aku gak mau ya terjadi sesuatu dengan Dita."


Revan menatap Kanaya,,


"Kakak ke rumah Dita dulu." Ucap Revan yang langsung beranjak dan menuju mobilnya.


Kanaya menautkan kedua alisnya, apa yang terjadi dengan mereka dan terlihat jika Revan begitu khawatir.


Tidak lama terlihat mobil Davin masuk, Davin melihat mobil Revan yang malah keluar.


"Itu bukannya Revan"


Kanaya mengangguk,,


"Terus kenapa malah pergi, dia mau jemput kamu sayang"


"Kak Revan cari Dita Kak, gak tau deh ada masalah apa mereka berdua."


Davin mengangguk,,


"Kita berangkat sekarang."


"Oke"


*******


Revan sampai di depan rumah Dita, dia melihat mobil Dita yang masih ada di sana berarti Dita belum berangkat.


Tok,,


Tok,,


Tok,,


Revan mencoba mengetuk pintu rumahnya, tidak lama pintu terbuka oleh pelayan rumah.


"Maaf mencari siapa ya?"


Revan tersenyum,,


"Saya temannya Dita, dia ada Di rumah kan Mba"


"Oh ada Mas, sebentar saya panggilkan."


Revan mengangguk dan berdiri menatap taman halaman rumah Dita yang cukup luas.


"Kak Revan" Ucap Dita kaget.


Revan menoleh,,


Wajah Dita yang masih terlihat pucat semakin membuat Revan khawatir.

__ADS_1


"Dit, Lo sakit " Ucap Revan menyentuh wajah Dita.


Dita menggeleng dan melepaskan tangan Revan.


"Kak Revan kenapa kesini, bukannya harus kuliah."


Revan menatap Dita , dia sangat khawatir dengan keadaan Dita saat ini apalagi Dita masih memakai piyama dengan wajah sangat pucat.


"Mending Kakak ke kampus sekarang." Ucap Dita akan menutup pintu namun Revan menghalanginya.


"Tunggu"


"Apa lagi Kak, apa semua kurang jelas gue gak memiliki perasaan dengan Kak Revan dan gue mau kita tidak lagi mengenal."


"Fine kalo itu mau Lo, tapi Plis Lo jawab alasannya kenapa."


Dita memejamkan matanya, dengan Revan seperti ini malah membuatnya semakin pusing tapi jika dia terus menghindar Revan pasti akan terus mengejarnya.


"Kita bicara di dalam" Ucap Dita dan mereka masuk ke dalam.


Dita sengaja mengajak Revan untuk duduk di taman samping rumahnya.


"Kenapa Lo mau kita jauh, selama ini kita dekat dan sama sekali tidak pernah ada masalah, apa gue pernah lakuin sesuatu yang buat Lo marah.


Dita Plis, jangan seperti ini."


"Semua itu karena status keluarga kita Kak, Kakak terlahir dari keluarga kaya sementara gue,- Ucap Dita menyeka air matanya.


"Dengan kita bersikap seperti dulu, itu akan lebih baik.


Menjaga jarak dan tidak sering bertemu." Lanjut Dita dengan tersenyum getir hatinya hancur dan sakit mengucapkan semua itu.


Revan menggeleng.


"Apa karena Siska, Lo salah jika pikiran Lo seperti itu.


Gue gak pernah melihat status keluarga siapapun, kita semua sama."


"Kak Plis,,-


Revan menatap Wajah Dita yang basah karena air matanya,,


"Gue gak mau seperti Kanaya, melihat Kanaya yang di bully gue takut dan sakit."


"Tapi gue gak akan pernah biarin semua itu terjadi sama Lo Dit, gue cinta sama Lo dan gue tidak memikirkan semua yang Lo pikirkan."


Dita menatap Revan,,


Sorot mata kejujuran yang terpancar di sana, bahkan wajah Revan terlihat tulus terhadapnya.


Dita menyeka Air matanya dan memalingkan wajahnya.


"Semua sudah jelas, Sekarang Kakak pulang"


Revan terdiam, jika hanya karena status keluarga sangat tidak etis.


"Gue bakal jauhi Lo, tapi Lo harus jawab satu pertanyaan gue." Ucap Revan menggenggam tangan Dita.


Dita menatap Revan yang kini duduk menghadapnya, genggaman tangan Revan yang begitu nyaman , tatapan matanya yang membuatnya tenang.

__ADS_1


"Apa Lo sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama seperti gue yang cinta sama Lo."


__ADS_2